Kamis, 23 Agustus 2012

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Kenyataan Pahit


  
Aku tak pernah sekali pun menyalahkan sesuatu yang mereka sebut Cinta, hanya saja, aku membenci caranya... Membenci Cinta yang datang tanpa seijinku, membenci Cinta yang tumbuh dengan derai air mataku, membenci Cinta yang lahir karena ketidakmampuan diriku..

Mentari kian meninggi. Sementara Venisia masih berharap keajaiban akan terjadi hari ini. Pelajaran Pengetahuan Sosial, atau lebih tepatnya ekonomi ia lewatkan hanya untuk menantikan kesempatan langka. Ya, tidak benar-benar langka, hanya saja jarang adanya. Saat di mana Veni bisa melihat keagungan tuhan dalam menciptakan. Menciptakan pangeran seperti Varis.
                Veni berjalan di lorong sekolah seraya memasang matanya waspada. Ia menilik gerombolan kelas senior memalui celah dedaunan.
                Ia mendengus sekali. “Ini lebih baik, dari pada aku harus duduk di kelas sampai pantatku panas. Cuci mata.”
               Tanpa ia sadari, Veni terus memerhatikan gerik Varis. Mulai dari ciri khasnya bermain bola sepak di lapangan kala itu. Hingga berapa kali Varis dimarahi guru karena melanggar aturan permainan bola sepak, Veni masih ingat.
                Tak lama, seorang teman wanita Varis mendekat ke arah sang pangeran yang masih terengah napasnya. Teman sekelas Varis yang manis dan populer itu kian mendekat. Gadis itu mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuah botol air mineral. Tepat didepan Varis yang beberapa inci lebih tinggi dari gadis itu.
                “Hyah!! Ngapain kakak kelas itu?” dengus Veni kesal.
                “Varis, ini, minum ya. Kamu udah berusaha keras, kenapa sih itu guru malah marah ke kamu?” gadis di hadapan Varis tersenyum manis, terlalu manis hingga membuat Veni mual melihatnya.
                Varis hanya mengangkat sebelah alis seraya menerima tanpa banyak bicara. “Gila, di saat ada cewek yang baik sama dia, tuh cowok masih sempat sok Jaga Image gitu?!” rutuk Veni tiba-tiba.
                Berselang berapa menit, seseorang datang dan menepuk bahu Veni perlahan. “Bentar, tanggung, bentar lagi pelajaran olahraganya selesai,” timpalnya. “Bentar lagi balik ke kelas kok, tenang, Kay.”
                “Venisia Eka, sepertinya kamu tadi absen pada pelajaran saya, kenapa kamu ada di sini?” Seseorang menepuk bahu Veni sekali lagi.
                Veni mengedipkan mata untuk memastikan ini nyata. “Oh.. Eh.. Ih.. Anu.. iya.. kenapa ya? Oh iya, saya tadi ada urusan sama wali kelas. Mangap, Bu, Eh, aduh, Maaf Bu! Lain kali kalau saya ada keperluan mendadak akan konfirmasi terlebih dahulu. Maaf,” sesal Veni.
                Sang guru yang melotot setengah heran seperempat bingung hanya bisa mengiyakan dan pergi entah kemana. “Untung, Hufffttt,” Venisia menepuk dadanya lega. Lantas ia kembali ke tujuan semula dan ia mendapati Varis telah tiada.
                “Kemana tuh orang?”
^^^
                “Ven, akhir-akhir ini nafsu makan kamu makin tinggi. Terus kemaren, eh nggak deh, tiap hari Rabu, kamu selalu ngilang tanpa ijin aku. Kemana? Kamu juga sering senyum nggak jelas.”
                Veni mengurungkan niatnya melahap roti isi selai kacang dan menatap mata sendu Kayla, sahabatnya.
                Sejenak ingatan akan Varis berterbangan di benaknya. Ingatan yang berjalan seperti gulungan film bisu. Di mana Veni bisa melihat Varis yang tertawa renyah, di mana Veni bisa melihat Varis tersenyum manis, di mana Veni bisa melihat Varis meringis menahan pipis.
                “Ven? Halooo..,” Kayla mengayunkan tangannya di depan wajah Veni. “Kenapa sih?”
                Veni mengulum senyum yang susah dipahami. “Jangan tanya kenapa, Kay. Karena aku juga nggak tahu sebenernya kenapa aku ini.”
                “Aneh. Eh btw, tahu nggak Kak Varis kecelakaan kemaren. Sepulang sekolah. Udah tahu belum?”
                “Apa? Sumvah? Serius? Pantes perasaanku nggak enak sejak kemaren! Seharian ini juga belum kelihatan! Di mana, di mana dia sekarang? Siapa yang nabrak? Siapa? Kenapa bisa ketabrak? Siapa saksi matanya?! Jam berapa kejadiannya?”
                “Mulut lo sampek berbusa ngomong segitu banyaknya. One by One, okehh? Semua butuh proses, jangan langsung...”
                “Sekarang gimana keadaannya? Dia nggak kenapa-napa kan? Iya kan?”
                “Ven, heran deh sama kamu. Dia juga bukan siapa-siapa kamu kan? Kenapa heboh sih? Aku aja yang satu ekstrakulikuler biasa aja. Paling juga luka dikit tuh orang, lagian pasti dia yang ngebut. Cowok berandalan, keras kepala, sombong pula. Nggak kaget kalau ada insiden begitu.”
                “Ya, tapi kan dia juga manusia. Kalau kakinya patah, terus diamputasi gimana? Atau.. dia hilang ingatan?”
                “Imajinasi tingkat tiinggi! Auk ah, gelap. Tanya aja sama Mirna dan kawan-kawan, dia kan gudangnya gosip.”
                “Wokeh, bener. Gue ke Mirna, dadahhh!”
                “Eh, tega! Jadi gue sendirian nih? Heh! Veniiiiii!”
^^^
    Kenapa? Kenapa? Kenapa aku terus melontarkan pertanyaan kenapa?
               Berulang kali aku menyadarkan diri, bahwa aku bukan tipemu, bahwa  aku tak ditakdirkan bersanding denganmu. Kenapa? Kenapa aku selalu mengharapkan hal yang tak mungkin terjadi?

                Venisia membenamkan kepalanya begitu dalam di atas bantal berbentuk kepala monyet coklat. Pikirannya kalut. Seakan ada benang kusut yang membuat otaknya berhenti bekerja. Veni bingung. Ia gundah, resah, dan mulai putus asa.
                “Varis, kenapa kamu selalu buat aku khawatir?”
                Veni terus dan terus mendesah resah. Andai saja Varis benar separah yang ia bayangkan, harusnya ia berada di sampingnya, di sisinya, tapi itu hanya mimpi, hanya imajinasi yang tak bisa terjadi.
                “Mirna bilang, Varis Cuma keserempet. Jadi pasti Cuma luka dikit, pasti! Jangan mikirin dia terus! Jangan!”
                Venisia berulang kali menyadarkan diri. Berusaha mengubur dalam-dalam gambaran senyum Varis. Mulai dari membaca buku, bermain game, hingga mendengarkan musik sudah ia lakukan untuk menghapus memorinya tentang Varis. Yang ada, musik dalam handphonenya yang didominasi musik melankolis justru membuatnya semakin tenggelam dalam bayang Varis. Terutama ketika lagu lama dari DBSK dengan judul ‘How Can I’ berkumandang di kedua telinganya.
                “Venisia! Berhenti pikirkan Varis! Lihat dirimu! Lihatttt, kamu pendek, berisi, dan nggak putih! Sadar! Varis itu pangeran, dan kamu hanya rakyat yang tak dibutuhkan!”
                Bahu Venisia mulai bergetar ketika ia menajamkan pendengarannya. Meresapi arti dari lagu yang masih melantun lembut di gendang telinganya. Perlahan, amat perlahan, benda bening itu mengalir lembut melalui celah pipinya yang bulat. Tangis tulus yang sebelumnya tak pernah ada kini menabiri wajahnya. Menyelimuti kepolosannya.
                Kenapa?
^^^








Kang In Oh, haha >.<

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting