Jumat, 06 Juli 2012

Penyesalan yang Terlambat

Malam ini, aku duduk mematung di depan jendela seraya menggenggam sebuah buku. Kedua telingaku tersumbat dua pasang headset yang menyuarakan sebuah lagu yang amat menyentuh. Lagu tentang sebuah penyesalan amat dalam. Perlahan kedua tangan ini membelai lembut buku yang sedang ada di pangkuanku. Sebuah buku tentang kamu, namun bukan tentang diriku. Kubuka lembaran pertama buku itu, kulihat namamu terukir indah bersama ribuan perasaan gundah akan rasa ini. Semuanya terlukis dalam buku itu. Hingga tanpa kusadari langit menitikkan air mata. Merasa bersalah padaku, karna tiap malam, aku selalu duduk di sini, menanti pesan darimu, dengan mengucap harap pada bintang.
Selalu dan selalu aku berkata menyerah. Tetapi aku belum mampu, belum bisa. Karena di setiap langkahku kamu ada. Di setiap mataku terbuka kamu hadir. Bintang selalu menuliskan namamu, awan seringkali menghias langit dengan senyummu. Tapi kamu, membatu.
Langit terus menangis, dan aku juga tak dapat mengelak. Tangis hujan bahkan tak mampu sebandingkan dengan ribuan debit tangisku untuk kamu. Hingga malam ini, aku menangis lagi. Bukan karena aku sedih kehilangan kamu, tapi aku sedih pada diriku. Karena aku amat bodoh. Baru menyadari bahwa aku salah sudah mencintaimu sejauh ini.. 

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting