Sabtu, 31 Agustus 2019

Sleep, I'll meet you in your dream




Seseorang pernah bertanya padaku,

"Apa hal yang paling kamu takuti?"

Banyak.

Banyak sekali.

Masa depan,

Hal baru,

Ketidakpastian.

Dan kita tetap disini, mengelilingi padang rumput hijau dengan bertelanjang kaki. Tangan kananmu melawan langit, menunjuk satu awan paling raksasa kemudian kamu berteriak lantang.

"Lihat itu."

Ujarmu.

Tanpa rasa takut.

"Kita bisa jadi apa pun di sini."

Angin siang itu menyapu ujung pipiku, kemudian kamu raih tanganku dan berlari menuju sungai kebiruan tak jauh dari tempat kita berdiri.

"Kita bisa memiliki apa pun di sini."

Tak ada suara yang keluar dari pita suaraku. Hanya senyum lebar dan detak jantung yang kencang. Takjub dengan tanah yang ku pijaki saat ini.

"Kamu mau apa?"

Kali ini pertanyaanmu membuatku terdiam cukup lama.

"Aku tahu," belum sempat kalimat terujar, kamu menyodorkan sebelah tanganmu tepat di depanku. Seolah mengatakan 'raih tanganku'.

Aku menggeleng samar, ragu. Tak mau.

Kamu tersenyum lebar seraya mengangguk. Seolah bisa melihat ribuan ragu yang terbang di atas kepalaku.

"Everything will be ok. Trust me, right?"

Angin berhembus lagi.

Teduh.

"Aku takut."



Raut wajahku mungkin seperti gadis kecil 5 tahun yang kehilangan orang tuanya. Namun,

Tanganmu dengan cepat menarik lenganku yang meski enggan, pada akhirnya luluh juga.

"Kemana kita?" tanyaku akhirnya.

"Ke tempat paling tinggi di dunia."

"Eh? Kamu tahu kan aku takut ketinggian?"

Kamu hanya melirik ku dengan senyuman simpul yang sulit sekali ditebak.

Barangkali, jika bisa ku sebut, kamu adalah orang paling berani yang pernah ku temui.

Tak lama, aku bisa mendengar debur ombak dan kicau burung yang sibuk mencari makan untuk dibawa ke sarang.

"Di mana kita?"

"Di tempat, di mana kamu tidak akan pernah merasa takut."

Keningku mengernyit. Kembali meragu. Lagi.

"Aku bisa mengubah awan di sana menjadi es krim vanilla kesukaanmu."

"Bagaimana caranya?"

"Apa kamu percaya padaku?"

Kamu menyodorkan tanganmu lagi. Kemudian menarik tanganku.

"Kamu percaya padaku?" tanyamu, mengulang kembali pertanyaan yang belum kujawab.

"Bagaimana jika aku bilang, bahwa segala yang kamu inginkan ada di balik ombak beriak itu?"

Aku kembali terdiam.

"Kamu percaya padaku?"

Tanpa basa-basi, kamu meraih tanganku dan menjatuhkan diri ke tengah buih ombak kelaparan dari tebing yang sama sekali tak pernah kubayangkan seberapa tinggi.

Sleep,
I'll meet you in your dream
Sleep, 
We'll have fun in the scene

And we go catch the fireflies together
And we go fly the kite in the ocean
And we go jump and climb into the sky

Kemudian, aku terbangun

Pagi sekali, seseorang mengetuk pintu kamarku.

"Hey bangun, udah pagi!"

Sinar matahari datang dari sela-sela tirai kamar yang sengaja ku buka sejak semalam tadi. Suara gayung dan air samar-samar terdengar dari arah luar.

Di tangan kananku, masih terpasang jam tangan kayu dan kemeja kotak-kotak yang kupakai semalam. Tertidur aku rupanya.

Tiba-tiba, sebuah pesan datang.

"Good morning. I am sorry about yesterday. Maaf karna bikin kamu sebel, hope today will be better. Jangan lupa senyum, biar makin cantik."

Barangkali, mimpi indahku tak selalu indah. Begitu pula mimpi burukku, yang tak selalu buruk.

Sebab, aku hanya butuh 1 keberanian darimu untuk mengusir berjuta rasa takut yang kumiliki.

Selamat datang, selamat berjuang.


 

Template by Best Web Hosting