Senin, 01 Oktober 2012

[Cerita Bersambung[ Kisah Venisia: Perfect?

          Venisia melangkah lebar menuju kelasnya. Pagi ini, kelas nyaris seperti kuburan. Tak ada tanda kehidupan di dalamnya. Veni, dengan langkah santai duduk dan melemparkan tasnya. Sesegera mungkin ia keluar untuk menanti Kayla. Namun, nampaknya, ia tak benar-benar bertujuan menyambut Kayla di depan gerbang sekolah, melainkan menanti pangerannya yang hari ini memiliki jadwal bimbingan belajar pukul enam. Karena, sejatinya, Veni nyaris tak pernah menginjakkan kaki di sekolah, sebelum pukul tujuh.
Veni berjalan seorang diri dengan mata terus menilik sosok tampan bertubuh jangkung itu muncul. Beberapa kali ia melirik jamnya. Waktu seakan terhenti di mata Veni. Dimana Varis?

Kisah Venisia: Perfect?

                Venisia mulai letih dan memilih untuk kembali ke kelas. Ia tak menemukan Varis, atau bahkan Kayla. Yang ia temui hanya Pak Thomas dengan kumis emasnya, yang selalu menyilaukan mata.
                “Udah bangun pagi-pagi, nggak tahunya Varis nggak ada.” Veni melangkah lunglai menuju kelas, wajahnya suram, muram, dan kelam. Aura mengerikan terpancar darinya.
                Veni melirik jamnya sekilas. “Jam setengah tujuh? Harusnya Varis udah dateng, apa dia nggak masuk? Atau malah dia datang pagi tadi, sebelum aku sampai?!”
                Baru saja Veni akan membalikkan arah jalannya, Varis dan seorang temannya muncul dengan kalapnya. Mereka berdua berlarian tak keruan, senggol sana, tabrak sini. Hingga Varis pun tak sengaja menyenggol bahu Veni yang masih tertegun.
                “Eh? Sory, Dek!” celetuk Varis seraya terus melaju. Lelaki itu menolehkan kepalanya ke arah Veni dan berteriak begitu saja. Namun, Veni terlalu tak menyangka untuk bisa angkat bicara dan berkata “Nggak apa-apa.”
                “Yang barusan lewat tadi... Malaikat?”
^^^
                “Ven, temenin aku ke kamar mandi ya?”
                Kayla menyenggol siku Veni diam-diam. Ia berbisik takut ke arah Venisia yang sedari tadi tersenyum tanpa sebab yang pasti.
                “Eh? Sekarang?”
                “Hu’um. Aku kebelet, ini udah diujung tanduk.”
                “Harus?”
                “Sialan! Ayo buruan!”
                “Hehe,”
                Veni dan Kayla bersama menuju kamar mandi meski dipertengahan pelajaran Bahasa Inggris. Sementara Kayla berada di dalam kamar mandi, Veni asik merapikan diri di depan cermin persegi yang tergantung di atas wastafel.
                “Kay! Masih lama?” teriak Veni ketika kesabarannya berangsur hilang.
                “Iya, sabar kenapa!” balas Kayla.
                Veni terdiam sesaat. Bingung dengan apa yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan penat. Beberapa menit terlewat. Veni pun bersandar di tembok untuk sekadar meluruskan punggung. Namun, ketika matanya mengalih ke beberapa torehan kalimat, tubuhnya menegap dan sesegera mungkin membacanya.
                “VARIS <3 DEA?!” Veni membaca tulisan itu dengan lisan yang keras.
                “Apa-apaan ini?”
                “Varis 9.7 Kece!” Veni menghela napas dalam. “Siapa cewek kurang kerjaan yang tulis ini?” katanya datar.
                “Eh? Veni ngapain?”
                Kayla menatap sahabatnya dengan pandangan penuh selidik begitu keluar dari kamar mandi. “Udah, Kay? Nggak kurang lama?” tanya Veni mengalihkan topik.
                “Mau yang lebih lama, hah? Kamu ngapain ngeliat tembok sampek segitunya?”
                “Lagi lihat peninggalan sejarah.”
                “Hah?” Kayla mengerutkan kening. Sama sekali tak mengerti maksud sahabatnya. Tak lama ia pun mendekat dan sama terbelalaknya ketika melihat tembok didominasi kalimat berisi nama VARIS.
                “Ternyata Kak Varis seterkenal itu ya?” terang Kayla dengan polosnya.
                “Elu kemana aja, Kay? Dari dulu kali. Walau pun bukan OSIS, dia udah jadi bintang!”
                “Oh, tapi aku tetep nggak suka sama sifatnya. Varis itu Cuma menang tampang, tapi otaknya kosong. Yah, jangan lupa juga sifat playboynya!” antusiasme Kayla selalu meningkat ketika membicarakan keburukan Varis. “Ayo, buruan! Bu Bahasa Inggris bisa jadi liar kalau kita nggak balik-balik!”
                Kayla pun berlalu meninggalkan Veni yang masih mematung. Sebelum Veni menyusul Kayla, ia menyempatkan diri melirik ke beberapa deret kalimat yang melekat bersama beberapa kata kurang sopan di tembok. “VARIS, I LOVE U.” Veni pun berlalu setelah mengambil napas panjang dan dalam.
                Apa Varis seistimewa itu?
^^^
                “Mirna agresif banget sih kalau lagi ngegosip? Apalagi waktu ngegosip tentang Kak Varis. Mimpi Mirna nggak ketinggian apa bisa pacaran sama Kak Varis?” celetuk Anita.
                Kayla dan Veni yang berada di sampingnya hanya mengangguk pasrah.
                “Oke, Mirna emang putih dan lumayan tinggi, tapi itu aja kayaknya nggak cukup,” imbuh Anita seraya melipat tangan.
                Veni yang tengah berusaha melumat bakso ukuran medium seakan tak mampu bernapas. Sedang, Kayla yang tengah menuang sebotol kecap, nyaris menuangkan seluruh isinya dan membuat kuah baksonya menjadi hitam legam.
                “Aku bener nggak? Kak Varis nggak mungkin kan suka sama adik kelas macam Mirna?”
                Veni dan Kayla bersamaan menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Namun, pada akhirnya mereka sama-sama menggelengkan kepala.
                “Oke, hari ini, tugas kelompok kita biar aku aja yang kerjain. Kalian berdua makan sampek puas, ya. Aku mau cari tahu soal Kak Varis. Daaa!” Anita bangkit dari duduknya dengan pancaran wajah sedikit resah. “Kay, itu kuah bakso atau kuah empek-empek? Item banget?” sela Anita sebelum akhirnya hilang di telan kerumunan orang.
                Kayla dan Veni saling berpandangan. Beberapa detik kemudian tawa mereka meledak.
^^^
                “Kay, menurut kamu, Varis punya aura apa sih? Kenapa dia sampek di puja sama semua cewek di sekolah?”
                “Mungkin karena alisnya yang tebel dan rambutnya yang kemerahan karena di semir. Jadinya kelihatan nongol banget waktu upacara.”
                “Nggak logis, Kay.”
                “Pertanyaan kamu juga nggak logis. Kalau kamu cewek tulen pasti tahu jawabannya apa?”
                “Iya juga sih. Jawabannya Cuma satu, karena dia ganteng.”
                “Nah, itu tahu.”
                “Cowok ganteng pasti sama cewek cantik.”
                “Nggak selalu. Cantik itu variatif. Cowok kayak Kak Varis itu susah ditebaknya. Mungkin seleranya sama yang item manis. Atau malah yang tembem dan imut. Siapa tahu?”
                “Tapi normalnya, dia pasti suka cewek cantik yang tinggi dan putih.”
                “Iya, tapi cinta itu nggak normal, Veni. Nggak tahu siapa dan gimana orang yang kamu suka, yang pasti perasaan itu nyata dan nggak bisa dengan mudah dirubah.”
                “Iya sih, Kay. Tapi..,”
                “Kenapa sih kamu? Veni jadi aneh, deh. Ada masalah, Ven?”
                “Enghh, nggak Kay. Masa sih aku aneh, perasaan biasa aja. Oiya, nanti sebelum pulang, kita mampir ke sewa DVD dulu ya?” Veni berusaha mengelak. Lantas, ia memutar topik.
                “Kenapa? Mau ketemu Mas-mas penjaganya? Ngaku!”
                “Nggak lah! Enak aja!”
                “Terus, ngapain?”
                “Aku mau pinjem DVD film Twilight. Lama udah nggak nonton itu.”
                “Oh, setahuku kamu nggak suka film itu?”
                “Mungkin dulu iya, tapi.. nggak tahu kenapa, sekarang aku suka.”
                Kayla mengangguk setuju. Namun, Veni masih sedikit ragu. Dalam siratan wajahnya, tergambar jelas, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Tapi apa?

                Awalnya aku membenci film berbau vampir, karena bagiku, mereka menyeramkan, dingin, dan berbahaya. Namun, kurasa, perlahan aku menyukainya, karena nampaknya, alasan aku menyukai itu, karena aku menyukaimu..
^^^




~to be continued~

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting