Senin, 14 Januari 2013

9001

Langit di atas kepalaku memandangku kelabu. Suasana pulau Bali kali ini, berbeda dari hari lainnya, karena ini minggu kedua dibulan Januari yang kaya akan hujan. Aku sadar itu. Berharap akan ada mentari yang terbenam di ujung lautan, mungkin harapanku terlalu terbentang.
Setidaknya, kenangan akan Bali tak seluruhnya datar. Ada segelintir kenangan tak terlupakan yang tertorehkan. Kenangan tentang senyuman dan keindahan. Ialah 9001. Begitulah caraku memanggilnya. Mengenalnya. Mengingat sosoknya.
Jika waktu benar-benar telah menjamah duniaku begitu dalam, seharusnya aku sadar, bahwa 9001 terlalu cepat untuk membuatku melupakan dunia fana. Membuatku tenggelam dalam kekaguman yang tak tergambarkan.
Ah, mengapa kita bertemu jika akhirnya terpisahkan? Mengapa aku mengingat senyummu jika pada akhirnya aku tak dapat melihat ukiran senyuman itu lagi suatu saat?
DK 9001 HO. Apa yang spesial dari semua itu?
Hari itu, dengan tak ada semangat yang tertera, aku melangkah bak manusia tak punya nyawa. Melihat pertunjukkan barong? Jelas hanya akan membuatku menguap tanpa mengerti alur ceritanya.
Aku dan tiga sahabatku duduk di salah satu bangku yang berada di tengah. Sejenak napasku menghela. Dalam diam aku bergumam, "apa yang menarik?"
Beberapa turis mulai memasuki ruang, bersamaan dengan dentingan gamelan yang membahana. Tak lama, pertunjukkan dimulai. Ada manusia menjelma menjadi harimau yang keluar, monyet, dan sebagainya, yang jelas aku sama sekali tak mengerti alur cerita.
Beberapa menit berselang, satu persatu siswa berseragam batik datang. Wajah mereka seperti wajah sunda, karena berkulit putih bersih. Hingga akhirnya perhatianku tersedot pada sosok tinggi berkamera. Ia ada di sana. Di sebelah tiang membawa kamera dan membidik beberapa kali posisi.
Wajahku menghadap ke pertunjukkan, tetapi mataku berkelana mencari sosok itu. Mencari ia mengulum senyum disela pertunjukkan. Ya, ia di sana. Tertawa. Bebas. Lepas.
Usai pertunjukkan, semua keluar ruangan. Namun aku tetap menantikan. Menanti aku bisa berpapasan dengan sosok bersenyuman menawan.
Beberapa kerikil membuat langkahku terseok ketika keluar ruangan untuk menuju bis, hingga akhirnya sosok itu muncul. Membawa kamera dan terus tersenyum ramah, meski kutahu itu bukan untukku. Kamu masuk ke bis berplat nomor DK 9001 HO dan di luar kepala aku bisa mengingatnya. Mematrinya. Memberi namamu sesuai nama bis itu.
Aku tidak tahu rasa apa ini, yang jelas aku merindukan 9001. Merindukan senyum itu. Hingga senja bertolak, aku tak dapat mengelak. Melihat burung berterbangan pulang, benakku melayang. Ah, apa kamu juga memandang burung yang terbang, mengatakan betapa indahnya mereka di sana. Bersama, mengarungi langit senja yang megah.
Mengingat 9001 membuatku merasa berharga pernah meniti kaki di Bali. Bahwa Bali memang pulau yang luar biasa. Apa saja bisa terjadi di sana. Termasuk jatuh cinta.
Dan meski aku tak tahu di mana 9001, aku akan selalu menunggu. Menanti sesuatu terjadi di tengah senja hingga akhirnya senyum itu datang dengan tangan terbuka. Berkata bahwa Balilah yang menyatukan kita...

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting