Kamis, 30 April 2015

Reason


        Bibirku mengulum senyuman sinis. Memandang inci demi inci angka yang tertera di sana diam.

        Hujan. Ia berkawan dengan petir kali ini. Membuat alunan nada yang bergema di ujung telingaku tersamarkan. Jemariku melempar jauh kalendar ke atas ranjang. Tersadar bahwa aku sudah merangkak jauh dan melupakan sesuatu yang tertinggal di belakang. Memilih untuk kembali? Merangkak?

        Tidak. Aku masih lebih dari waras untuk kembali dan merangkak lagi.

        Sejenak hujan mendekam ketika earphoneku tak lagi bersuara. Seolah sepasang kaktus di atas meja menertawakanku yang tak kunjung maju barang selangkah.

        Aku mendengus kesal. Alunan gitar yang kembali menggema seolah menahan air mataku untuk tumpah. Aku tidak benar-benar tau judul lagu apa yang aku dengarkan. Yang kutahu hanya nada-nada sendu itu mampu membuatku benar-benar menjadi diri sendiri.

        Reason.

        Kugigit bibir bawahku. Walau tak sebait lirik pun terdengar, entah mengapa otakku seolah melafalkan sesuatu.


        Reason.
        Aku memandang judul yang tertera. Diam.

        Semua berawal dari sebuah alasan. Alasan mengapa kita harus bernapas. Mengapa kita harus tidur. Mengapa kita harus melaju. Mengapa kita harus beristirahat.

        Bahkan alasan mengapa Tuhan memberikan cobaan.

        Mungkin juga alasan mengapa aku membeli dua kaktus kurus yang kini menjadi penjaga kamarku.

        Entahlah. Alasan adalah sesuatu yang dapat membuatmu memulai mau pun mengakhiri. Alasan adalah sesuatu yang mampu membuatmu berdiri tegak meski orang lain menolak. Alasan adalah sesuatu yang membuatmu melangkah lebih jauh walau kamu tahu ada beberapa biji paku.
       
        Bahkan untuk suatu hal yang kau anggap tak berasalan justru memiliki sejuta macam alasan. Benar bukan?
       

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Template by Best Web Hosting