Selasa, 18 September 2012

Antara Terpenjara dan Terluka

Sepenggal kisah tak akan benar-benar bermakna ketika tokohnya tak benar mampu memerankannya  dengan baik. Secarik naskah penuh luka tak akan benar-benar menggetarkan jiwa jika penulisnya tak menuangkan hatinya dalam naskah dengan iringan suka cita. Dan, semua itu tak semudah yang kau bayangkan. Ketika jemarimu dengan mahirnya bergerak mengikuti kata hati tanpa pernah sadar di mana dan siapa dirimu, akankah semua akan menjadi lebih baik?
Dunia tak seperti segumpal atau bahkan sebutir kelereng yang dengan mudah kau pindahkan. Duniamau mungkin seluas jagat raya dan bahkan tak terhingga luasnya ketika jemarimu yang meniti jalan. Ketika, pikiran dan hatimu dikendalikan oleh nurani. 

Setiap saat kamu menulis. Menulis apa pun yang terbayang dan menyeruak di benakmu. Namun, terkadamg lisanmu terpenjara ketika bertatap muka bersama manusia lainnya. Lantas, akankah hanya dengan mengarungi kehidupan melalui tulisan yang kau toreh itu, dunia akan berpihak denganmu?

Kadangkala, kenyataan memang menyakitkan. Tatkala bibirmu bergerak dan menyuarakan isi hatimu, tak ada satu pun orang yang memalingkan matanya hanya untuk sekadar menganggapmu kasat mata. Mereka tak acuh, karena itulah kamu menyuarakan kekesalanmu dalam tulisan.

Namun, sekali lagi, dunia memang berada di tanganmu, tetapi tidak selamanya terlahir dari jemarimu. 


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting