Jumat, 18 April 2014

Dia, Kamu, dan Duniamu


        Masih ingatkah kamu bagaimana kita bicara tentang pemusik kesukaan kita? Berlomba-lomba menyebutkan lagu apa saja yang kita tahu. Dan nyatanya aku kalah. Kamu jauh lebih tahu. Seluk beluk mereka, lirik lagu mereka.
        Aku duduk di depan pohon kamboja berbunga merah muda. Di depan kelasku. Mengingat betapa sekat yang kini tercipta membuatku tak bisa leluasa. Bukan ini yang kumau. Tapi, arus itu menyeretku pada arus yang deras. Memecah arus kita menjadi dua. Ke sungai dan ke danau. Dan aku terjebak di arus yang berbahaya.
        Sebuah pesan bertandang di layar handphone ku...
        Aku hanya melirik sekilas seraya menghela napas. Entah mengapa perkataan salah seorang sahabatku kembali membuat nadiku berpacu.
        "Kalau dia udah kayak gitu, kamu nggak bisa diam aja. Maju. Kamu udah terlalu sabar."
        Aku melihat kamu datang dari kantin. Seperti biasa, wajahmu datar.

        Sekali lagi aku merutuk diri sendiri.

        Sebuah pesan kembali bertandang.

        Aku bangkit dan mulai duduk di jajaran bangku. Kamu, ada di belakangku. Tenggelam dalam duniamu. Memeluk gitarmu seolah kamu jatuh cinta padanya.

        Jemariku mulai sibuk membalas pesan. Akan tetapi, ketika untuk kali pertama, aku mendengar kamu bernyanyi, seluruh tubuhku membeku. Sebuah lagu cinta. Tak seperti lagu yang biasa kamu nyanyikan.

        Mungkin saja kamu baru bertemu bidadarimu?

        Tanpa kusadari, mataku berkelana. Ke arah gadis itu. Orang yang mungkin menyayangimu. Sama seperti kamu yang menyayanginya...

        -Rain's Tears-

1 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting