Sabtu, 01 September 2012

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Awal yang Rumit



                Apa bisa? Setiap mili tangis yang terbuang karena kamu, maka setiap debit rasa yang memekakkan hatiku juga akan meluruh? Apa mungkin? Setiap luka yang kamu torehkan dalam hatiku, mampu membuat aku membencimu dan membuatku melupakanmu?

                “Veniiiiiisiiiiaaaa!!!!”
                “Iya, sory. Beneran aku lupa! Maaphhhh, Kay!”
                “Nyebelin! Sekarang nilai kita dikurangi kan?!”
                “Yaa... Mau gimana lagi, Kay,” Venisia hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. “Maaf. Eh, gimana kalau kamu aku traktir makan?”
                “Veni, aku ngerasa banyak hal berubah dari kamu. Kamu yang dulu polos dan selalu rajin kerjain tugas, sekarang berubah.”
                “Eh? Maksudnya?”
                Kayla mengedikkan bahu. “Nggak tahu, aku juga nggak tahu harus gimana jabarinnya.”
                “Aku sebenernya juga ngerasa. Nggak tahu kenapa.”
                “Apa karena Aldi? Cowok tetangga kamu yang katanya ngejar kamu sampek ke ujung bumi itu? Yang tiap detik, menitnya diisi dengan nge sms kamu pesan sok manis itu? Karena dia? Kamu jadi nggak fokus?”
                Veni menggeleng yakin. “Bukan, bukan dia. Sama sekali bukan dia. Aku udah nggak peduli sama dia, meski sampek dia jatuh dari gedung setinggi 17 meter aku nggak akan sekali pun noleh ke dia. Aku udah punya seseorang yang isi hat..,”
                “Oya? Siapa orang yang udah buat kamu jatuh cinta? Kak Varis? Atau... cowok jual gorengan di depan sekolah? Denger-denger sebenernya dia mahasiswa yang coba usaha. Kayak film aja yah?”
                Mata Veni membulat begitu sahabatnya menyembulkan suara mengandung huruf v, a,r, i, s.
                “Varis? Hahahaha. Enggak lah, dia kan udah punya pacar. Apalagi mas-mas penjual gorengan. Kamu mungkin, meski pun penjual gorengan, pacarnya banyak. Apalagi wajahnya kayak artis korea, siapa itu namanya Minho? Hahah,” jawab Veni.
                “Enak aja. Aku curiga sama kamu. Curiga banget. Pasti ada sesuatu, iya kan?”
                Venisia menggeleng. “Udah ah, tolong jangan bahas masalah cowok dan sebangsanya. Ke kantin yuk.”
                “Terserah,” Kayla mengiyakan meski masih memasang tatapan penuh tanda tanya.
                Veni dan Kayla bersama menuju kantin. “Eh, Kay. Kayaknya uangku ketinggalan di tas. Tunggu bentar ya.”
                Veni kembali ke kelas dengan terus berusaha merogoh sakunya. Mulai dari saku rok hingga saku kemeja. Namun, yang ia temukan hanya selembar kertas dari hasil sobekan buku kucel yang di dalamnya tertulis beberapa angka rumit. Ia menatap lekat benda di genggamannya. “Nomor ini, kenapa harus ada di sini? Apa aku harus coba?”
                “Ven? Ayokk, kantinnya keburu penuh. Nanti aku nggak bisa blablablabla.”
                Veni buru-buru memasukkan selembar kertas yang semula di genggamnya ke dalam tas dan mengambil beberapa lembar uang lima ribuan.
                Haruskah aku senekad ini?
^^^
                Veni menelan ludah untuk yang kesekian kalinya semenjak duduk termangu menatap selembar kertas kucelnya. Selembar kertas yang semula tak berarti, kini sangat berharga ketika beberapa jenis angka mengisi hampanya sang kertas.
      08573127000 Varis
                Beberapa kali Veni mengetik dan menghapus kembali deretan nomer di handphonenya. “Aihh, gimana ini?”
                “Gimana kalau dia nggak bales?”
                “Oke, nggak ada salahnya nyoba. Ayo Veni! Sekarang atau tidak sama sekali!”
                To: 0857312700000
Hai.. J
Veni mendengus lega begitu pesannya terkirim.
                ^^^
                Varis terus menerus menguap. Bimbingan belajar kali ini dan sebelumnya selalu sama. Membosankan. Tak lama berselang, sebuah getaran mengguncang saku celananya. “Sms?” ujarnya membatin.
                Diam-diam Varis mengambil Hpnya dan menatap sekilas. “Hhh.. nomor tak dikenal lagi?”
                From: 082139311000
                Hai... J
                Beberapa lama Varis menatap layar Hpnya. Dilema akan apa yang harus ia lakukan.
                To: 082139311000
                Hai juga... ini siapa ya?
                Varis menekan tombol send di layar touchscreennya dengan sedikit ogah-ogahan. Tak lama berselang, pesan jawaban datang.
^^^
                “Huaaaahhhh!!! Dijawaaabbb!! Huaaaa!”
                Veni melonjak bahagia begitu Hpnya bergetar. Amat bahagia hingga ia tak sanggup mengungkapkannya. Sangat bahagia hingga rasanya dunia seperti surga.
                From: 0857312700000
                Hai juga... ini siapa ya?
                “Ya tuhan. Aku mau mati. Varis... Dia... Jawab smsku?”
                “Eh, iya, aku ga boleh seneng dulu. Fokus.”
                “Mari kita baca.”
                “Eh, Varis nanya aku siapa?”
                “Haduh, gimana nih. Ngaku nggak ya? Kalau aku ngaku nanti dia nggak bales smsku, begitu tahu aku dari kalangan anak biasa yang nggak terkenal, bahkan nggak cantik.”
                “Haduh.. Gimana nih?”
                “Helep?! Aduh, aku galau.”
                “Oke, aku harus cari cara lain.”
                To: 0857312700000
                Hehehe J nggak penting aku itu siapa..
                Ini bener Varis kan?
^^^
                Varis membuka pesan dari orang misterius itu. Masih dengan ogah-ogahan tentunya.
                From: 082139311000
                Hehehe J nggak penting aku itu siapa..
                Ini bener Varis kan?
                “Bikin penasaran nih orang. Siapa sih?”
                Varis mulai mengetik satu persatu huruf. Hingga sebuah suara bernada tinggi menusuk pendengarannya.
                “Varis! Kenapa Ir soekarno Hatta di bawa ke Rengasdengklok?”
                “Heh? Apa? Kenapa? Saya?”
                “Iya, kamu, Varis! Kenapa?!”
                “Haduh, kenapa ya? Eh, tahu gak?” Varis berusaha mengorek jawaban melalui temannya.
                “Kenapa ya? Mmmhhh... Saya belum lahir, Bu, waktu itu. Nanti saya tanya ke buyut saya, pasti tahu,” jawab Varis sekenanya. Varis meringis menanti respon sang guru. Sang guru mengerutkan kening dan melebarkan mata seperti hendak memangsa.
                “Vaaarriiisss!!!” yang empunya nama hanya meringis.
^^^
                “Kok lama sih nggak bales-bales? Apa dia males ya? Atau dia lagi sibuk?”
                “Ahhhh.. kok jadi gini sih? Bales dong.. please..”

^^^
                Varis keluar dari bimbingan belajar dengan wajah suram. Ia berjalan menuju sebuah bangku tanpa gairah dan duduk. Sesaat ia menengadahkan kepala melihat langit.
                “Mendung?”
                Varis menghela napas seraya mengeluarkan Hpnya. “Oh iya, tadi belum sempet bales,” kata Varis mengingat orang misterius yang membuatnya dihukum guru.
                To: 082139311000
                Kok gitu? Penting dong. Siapa ini?
                Iya, bener ini Varis
                Varis meletakkan Hp kembali ke dalam saku. Sekali lagi ia menghela napas. Bersamaan dengan itu, hujan turun rintik-rintik.
                “Hah! Hujan?! Gimana pulang? Nggak bawa jas hujan!”
^^^
                “Huaaa! Akhirnya di bales!”
                From: 085731270000
                Kok gitu? Penting dong. Siapa ini?
                Iya, bener ini Varis
                Veni mengerucutkan bibir. “Harus ya? Tapi apa kamu tetep bales smsku meski tahu aku siapa? Varis, kenapa?” dengus Veni. Ia dilanda dilema.
                To: 085731270000
                J kamu nanti akan tahu siapa aku...
^^^
                Tiada yang bisa Varis lakukan selain duduk terdiam. Hujan sudah berselang hingga sepuluh menit, tetapi sama sekali tak ada tanda-tanda akan reda.
                “Sial banget hari ini.”
                Varis menghela napas lagi dan lagi, meratapi nasipnya hari ini. Meratapi kesialan kuadratnya sepanjang hari ini. Sepersekian detik kemudian, Hpnya bergetar. “Masih dijawab ya?”
                From: 082139311000
                J kamu nanti akan tahu siapa aku...
                “Apa-apaan ini?”
                To: 082139311000
                Terus, aku harus panggil kamu siapa kalau aku nggak tahu namamu?
^^^
                “Huuaaaahhh! Masih di jawab!!”
                From: 085731270000
                Terus, aku harus panggil kamu siapa kalau aku nggak tahu namamu?
                “Hufffttt.. ini lebih rumit dari yang aku duga,” kata Venisia mulai putus asa.
                “Aku harus gimana?
                Lama Veni tak membalas. Ini lebih susah dari yang ia duga. Bahkan soal matematika dan fisika tak lebih susah dibanding hal ini. Veni pusing bukan main.
^^^
                “Huffttt... Kapan hujannya reda?” Varis sedari tadi menanyakan pertanyaan sama yang bahkan ia sendiri tak mampu menjawabnya. Tak banyak yang dapat ia lakukan, malam itu, Hpnya sedang sepi. Biasanya, belasan fans rahasianya akan meneror, tapi, kali ini hanya ada satu yang mengisi daftar inbox pesannya.
                “Mana orang yang tadi? Kenapa nggak sms? Atau smsku belum terkirim?”
                Varis membuka pesan terkirim dan mendapati pesannya sudah delivered, tetapi ia menekan tombol kirim ulang.
^^^
                “Haduhhhh!!! Gimana ini?”
                Veni berguling-guling sejak tadi di atas ranjang. Ia juga mengacak-acak rambutnya frustasi.
                Drrrtttt...
                “SMS?”
                From: Varisss J
                Terus, aku harus panggil kamu siapa kalau aku nggak tahu namamu?
               
Veni memandangi layar Hpnya bingung. Matanya melebar melihat nama ‘Varisss J’ yang sempat ia buat itu dengan sangat tegang.
“Hwaaaahhh, dia ternyata masih tunggu jawabanku ya?!” pekiknya bingung.
“Haduh, udah deh, gini aja,” Veni bangkit dari rebahannya dan mulai mengetik apa pun yang melintas di benaknya. Ia tak ingin ambil pusing dengan kemungkinan yang akan terjadi.
To: Varisss J
Nggak penting kok.. tenang aja.. kamu lagi ngapain?
^^^
Varis menatap kelamnya langit yang bertengger di atas kepalanya. Seorang diri ia duduk mematung. Semua temannya sudah pulang sejak tadi, hanya beberapa makhluk tak dikenal yang diam-diam melirik genit ke arahnya. Itu sudah biasa, Varis memang selalu berhasil menyedot perhatian publik, terutama wanita, adik kelasnya.
Selagi hujan, Varis memutar lagu favoritnya, lagu yang sudah biasa berdengung di telinganya, bukan lagu galau mau pun boyband pastinya.
Kalau saja ia mau, ia bisa saja memerobek tirai hujan itu dengan motor Ninja putihnya. Tetapi, motornya masih bau toko dan sayang kalau harus dikorbankan. Dan inilah yang bisa ia lakukan, menunggu hujan reda.
Drrtttt...
From: Orang
Nggak penting kok.. tenang aja.. kamu lagi ngapain?
Varis langsung membuka pesan tersebut, setelah sebelumnya memberi nomer Veni dengan nama ‘Orang’.
“Orang yang aneh,” gumamnya.
To: Orang
Penting dong ..  Nungguin ujan berhenti

 -------------------------------------------------------------------------------------------

To Be Continued... ^.^

Kang In Oh from Co-ed School Korean Band
Kang In Oh, Kyaaa!

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting