Tampilkan postingan dengan label Kamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kamu. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Desember 2013

Kembali...

        Pernahkah, dalam seumur hidupmu, ada satu penyesalan yang selamanya berkelana di dalam benakmu dan menggerogoti dirimu hingga kau lupa bahwa masih ada hari esok yang menanti?
        Atau, saat di mana dirimu bukan dirimu yang dulu. Melainkan semacam reinkarnasi diri menuju sesuatu yang tak baik. Seperti kupu-kupu yang malah menjadi ulat bulu, atau seperti sungai keruh?
        Ini aneh. Ini datang tanpa pernah diimpikan.
        Apa ini karena seseorang baru yang sejenak, menghapus 'kamu'?
        Alam berbahasa tentang betapa tertinggalnya aku. Alam pun mulai berseru, bertanya di mana aku yang dulu. Di mana aku yang dengan tangan terkepal melawan awan dan berani terhadap mentari? Di mana aku yang dengan mudah menaklukkan duka dan menerjang air mata tanpa berpikir panjang? Kukira, diriku yang dulu, sedang terpenjara oleh diriku yang baru...
        Ingatanku kembali ke konferensi yang terjadi di gazebo teduh sekolah. Hanya ada tiga pasang kaki yang berpijak di sana. Aku, dan dua sahabatku.
        "Pernah nggak di antara kalian ada yang suka anak kelas?" sebuah suara membuka tabir hampa diantara kami. Punggungku menegak.
        Sahabatku yang berkulit putih melirik sekilas, seolah menyorotkan tanda tanya besar yang membuat lidahku kelu.
        "Kalau kamu?" beruntung sebuah pertanyaan menghalau bibirku bergetar. Itu dari sahabatku yang lain, panggil saja Diana. Matanya tak mengarah padaku. Tapi pada Virna.
         Virna terdiam sesaat. Manik matanya yang indah tertuju padaku. "Ya. Mungkin. Kalian?"
         Kini, kembali aku rasakan alam berbahasa. Aku terjebak di dalamnya.
         "Kamu?" sebuah suara membuatku sedikit tersentak.
         Tanpa aku sadari, Diana sudah mengutarakan isi hatinya tadi. Bahwa ia belum pernah merasa kagum pada siapa pun di kelas. Apa yang aku lakukan hingga aku bahkan tak mendengar apa yang mereka katakan. Alamkah yang menggiringku?
         Aku termenung sesaat. Mengingat pekatnya sesak yang sudah membusuk di dalam hati. Apa ini saat yang tepat? Salahkah jika aku mengatakan apa yang tak seharusnya aku katakan?
         "Hey.."
         Mataku dengan siaga kembali menatap dua mata yang haus akan jawaban. "Ya. Kagum. Hanya itu."
          Keduanya masih membisu. "Siapa?"

         Sudah kuduga. Itu pertanyaan yang tak awam.
         Aku menghela napas. Memejamkan mata dan mulai menghela udara. Deru suara air menyelimuti. Air mancur di sisi gazebo kian meninggi tertiup angin. Seketika ingin rasanya aku menjadi bagian dari alam. Menjadi satu di tengah ekosistem. Melihat kejadian-kejadian dan mendengarnya. Bukan turut andil di dalamnya.
        "Lupakan. Dia udah suka anak lain, kok." sebuah senyum getir tergambar. Dari bibirku. Penuh kebohongan, aku tahu itu.
         "Kenapa? Kamu kok bilang gitu?" tanya Virna.
         Kenapa? Kukira, karena aku adalah tokoh antagonisnya.
         Masih segar diingatanku, bagaimana caraku menyimpulkan bahwa dia datang di saat yang salah. Ya, dia, cinta.
           Dia sudah merenggut semuanya. Semangat itu. Rasa percaya diri. Prestasi. Waktu. Peluh.
           Entah mengapa, selalu ada rasa takut yang berujung pada firasat sesaat. Tentang apa jadinya jika aku benar jatuh cinta padanya? Mungkin itulah satu dari sekian alasan mengapa diriku yang dulu terbunuh. Karena diriku yang baru telah kemari, berusaha mencuri tubuhku dan menguasai kesadaran diri. Terkadang, baru tak berarti bagus untukmu.
           Dan saat ini, satu hal yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan aku yang dulu, adalah berhenti berfirasat tentang kemungkinan terdekat. Ya. Aku harus melaju dan menutup telingaku. Menatap setapak dengan tegap. Mengabaikan peran antagonis. Menghapus derai tangis. Dan kali ini, sekali lagi aku berseru, "Tunggu aku yang dulu. Aku yang bahkan lebih terang dari kilau bintang paling benderang!"
         
        
        -Today-

Kamis, 05 Desember 2013

Pelukan Hujan

        Read it Before
        Kau tahu, mungkin imajinasiku sudah kelewatan batas. Ya, ketika aku terpaku pada sang mendung, sosokmu bahkan seolah muncul. Seperti fatamorgana yang dengan mudah membuatku terpana. Saat itu, aku masih mengamati mendung, namun kedua pasang sepatu itu berhenti di depanku. Bukan. Ya, tentu saja itu bukan kamu. Bukan sepatumu.
        Pemilik sepatu itu adalah teman sekelasku. Ia bertanya, "Ngapain kamu di sini?"
        Aku mengangkat kepala perlahan, kemudian sejenak menatapnya. "Aku... menunggu hujan."
        Hujan...
         Itu kejadian 3 hari yang lalu. Ketika dengan perasaan berapi-api aku berharap hujan tak akan datang. Akan tetapi, hari ini, di hari pertama butiran hujan turun, aku mampu menyimpulkan. Bahwa inilah saat yang tepat. Saat yang cepat atau lambat jelas akan datang. Saat di mana aku harus mengangkat bendera pertanda menyerah.
         Mendung sudah menyergap langit lama. Dan ketika aku tengah berkutat dengan pasal-pasal, kudengar alunan hujan. Detik itu juga, senyumku tergurat. Samar.
         Dalam diam aku bergumam, ketika hujan bertandang, itu adalah pertanda di mana lembaran baruku terbuka. Dengan kata lain, doamu lah yang menjadi juara. Kamu kini bisa bersedih tanpa ada yang merasa bahagia di atas kesedihanmu.
         Ketika hujan menatapku, dengan mata sendu ku lihat kegelapan yang sepenuhnya menguasai angkasa. Hujan. Ya. bumi kini terjebak dalam pelukan hujan. Terjebak dalam kesedihanmu.
         Dan kini, satu hal yang aku tahu, bahwa kita memang tak bisa memaksa sesuatu yang tak selayaknya jadi milikmu.
- Mid November 2013-

Jumat, 01 November 2013

Mendung Bercerita

      Mendung.
          Satu kata tanpa setitik pun makna indah. Apa pun yang terbayang tentangnya ialah kegelapan yang menandai sebuah kepedihan. Dan kukira itu adalah tanda bahwa kamu tengah berduka.
        Itu siang yang tak berteman dengan mentari. Mereka lebih memilih merengkuh awan kelam dan menjadikan mereka teman. Alunan lagu yang tengah berdengung di telingaku memaksaku terbawa pada suasana bahagia. Bertolak belakang dengan perasaanmu yang mungkin rapuh. Serapuh sayap kupu-kupu. 
            Salahkah jika aku bahagia di atas kesedihan yang kamu rasakan? Mungkinkah kata putus terdengar menyakitkan di telingamu, tetapi membahagiakanku? Kejamkah aku? Salahkah jika aku terus berdoa tentang hal itu?
            Egois! Itukah kata yang pantas ku sandang?
           Mungkin alasan bahwa hujan tak pernah datang adalah aku dan kamu. Karena aku dan kamu berdoa meminta permohonan yang berbeda. Awan gundah dan terjebak di antara doa-doa ku dan doa mu. Oleh karena itu, mereka hanya melukiskan mendung yang panjang. Sama sekali tak menghadirkan hujan.
         Hari ini, sekali lagi aku menatap mendung. Duduk termenung di depan kelas seraya menanti kamu muncul dari balik tikungan itu. Dan ketika aku duduk menekuk lutut, sepasang sepatu beralas putih berhenti. Di depanku.
             Ketika aku menengadahkan kepala, kulihat tubuh jangkung itu berdiri di sana. Seketika darahku berhenti mengalir. Bersamaan dengan angin yang berhembus halus. Seolah memeluk aku dan kamu yang terjebak di dalam dimensi waktu.

To be continued..

Mendung Bercerita
1 November 2013


Jumat, 20 September 2013

Fearness

     Pernahkah kamu mengerti rasa di mana kamu takut untuk menyayangi? Takut untuk jatuh dan tak dapat bangkit lagi?
     Atau, pernahkah dirimu mengerti satu rasa yang membuat dirimu seolah mati?
     Itu tanggal di mana kamu merasa terlahir kembali. Tanggal di mana kamu mengucap harapan dan keinginan masa depan. Banyak kejutan yang temanmu berikan dihari itu. Tumpahan tepung, telur, dan bahkan mereka menyembunyikan sepatu kesayanganmu.
      Aku hanya tersenyum samar, berpikir bahwa aku tak mungkin ada di salah satu jejeran orang yang bisa menumpahkan tepung ke wajahmu.

 
      Tapi, setidaknya ada sebuah doa yang aku panjatkan. Doa agar kamu dapat bahagia bersama orang yang kamu cinta. Akan tetapi, doa itu masih tertahan di kerongkongan. Pelan dan penuh akan ketakutan. Takut bahwa doa yang kubuat untukmu adalah doa yang akan membuat luka baru. Karena itu berarti bahagiamu mungkin bukan denganku.
      Aku sadar ini ironis. Tapi, pernahkah kamu berharap pada kisah yang tak mungkin kau miliki? Seperti ketika kau ingin meraih satu bintang paling terang di atas awan?
      Jika pernah, apa kau bisa meraihnya?
Fearness
05 Sept 2013
-Annisa-

Selasa, 07 Agustus 2012

Mengukir Rasa #Special '-'

Tetesan peluh membanjiri tubuhku yang terbalut pakaian olahraga. Sekuat tenaga aku berusaha berlari meski tubuh ini berkata tak bisa. Kurang setengah putaran lagi aku mencapai garis finish, namun, kedua kakiku serasa mati. Aku menyerah dan pasrah. 2 kilometer bukan jarak yang pendek bila aku harus mengitarinya hingga tiga kali. Seketika, aku merasa nyawaku pergi entah kemana. Napasku terengah. Kurasa, pelajaran olahraga kali ini, tak akan pernah menjadi lebih baik semenjak hari itu. Kuingat saat itu, ketika tubuhku butuh pertolongan, kamu datang. Kamu hadir meski kamu tahu, ini bukan saat yang tepat.
"Nay, kamu nggak papa?"
Aku menengadahkan kepala ketika menatap matamu yang beberapa senti di atasku. Kamu mengukir senyum yang mungkin mampu membuat seseorang pingsan.
"Eh, nggak. Aku masih kuat, kok."
"Yakin?" Kamu mengerutkan kening ragu.
Kuanggukkan kepala. Namun, perasaan risaumu tak sedikitpun goyah. "Kalau gitu, kita lari bareng. Takutnya, kalau kamu kenapa-napa, ada aku yang langsung nolongin. Nggak lucu kalau kamu pingsan di tengah jalan."
"Kamu ngelawak?" Jawabku asal.
Kamu menekuk kening kembali. "Menurut kamu?"
Aku tersenyum tanpa sadar. "Nay, ayo buruan! Kejar kalau bisa!" aku tersadar dan mulai mengikuti arus larimu. Dan mulai saat itu, aku tahu, aku sadar, kamu, adalah hidupku, semangatku.

Aku merasa sendiri. Tak adanya dirimu, sama seperti hilangnya setengah debit napasku. Aku kian terengah tanpa adanya senyum penyemangat darimu yang indah. Hari ini, akan menjadi hari yang perih. Bukan hanya hari ini, tetapi seterusnya, selamanya.

Aku ingat, ketika kamu memberiku hembusan angin semangat yang samar namun menyejukkan. Tetapi,  hembusan semangat yang kamu beri kini tak ada lagi. Hidupku kering, gersang.


Pengorbanan yang aku buat kala itu, semata-mata bukan karena egoku, bukan karena emosiku. Tetapi ini yang terbaik, untuk kamu, untuk aku, dan untuk sahabatku.

Aku tahu benar, itu menyiksaku, tetapi semua akan lebih tercekat bila kamu tetap disini. Dan untuk Kesha, maaf sudah membuatmu terjebak dalam labirin kisahku ini...





(Mengukir Rasa, Special Edition ^-^)

Selasa, 03 Juli 2012

I am Gone for You

Kamu menjatuhiku dengan dua macam pilihan. Memendam semuanya, dengan konsekuensi, aku harus terus tergenang dalam kubangan ketidakpastian ini. Pilihan kedua, aku harus mengungkapnnya, mengatakan rasa yang lama tersimpan padamu. Tetapi, aku tidak mampu untuk itu. Aku teramat takut kamu akan pergi meninggalkanku.
Aku hanya ingin berkata sejujurnya padamu, tanpa perlu takut kamu pergi dari hidupku, karena mungkin akulah yang akan pergi dari hidupmu. "Tolong kali ini, ijinkan aku yang pergi dari hidupmu. Jangan kamu yang pergi dari hidupku dan tinggalkan aku, karena itu rasanya sakit buatku.. Aku nggak tahu rasa apa yang sekarang ada di hatiku. Tapi aku cuma bisa ucapin terima kasih ke kamu, karena kamu udah ijinin aku merasakan perasaan ini . Maafin aku. Karena buatmu terganggu."

Dan itulah jalan yang akan kutempuh. Melupakanmu dengan cara berlari menjauhimu, meninggalkan kamu. Bukan kamu yang pergi, bukan kamu yang menghindar. Biarkan aku.. tolong, kali ini ijinkan aku... menghindar darimu, menghapus jejak namamu..

Senin, 02 Juli 2012

You Give Me many Lesson

Adakalanya aku ingin terus seperti ini, karena dengan begini aku mengerti apa itu sakit dan pedih. Aku juga belajar untuk bisa mencintai tanpa pernah dicintai. Namun, tiap kali otakku berpikir ulang, ternyata kamu lah yang membuatku tertinggal. Kamu membuat aku lumpuh. Karena kamu lah, semua tentang diriku berubah, menyimpang. Aku sadar benar, aku salah dan tak seharusnya teguh dengan rasa yang terlalu lama singgah ini. Rasa untukmu yang harusnya sudah pupus seiring dengan kepergianmu. Tetapi, sekuat apa pun aku menghindar darimu, kamu selalu kembali. Sebesar apa pun tenaga yang aku kerahkan untuk lepas dari jeratmu, aku tetap terjebak dalam ketidakpastian yang kamu buat. 
Janji yang berulang kali aku lontarkan, tak berbuah kenyataan. Aku masih saja dibayangi sosokmu. Aku masih diliputi perasaanmu dulu. Aku bahkan tak lagi bisa beranjak dari semuanya. Kamu sudah terlanjur mematri memoar itu dalam benakku. Lusa, selamanya, aku akan terus dikelabui namamu. Akan terus di hujani rindu akan senyummu.
Kamu, mungkin tak sadar, bahwa banyak sekali pengajaran yang kamu beri padaku. Belajar untuk memahami diri sendiri, bahwa kamu dan aku memang tak akan bisa satu...

Pelangi yang Tumbuh

Aku menunggu waktu itu akan kembali. Menanti kamu di tepi jalan ini. Sejenak ku pejamkan mata, berharap saat aku membukanya, kamu bediri di depan mata ini dengan membawa segenggam rasa yang telah lama aku tunggu. Dalam pejaman mata, ku mampu lihat dirimu, kumampu lihat senyummu. Namun, tatkala mata terbuka, bayang dirimu sirna bersama jutaan cahaya yang masuk ke mata. Tak ku dapati dirimu di sana. Dan bahkan, aku memang hanya mampu melihatmu dari situ, dari pejaman mataku. 
Di sini, kian lama aku kian melemah, begitu juga rasa yang ada. Rasa yang sempat ada untuk kamu sudah meluruh. Banyak orang berkata, semua akan indah pada waktunya, tetapi aku tak bisa menggapai semua. Terutama rasa yang kamu punya. Dan hingga detik ini, tak secuil pun bahagia bisa ku terima. Kamu, mungkin pernah membangun semangatku. Tetapi kini kamu melapukkan semangat yang telah kamu beri padaku, dan kamu juga sudah menyisakan pedih untuk diri ini. Terima kasih karena kamu sudah buatku begitu, satu hal yang pasti, rasa percayaku padamu masih tersisa. Aku percaya, jika kamu pasti akan terperangah kelak, Karena aku, diriku, akan bangkit dari kubangan rasa sakit. Karena aku, diriku, pasti akan tumbuh dan berovolusi jadi pelangi yang muncul setelah hujan dan badai.

Minggu, 01 Juli 2012

Kepingan Hati


Kubilang, rasa yang saat ini merayapi hatiku sangat amat membuatku tersiksa. Kubilang, gejolak yang berdebur keras di relung hatiku terlalu sakit tiap kali mata ini menatapmu berdiri seorang diri. Kubilang, degup jantung yang selalu lebih cepat berpacu setiap ada kamu begitu menggangguku dan membuatku serasa jauh darimu. Dan semua itu mengharuskanku memutar otak lebih cepat, mengharuskanku membuka telinga lebih lebar untuk mendengar celotehan hati ini, bahwa dia butuh penyembuh, bahwa hati ini butuh kamu, butuh hadirmu. Tetapi, dunia berujar pada hatiku, bahwa aku harus mulai menjauhkan hatiku dari dirimu, dari hatimu. Karena kita seperti 2 kutub magnet yang saling tolak menolak. Selamanya, kita tak akan pernah bisa sama dan searah, kamu dan aku, langit dan bumi yang berjalan sendiri-sendiri. Sampai kapan pun, kita akan tetap begitu, bila kamu selalu membuatnya seperti itu.


Dan hari ini, masih dengan berlinang air mata aku bertanya pasrah "Haruskah aku menunggumu? Haruskah aku biarkan hati ini dihujani sakit yang jauh lebih dalam? Kamu tahu, sebilur luka saja sudah mampu menjadikan hatiku hancur berkeping-keping. Tetapi.. nyatanya, kamu sama sekali tak memahami semua itu. Karena kamu, karena hatimu, sudah terenggut oleh sesuatu yang kamu sebut cinta. Karena matamu, sudah buta oleh sebuah kata yang disebut cinta. Padahal sejatinya, rasa yang kamu beri padanya, hanya sebatas suka yang tak lebih dari cinta. Karena cinta sesungguhnya, bukan karena kamu menyayanginya, tetapi karena kamu rela terluka hanya untuknya."


-Sekali lagi maaf dan terima kasih


Mati Rasa

Rinai air mata ini mungkin tak mampu melukiskan seberapa terlukanya aku. Bulir air mata ini tentu tak sejajar dengan semua pengorbananku untuk kamu. Aku juga tahu, berapa mili pun air mata yang merebak, tak kan bisa menjelaskan seberapa dalamnya aku terluka karena kamu. Satu hal yang pasti, masih ada setitik rasa untuk kamu di dalam dasar jurang hati ini. Tetapi, mungkin rasa itu telah sirna, mungkin rasa itu telah berubah, karena sekarang nyatanya, aku tak bisa merasakan apa-apa. Hatiku mungkin lelah dan mulai mati rasa. Itu semua bukan karena kamu, bukan karena dirimu, tetapi karena perasaanmu. Perasaanmu memupuskan hidupku, merobek semua harapan yang sempat tumbuh. Perasaanmu perlahan menggiringku menuju kesengsaraan dan rasa sakit. Perasaanmu padaku lah yang telah membuat aku kian terhimpit dalam segala ancaman duka. Kamu dan perasaanmu. Aku butuh kamu dan perasaanmu. Tetapi perasaanmu yang seperti itu, membuat tubuhmu dan dirimu berangsur menjauh. Dan kini, kamu, juga perasaanmu benar-benar hilang. 
Hatiku terus mengelabu. Sangsi menanti kamu dan perasaanmu akan kembali. Hingga detik ini, satu kata yang kembali terucap di bibirku, "Aku mati karenamu"

Sabtu, 30 Juni 2012

Aku tak Rapuh

Dan malam ini, aku berusaha mengais sunyi di tengah malam yang kian mengelam. Dalam balutan kebisuan, aku masih menunggu senyummu hadir di tengah kepalsuan yang menyergapmu kala itu. Aku tahu, kamu tak benar-benar menghapus memori akan diriku, kamu hanya mematikan diriku sesaat dalam benakmu. Tetapi, gurat wajahmu selalu berusaha menepis isi hatimu, menganggap semuanya sudah berakhir dan tak akan bisa lagi hadir dalam hidupmu.
Jujur aku menyerah. Menyerah untuk terus menganggapmu ada dalam hidupku. Malam ini, sekali lagi, aku kepalkan tangan seraya berseru dalam diam. "Aku, mampu hidup tanpamu, aku mampu!"
Namun, segenap rasa yang terlanjur mengendap dalam hati ini, berteriak padaku, "Kamu tak mampu, tak mampu! Tak akan pernah mampu!"
Dada ini teramat sakit. Entah apa yang membuatku begitu. Kamu, mungkinkah karena kamu? Aku lelah, menyerah, putus asa. Biarkan saja semua ini terus bersarang dalam diriku. Membuat diriku kian merapuh. Karena kamu, aku begitu, karena kamu, sudah merubah arus hidupku, menenggelamkanku dalam duka, namun tanpa sadar kamu sudah memimbingku menuju kemenangan. Karena kamu, aku belajar satu hal, bahwa, Kamu bukan segalanya bagiku, bukan segalanya untukku.


-terima kasih dan maaf karena kembali mencantumkan kamu

Minggu, 17 Juni 2012

Masih Tentangmu


Ditiap cucuran peluh yang mengalir di sela keningku, itu karena aku mulai lelah harus menanti dirimu. Di setiap tangis yang pecah dan tumpah dalam wajahku, itu tercipta karena aku mengasihani dirimu, karena telah memilih orang salah dan tak peka pada perasaan yang jauh lebih sempurna dari dirinya. Di dalam batin ini, kepekakkan akan bayangmu kian bertambah. Namun, aku hanya bisa mengungkapkannya dalam kata yang kutulis bersama sisa asa di setiap torehan tinta. Setiap inci tulisan itu tercipta karena kamu ada, karena kamu terpahat dalam hati ini begitu dalam. Dan jika kamu memaksaku melupakanmu, sama artinya kamu memaksaku keluar dari sebuah jurang tanpa pernah kamu beri pertolongan. Dan entah sampai kapan, rasa itu ada, karena hingga sekarang, meski kamu sudah jauh di sana, hatiku merasa kamu ada di sini, walau pun tak pernah sekali pun kamu menyadari diriku yang nyaris mati, karenamu.



Aku, kamu, dan jalan ini

Aku bukan seseorang yang mampu membuatmu begitu cepat terpesona. Aku bukan manusia yang dengan mudah membuatmu bahagia. Aku bukan wanita yang selalu berhasil menghasilkan senyum pada setiap lengkung bibir orang yang melihatnya. Aku.. hanya seorang pemimpi yang tak pernah pamrih. Aku... hanya seorang remaja dengan sejuta harapan dalam hatinya. Aku.. hanya gadis belia yang sampai detik ini masih berusaha, berusaha menjadi yang engkau mau.
Sampai hari ini, aku tetaplah aku yang dulu. Aku yang masih seringkali menganggap rasa ini sebuah ilusi. Aku yang hingga saat ini selalu resah dan gundah dengan apa yang telah aku rasa karenamu. Kamu, juga masih sama seperti dulu. Tak pernah tahu siapa aku dan untuk apa ada aku ditiap derap langkahmu. Tetapi, aku yakin, dalam diammu dan dalam ketidak acuhanmu, kamu sejujurnya tahu, bahwa aku selalu bersedia hadir dalam hidupmu, siapa pun kamu dan bagaimana pun dirimu. Karena kamu dan aku tahu, tuhan tak kan pernah salah memilihkan jalan untuk kita.





-cuma nulis doang. aku gak galau kok. -__-

Bahagiamu


Seribu kali aku berseru, sudah, aku lelah dan menyerah, sejuta kali hati ini memungkiri bahwa diri ini dan hati ini belum mampu untuk hal itu. Tetapi, bila aku mempertahankan rasa itu dan terus menantimu tanpa berusaha tahu jika kamu sudah menghapus diriku dalam kehidupanmu, aku akan kembali terjerembab dalam penyesalan yang sama, seperti sebelumnya. Bumi dan seisinya menyuruhku meninggalkan dirimu, meninggalkan semua yang sudah kamu beri dan patri dalam hati ini. Aku tahu, bahwa aku bukan orang yang pantas ada di sampingmu. Aku sadar, aku tak memiliki rona wajah yang sempurna bagimu, tetapi aku punya hati dan nurani yang terus menerus menuntunku untuk menjadi diriku yang selalu ada bila kamu butuh. Aku hanya ingin menunjukkan aku disini, tersenyum lebar dan mampu merasakan setiap desah napasmu. Aku ingin menyadarkanmu bahwa aku tak membutuhkan kamu, tapi membutuhkan bahagiamu, karena jika kamu bahagia, bagiku, aku sudah sangat bahagia meski kutahu, bahagiamu tak pernah kau tujukan untukku.

Kamu Salah

Bila kamu bilang bahwa kamu pandai matematika, tapi nyatanya kamu bahkan tak pernah mampu menghitung seberapa banyaknya rasa yang sudah kuberi padamu.
Bila kamu berkata kamu bisa membuat orang lain tertawa, sebenarnya kamu belum bisa, karena aku disini selalu menahan perih tanpa pernah bisa tertawa seperti yang kamu bilang.
Bila kamu disana berujar jika dunia ini indah, kamu bohong, karena sebenarnya dalam hatimu berkata bahwa aku sudah membawa sesuatu yang membuat hidupmu tak utuh dengan hadirnya aku.
Bila kamu mengaku mencintai dunia olahraga, sejatinya kamu sama sekali tidak berhasil mencintainya, karena sejak dulu hingga sekarang kamu bahkan tak pernah bisa berlari cepat. Belum bisa berlari menjauh dariku, dan membuatku melupakanmu.

Dan bila kamu sekali lagi berpikir, bahwa kamu amat menyukai dunia menggambar, sejujurnya kamu sama sekali tidak menyukainya, karna kamu tak pernah bisa berhasil menggambarkan seberapa perihnya posisiku, seberapa sedihnya wajahku.






-sekali lagi terima kasih dan maafkan aku

Sabtu, 02 Juni 2012

Light, here..

Pagi harusnya cerah
Siang harusnya penuh cahaya
Tapi, pagi ini, mentari bersembunyi
Mentari berlari menjauh, dan tergantikan oleh kelam awan hujan. Terik sang surya di kala siang menghilang. Tenggelam dalam balutan awan legam dengan angkasa yang nyaris tak bercahaya.
Di mana mentari? Dimana sang surya? Di mana cahaya?
Aku disini, mendongakkan kepala tanpa sedikitpun memicingkan mata. Perlahan, amat perlahan, manik mata ini   berkedip beberapa kali. Ya, aku melihat cahaya. Ada setitik cahaya yang sama sekali tak bisa dihempas sang mendung. Itu.. dia..
Cahaya itu... ada di sini... Di dalam diri.. Di dalam hati...



Sabtu, 21 April 2012

Pilu?

Pilu?

Semua memang terlambat, begitu terlambat, hingga aku baru menyadari perihnya seperti ini.
Semua yang kulakukan terasa begitu hampa dan tak berguna. semua senyum itu... sudah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun padaku. meninggalkanku tersudut bersama sisi diriku yang hampir lenyap. aku.. bahkan tak pernah mengerti siapa aku ini dan untuk apa aku tetap berdiri disini. meski aku merintih, menangis tiada henti, tak akan pernah ada yang ingin menyeka bulir yang mengalir di sela pipiku. meski dunia ini hampir banjir, digenangi air mata pilu dariku, tak akan ada seorang pun yang kan menghentikan tangisku. 
Aku? siapa aku? orang yang hebat? Ahh..
Aku yang dulu? aku yang sekarang?
kali ini aku benar tersadar dari tidur panjang, bahwa sudah saatnya aku melangkah. meniti jalan baru yang terang benderang, dengan lebih dalam menatap ke depan dan bukan lagi ke belakang. aku tak butuh lagi senyum itu, yang aku butuh hanya tiupan semangat dari hatimu, walau tak dibibirmu, hanya di hatimu, aku sudah sangat kokoh, begitu kokoh dan terlalu kokoh untuk bisa tetap berdiri. 
meski semua ini terlambat, aku janji, aku akan menjadi diriku yang lebih berarti di matamu.dan di mata seluruh orang yang pernah memandangku sebelah mata. aku akan memberikanmu senyumku, meski kau tak pernah membalas senyum itu, jika aku kelak berevolusi menjadi orang yang kau mau. Tunggu aku. Tutup matamu, buka lebar pendengaranmu, maka kau akan mendengar teriakan semangat dalam hatiku yang bergejolak. Kau tahu, waktu pasti terus berjalan, begitu pula darahku yang akan terus mengalir. seiring dengan semua itu, kau akan tercengang mengenal diriku yang baru, meski dulu kau bahkan tak pernah tahu siapa aku dan untuk apa aku menngganggu harimu. Esok, aku akan bertandang ke hidupmu bukan sebagai pengganggu, tapi sebagai pelangi yang mengisi harimu...

Dont give up to face the day.. yeah,  although you dont know who am i, one day, you will be shock with MY NEW LIFE..  

^_^ aku tak pernah menyesal kau pernah datang di hidupku, karena sesungguhnya semua itu membuatku tersadar bahwa hidup itu terlalu berharga untuk diratapi.. Thank you and I am sorry..
 

Template by Best Web Hosting