Minggu, 17 Juni 2012

Malam ilham

Angkasa berhenti memasang cahaya terang benderang. Berganti malam yang kian tenggelam. Dalam diam, aku mampu mendengar degup hati ini di tiap hembusan napas yang keluar. Sesekali, mata ini menatap putus asa sebuah benda dengan tiga jarum yang berbeda panjangnya. Mengapa? Mengapa harus ada waktu? Mengapa disetiap ada yang diawali pasti akan diakhiri? Mengapa setiap ada yang datang, maka ada yang pergi? Mengapa sesuatu yang dimulai pasti kan di akhiri?
Kesunyian telah menyergapku, membelenggu malam hingga nyaris tak ada kata terlontar dari bibirku. Tubuhku membeku. Lidahku kelu. Sekali lagi hela napas ini keluar dengan beratnya. Tetap dalam kesunyian aku berujar dalam batin. "Kenapa? Kenapa harus ada yang berlalu? Kenapa?!"


Waktu terus melaju. Jantungku terus berpacu. Dan.. hanya satu kata yang bisa aku katakan. "Aku, nyaris kalah."

Mata ini terpejam. Berusaha meresapi nyanyian malam yang lambat-lambat telah mengilhamiku sesuatu. Mengilhamiku sesuatu yang mampu mengangkatku dalam belenggu ini, sesuatu yang harusnya bisa mengentasku dari segala tekanan ini. Ya, itulah malam itu. Aku... harus mulai membuka mata hati, dan telinga ini, bahwa sejuta cara bisa datang padaku, meski di tengah kecamuk tekanan yang terngiang itu. Bahwa malam itu, segala sesuatu tentang diriku berevolusi, bermetamorfosis menjadi diriku yang jauh lebih indah. Menjadi Annisa yang semula semu, menjadi Annisa yang penuh rona Cahaya dan Tawa....

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting