Sabtu, 08 Desember 2012

Kepingan Bumi-Lomba Menulis Aku dan Sahabat Disabilitasku


Kepingan Bumi
Disabilities...
         Medengar kata itu, mungkin yang terbayang di benak kita ialah suatu ketidakmampuan yang merepotkan. Benar bukan?
         Suatu hal yang kita anggap berbeda selalu mendapat tentangan. Bahkan mendapat cacian meski hanya di balik badan. Mengapa harus ada perbedaan jika tuhan menciptakan kesatuan? Inilah dunia, yang tak segalanya harus jadi sempurna.
        Tuhan pernah bilang, manusia itu diciptakan sebaik-baiknya, bukan? Namun, bagaimana dengan orang cacat mental? Cacat fisik? Autis? Entahlah, aku tidak tahu.
Banyak sekali orang yang mengesampingkan mereka. Menganggap mereka warga kelas tiga. Yang pertama, jelas orang kaya, yang hidup bergelimang harta namun lemah dalam arti hidup yang sesungguhnya. Yang kedua, warga menengah ke bawah, yang setiap harinya bekerja banting tulang dan sadar benar apa itu arti kehidupan. Yang ketiga, yang paling kejam di antara dua lainnya, ya, ‘warga buangan’? Di sejajarkan dengan orang gila dan hilang akal. Di samakan dengan sampah yang sudah seharusnya dibuang. Dikucilkan seakan mereka membawa penyakit mematikan yang menular. Orang autis, cacat mental, fisik, apa mereka salah telah dilahirkan di dunia? Mengapa mereka harus menerima label warga terbuang?
       Disabilities adalah sedikit dari banyak masalah yang mendera. Tapi banyak dari kita yang menganggapnya luar biasa. Para penderita diabilities tentu tak pernah menyangka dari sekian juta manusia, merekalah yang kebetulan menjadi 'satu' diantara sejuta itu. Tapi mereka berusaha menerimanya. Memahami dunia masih terlalu indah untuk diratapi. Disabilities bukanlah sebuah kekurangan atau bahkan kutukan. Itu hanya pilihan tuhan yang telah menorehkan takdir dalam lembaran-lembaran tersembunyi.
       Para penyandang disabilities seringkali dipandang sebelah mata. Tentu hal itu memberikan sekat tak kasat mata yang membuat mereka tak leluasa untuk berkarya. Mereka sama seperti manusia normal lainnya, mereka bernapas dan menyantap nasi. Mereka bisa tertawa dan ingin bahagia. Mereka punya nurani dan ingin dicintai. Lantas, mengapa dunia memberikan ruang yang berbeda antara kita dan mereka? 
       Ada beberapa jenis disabilitas yang kita kenal. Mulai dari tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunanetra, tunagrahita, dan lainnya. Ada sekian banyak manusia yang memiliki disabilities. Dan tiap kali mengingatnya, amat membuat hati ini miris.
tunagrahita
       Ada sebuah kisah singkat yang pernah aku alami. Meski singkat, mampu membuatku terperanjat. Di Surabaya, di rumah nenek, seorang tetangga memiliki anak penyandang disabilities. Lebih tepatnya tunagrahita atau cacat mental. Anak itu sudah berumur enam tahun, namun fisiknya terlihat masih umur empat tahun. Ia susah bicara dan kurang mengerti apa yang dibicarakan orang. Keluarga itu baru pindah beberapa minggu yang lalu.
       Kala itu, aku baru tahu ada tetangga baru. Suatu hari, tiba-tiba adik kecil berambut cepak masuk ke rumah nenek tanpa berkata apa-apa. Ia begitu saja duduk di depan televisi, mendekati sepupuku yang tengah seorang diri melihat TV sementara aku berada di ruang kamar. Ku lihat sosoknya lekat-lekat. Ternyata, anak yang bernama Rio itu hendak mengajak sepupuku yang berumur 2 tahun bermain. Namun, Rio tidak tahu caranya, cara bermain Rio dan anak normal lainnya berbeda. Rio gemas dengan Nazwa, tetapi ia mencubitnya sekaligus menggigitnya, dan membuat Nazwa berderai air mata. Mendadak Paman muncul dan menyuruh Rio keluar dengan cara yang tak terpikirkan olehku. Seketika aku terpaku memandang kejadian itu.
       Paman menyeret Rio keluar, kemudian berteriak memanggil sang Ayah. Tak berapa lama, kembali dan mengunci pintu rapat-rapat. Haruskah ia bertindak sekasar itu? Rio tak punya maksud apa-apa, ia hanya ingin bermain saja, ya, hanya itu.. Apa yang salah?
       Beberapa lama aku terdiam. Hingga akhirnya aku beranjak keluar, mencari sosok kecil itu di depan rumah. Ya, ternyata ia masih di sana. Bermain dengan sepatu merah milikku. Aku menilik sekeliling, tak ada siapa pun, meski sempat aku mendengar suara Ayah Rio, tetapi tak satu pun aku dapati orang dewasa, yang ada hanya lelaki kecil luar biasa yang tertawa ria bermain sepatu berwarna merah di sana. Tanpa ku sadari, kedua sudut bibir ini terangkat, bersamaan dengan jatuhnya setetes air mata yang ada entah mengapa. Lantas aku menghampirinya. Berbagi sedikit waktuku untuknya.
       Sejak saat itu, pikiran ku sedikit banyak mulai terusik. Jauh di dasar hati ini, ada setitik perhatian yang ingin aku salurkan untuk para penyandang Disabilities. Tapi, aku tak tahu bagaimana caranya.
       Kisah itu mengingatkanku pada sebuah film mengenai Disabilities, namun bukan cacat yang muncul sejak lahir. Suatu cacat tubuh yang baru muncul setelah berumur lima belas tahun. Judulnya "1 Litre of Tears" sebuah film Jepang yang amat menguras air mata. Sebuah film berdasarkan kisah nyata yang dibuat tahun 2005.

       Dalam kisah itu, sebuah penyakit bernama Spinocerebellar Degeneratif  menyerang seorang gadis berumur lima belas tahun yang sangat aktif di sekolah. Penyakit itu ada karena kelainan otak kecil. Penyakit itu lamat-lamat membuat tubuh kehilangan daya koordinasi hingga akhirnya lumpuh dan tak bisa bicara. Satu kalimat yang pertama ia tanyakan ketika menerima diagnosa ialah, "Mengapa Tuhan memilih aku?"

one litre of tears
       Perlahan namun pasti, banyak orang yang meninggalkannya, termasuk orang yang disukainya. Usaha dagang sang orang tua sepi semenjak berita akan anaknya tersebar. Ia merasa tuhan amat tak adil. Namun, keluarga selalu ada disisinya. Waktu seakan berhenti ketika diagnosa itu disampaikan sang dokter. Terlebih, ia adalah siswa populer di sekolah, ia seorang anggota tim basket dan ketua kelas. Tapi, ketika penyakit itu menimpanya, banyak teman yang menutup mata akan kehadirannya. Meski begitu ia bersyukur karena ada sahabat yang selalu menghiburnya. Hingga suatu hari, ia harus pindah ke sekolah untuk penyandang disabilities. Sekolah yang kita kenal dengan sebutan SLB (Sekolah Luar Biasa).
       Satu cita-cita yang ingin ia raih, ia ingin hidupnya berarti, meski di tengah penyakit yang diembannya. Ia ingin hidupnya bermanfaat untuk orang lain. Setiap hari ia menuliskan kisah yang ia alami dalam diary. Hingga orang tuanya pun menerbitkan seluruh puisi dan tulisannya. Buku itu hingga kini telah terjual sekitar 18.000.000 buah. Dan buku itu benar-benar membuat manusia sadar, bahwa tak ada sesuatu yang pantas untuk disesali, karena tuhan tentu memiliki alasan untuk setiap kejadian. Dari kisah itu, banyak yang tersadar. Termasuk aku.
         Jika kalian pernah mendatagi Sekolah Luar Biasa, maka kesan apa yang kalian dapat? Siswa lemah yang butuh uluran tangan? Atau para siswa luar biasa yang memiliki semangat empat lima? Suatu ketika, aku pernah melewati sebuah SLB. Di sana, aku melihat beberapa penderita disabilities. Mulai dari tunarungu, tunawicara, tunadaksa, dan lain-lain. Aku terenyuh melihat atmosfer di sana. Ada satu anak yang menyita perhatianku. Aku kurang tahu apa jenis disabilities yang dideritanya, namun, aku lihat sang ibu menggendong lelaki kecil itu dipunggung. Sekilas aku melihat jam tangan, waktunya mereka pulang.
      Lidahku terasa kelu melihatnya. Aku terpaku dalam hening yang tak terlukiskan. Bahuku bergetar. Kulihat lelaki kecil itu tertawa. Sang ibu menggendongnya dengan senyum merekah. Sungguh, tak ada tempat terindah di dunia selain keluargamu. Karena hanya di mata keluargamu, hadirmu amat dinantikan. Dan seketika itu aku berlari menuju ke rumah, berharap segera bertemu ibu. 
     Aku sering termenung. Kenyataan selalu sulit untuk diterka. Paradigma masyarakat mengenai penyandang cacat selalu membuat air mataku ingin mengalir. Bukankah seluruh manusia sama di mata Tuhan? Tapi mengapa dunia tak berpihak pada mereka? Mengapa?
     Lain kisah, lain cerita. Kala itu, aku mengikuti suatu lomba menulis di Jakarta. Di sana aku bertemu penderita tunanetra bernama Shena. Remaja lelaki itu memiliki semangat yang menggebu. Dalam suatu wejangan makan malam di sebuah restoran, Shena yang ditemani oleh sang guru berusaha menghibur kami di sana. Ia bicara denganku, bertanya siapa namaku, dan ia duduk di sebelahku. Aku dan finalis lainnya tertawa di buatnya, terutama ketika sang guru menyodorkan sambal. Aku terpukau oleh semangat Shena. Ia masuk nominasi juara melawan peserta normal lainnya. Sungguh aku berterima kasih atas kehadirannya. Sekali lagi, orang semacam Shena membuatku sadar.
       Dalam acara pemberian hadiah, Shena memberikan sebuah sambutan. Ia berkata, “Saya, Shena. Saya tahu siapa saya. Kami para tunanetra ingin semua orang memandang kami sama. Saya ingin kita sama-sama berjalan bersama, karena saya dan tunanetra lainnya tak ingin dipandag sebelah mata. Terima kasih atas penghargaan ini, saya berharap penghargaan ini bukan suatu ajang rasa kasihan untuk kami, namun untuk apresiasi terhadap karya.” Detik itu juga, air mataku merebak dibuatnya.
     Banyak hal yang tanpa aku sadari terjadi di dunia ini. Seringkali aku menganggap aku adalah orang paling tak beruntung, namun sebaliknya, aku adalah orang yang beruntung, karena masih banyak yang kekurangan. Kadangkala aku tak bersyukur dengan apa yang aku punya, dan kini, semua itu perlahan sirna karena Rio dan Film itu telah mengetuk pintu hatiku, membukanya dan mengisinya dengan jutaan harapan.
     Jika tuhan menunjuk kamu yang menjadi satu dari sekian juta manusia di dunia untuk menyandang ujian itu, apa yang akan kamu perbuat? Apakah kamu yakin kamu bisa kuat?
Kupikir, sudah saatnya masyarakat Indonesia memahami kondisi ini. Bahwa para penyandang cacat bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, tapi sebaliknya. Mereka harus disayangi. Banyak orang cacat yang justru lebih maju dibanding manusia normal lainnya. Banyak para keterbelakangan fisik yang lebih menghargai diri. Harusnya itu memberikan cerminan untuk kita yang seringkali memandang remeh diri sendiri. Tak yakin akan kemampuan diri.
     Jadi, mulai detik ini, buka matamu, nuranimu, bahwa adakalanya tuhan menciptakan kekurangan untuk menuju kelebihan. Tuhan menciptakan perbedaan untuk membuat kita belajar membuat kesatuan. Karena manusia adalah satu. Karena itu, genggam tangan mereka, rengkuh bahunya, dan berkacalah dari mereka, karena mereka bagian dari kita. Kita harus menyatukan kepingan-kepingan itu menjadi kesatuan. Menyatukan kepingan perbedaan di bumi dan menjadikannya satu. Karena Tuhan menciptakan manusia untuk saling melengkapi. Bukan untuk saling membenci.


-annisa-




0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting