Selasa, 07 Agustus 2012

Mengukir Rasa #Special '-'

Tetesan peluh membanjiri tubuhku yang terbalut pakaian olahraga. Sekuat tenaga aku berusaha berlari meski tubuh ini berkata tak bisa. Kurang setengah putaran lagi aku mencapai garis finish, namun, kedua kakiku serasa mati. Aku menyerah dan pasrah. 2 kilometer bukan jarak yang pendek bila aku harus mengitarinya hingga tiga kali. Seketika, aku merasa nyawaku pergi entah kemana. Napasku terengah. Kurasa, pelajaran olahraga kali ini, tak akan pernah menjadi lebih baik semenjak hari itu. Kuingat saat itu, ketika tubuhku butuh pertolongan, kamu datang. Kamu hadir meski kamu tahu, ini bukan saat yang tepat.
"Nay, kamu nggak papa?"
Aku menengadahkan kepala ketika menatap matamu yang beberapa senti di atasku. Kamu mengukir senyum yang mungkin mampu membuat seseorang pingsan.
"Eh, nggak. Aku masih kuat, kok."
"Yakin?" Kamu mengerutkan kening ragu.
Kuanggukkan kepala. Namun, perasaan risaumu tak sedikitpun goyah. "Kalau gitu, kita lari bareng. Takutnya, kalau kamu kenapa-napa, ada aku yang langsung nolongin. Nggak lucu kalau kamu pingsan di tengah jalan."
"Kamu ngelawak?" Jawabku asal.
Kamu menekuk kening kembali. "Menurut kamu?"
Aku tersenyum tanpa sadar. "Nay, ayo buruan! Kejar kalau bisa!" aku tersadar dan mulai mengikuti arus larimu. Dan mulai saat itu, aku tahu, aku sadar, kamu, adalah hidupku, semangatku.

Aku merasa sendiri. Tak adanya dirimu, sama seperti hilangnya setengah debit napasku. Aku kian terengah tanpa adanya senyum penyemangat darimu yang indah. Hari ini, akan menjadi hari yang perih. Bukan hanya hari ini, tetapi seterusnya, selamanya.

Aku ingat, ketika kamu memberiku hembusan angin semangat yang samar namun menyejukkan. Tetapi,  hembusan semangat yang kamu beri kini tak ada lagi. Hidupku kering, gersang.


Pengorbanan yang aku buat kala itu, semata-mata bukan karena egoku, bukan karena emosiku. Tetapi ini yang terbaik, untuk kamu, untuk aku, dan untuk sahabatku.

Aku tahu benar, itu menyiksaku, tetapi semua akan lebih tercekat bila kamu tetap disini. Dan untuk Kesha, maaf sudah membuatmu terjebak dalam labirin kisahku ini...





(Mengukir Rasa, Special Edition ^-^)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting