Senin, 28 Januari 2013

Petikan Hujan

Pulang sekolah, sang cakrawala telah beriring kelabu dengan gurat kelam tanpa adanya biru. Entah di mana dan kemana sang mentari pergi, hingga di atas sana tak ada secercah cahaya pun yang terpancar. Mungkinkah mentari hanya lelah karena semua manusia mecercanya dengan kata penuh amarah. Karena mentari selalu menyiratkan panas yang membuat semua keluhan itu muncul. 
Kini, hujan telah datang. Menggantikan senyuman cemerlang dari mentari dengan titik-titik embun yang menggantung di sudut dedaunan. Kau dapat mendengar melodi rintih yang mengingatkanmu pada perih. Pada situasi di mana kamu pernah merasa sendiri. Dan itulah yang dilakukan hujan.
Hujan seolah membawa pesan dari langit padamu. Menyuruhmu mengungkit kembali memori-memori pedih. Hujan menyeretmu kembali ke masa dirimu dulu. 
Ketika hujan datang, dengarkan mereka menyebut asmamu. Rasakan mereka tengah berusaha menggapai duniamu. 
Bahwa hujan hanya ingin mendendangkan nyanyiannya dalam bentuk petikan hujan. Melodi tak pasti yang menyiratkan arti. Arti yang hanya kamu dan hujan itu sendiri yang mengetahui...

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting