Tampilkan postingan dengan label Introspeksi Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Introspeksi Diri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Desember 2012

Kepingan Bumi-Lomba Menulis Aku dan Sahabat Disabilitasku


Kepingan Bumi
Disabilities...
         Medengar kata itu, mungkin yang terbayang di benak kita ialah suatu ketidakmampuan yang merepotkan. Benar bukan?
         Suatu hal yang kita anggap berbeda selalu mendapat tentangan. Bahkan mendapat cacian meski hanya di balik badan. Mengapa harus ada perbedaan jika tuhan menciptakan kesatuan? Inilah dunia, yang tak segalanya harus jadi sempurna.
        Tuhan pernah bilang, manusia itu diciptakan sebaik-baiknya, bukan? Namun, bagaimana dengan orang cacat mental? Cacat fisik? Autis? Entahlah, aku tidak tahu.
Banyak sekali orang yang mengesampingkan mereka. Menganggap mereka warga kelas tiga. Yang pertama, jelas orang kaya, yang hidup bergelimang harta namun lemah dalam arti hidup yang sesungguhnya. Yang kedua, warga menengah ke bawah, yang setiap harinya bekerja banting tulang dan sadar benar apa itu arti kehidupan. Yang ketiga, yang paling kejam di antara dua lainnya, ya, ‘warga buangan’? Di sejajarkan dengan orang gila dan hilang akal. Di samakan dengan sampah yang sudah seharusnya dibuang. Dikucilkan seakan mereka membawa penyakit mematikan yang menular. Orang autis, cacat mental, fisik, apa mereka salah telah dilahirkan di dunia? Mengapa mereka harus menerima label warga terbuang?
       Disabilities adalah sedikit dari banyak masalah yang mendera. Tapi banyak dari kita yang menganggapnya luar biasa. Para penderita diabilities tentu tak pernah menyangka dari sekian juta manusia, merekalah yang kebetulan menjadi 'satu' diantara sejuta itu. Tapi mereka berusaha menerimanya. Memahami dunia masih terlalu indah untuk diratapi. Disabilities bukanlah sebuah kekurangan atau bahkan kutukan. Itu hanya pilihan tuhan yang telah menorehkan takdir dalam lembaran-lembaran tersembunyi.
       Para penyandang disabilities seringkali dipandang sebelah mata. Tentu hal itu memberikan sekat tak kasat mata yang membuat mereka tak leluasa untuk berkarya. Mereka sama seperti manusia normal lainnya, mereka bernapas dan menyantap nasi. Mereka bisa tertawa dan ingin bahagia. Mereka punya nurani dan ingin dicintai. Lantas, mengapa dunia memberikan ruang yang berbeda antara kita dan mereka? 
       Ada beberapa jenis disabilitas yang kita kenal. Mulai dari tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunanetra, tunagrahita, dan lainnya. Ada sekian banyak manusia yang memiliki disabilities. Dan tiap kali mengingatnya, amat membuat hati ini miris.
tunagrahita
       Ada sebuah kisah singkat yang pernah aku alami. Meski singkat, mampu membuatku terperanjat. Di Surabaya, di rumah nenek, seorang tetangga memiliki anak penyandang disabilities. Lebih tepatnya tunagrahita atau cacat mental. Anak itu sudah berumur enam tahun, namun fisiknya terlihat masih umur empat tahun. Ia susah bicara dan kurang mengerti apa yang dibicarakan orang. Keluarga itu baru pindah beberapa minggu yang lalu.
       Kala itu, aku baru tahu ada tetangga baru. Suatu hari, tiba-tiba adik kecil berambut cepak masuk ke rumah nenek tanpa berkata apa-apa. Ia begitu saja duduk di depan televisi, mendekati sepupuku yang tengah seorang diri melihat TV sementara aku berada di ruang kamar. Ku lihat sosoknya lekat-lekat. Ternyata, anak yang bernama Rio itu hendak mengajak sepupuku yang berumur 2 tahun bermain. Namun, Rio tidak tahu caranya, cara bermain Rio dan anak normal lainnya berbeda. Rio gemas dengan Nazwa, tetapi ia mencubitnya sekaligus menggigitnya, dan membuat Nazwa berderai air mata. Mendadak Paman muncul dan menyuruh Rio keluar dengan cara yang tak terpikirkan olehku. Seketika aku terpaku memandang kejadian itu.
       Paman menyeret Rio keluar, kemudian berteriak memanggil sang Ayah. Tak berapa lama, kembali dan mengunci pintu rapat-rapat. Haruskah ia bertindak sekasar itu? Rio tak punya maksud apa-apa, ia hanya ingin bermain saja, ya, hanya itu.. Apa yang salah?
       Beberapa lama aku terdiam. Hingga akhirnya aku beranjak keluar, mencari sosok kecil itu di depan rumah. Ya, ternyata ia masih di sana. Bermain dengan sepatu merah milikku. Aku menilik sekeliling, tak ada siapa pun, meski sempat aku mendengar suara Ayah Rio, tetapi tak satu pun aku dapati orang dewasa, yang ada hanya lelaki kecil luar biasa yang tertawa ria bermain sepatu berwarna merah di sana. Tanpa ku sadari, kedua sudut bibir ini terangkat, bersamaan dengan jatuhnya setetes air mata yang ada entah mengapa. Lantas aku menghampirinya. Berbagi sedikit waktuku untuknya.
       Sejak saat itu, pikiran ku sedikit banyak mulai terusik. Jauh di dasar hati ini, ada setitik perhatian yang ingin aku salurkan untuk para penyandang Disabilities. Tapi, aku tak tahu bagaimana caranya.
       Kisah itu mengingatkanku pada sebuah film mengenai Disabilities, namun bukan cacat yang muncul sejak lahir. Suatu cacat tubuh yang baru muncul setelah berumur lima belas tahun. Judulnya "1 Litre of Tears" sebuah film Jepang yang amat menguras air mata. Sebuah film berdasarkan kisah nyata yang dibuat tahun 2005.

       Dalam kisah itu, sebuah penyakit bernama Spinocerebellar Degeneratif  menyerang seorang gadis berumur lima belas tahun yang sangat aktif di sekolah. Penyakit itu ada karena kelainan otak kecil. Penyakit itu lamat-lamat membuat tubuh kehilangan daya koordinasi hingga akhirnya lumpuh dan tak bisa bicara. Satu kalimat yang pertama ia tanyakan ketika menerima diagnosa ialah, "Mengapa Tuhan memilih aku?"

one litre of tears
       Perlahan namun pasti, banyak orang yang meninggalkannya, termasuk orang yang disukainya. Usaha dagang sang orang tua sepi semenjak berita akan anaknya tersebar. Ia merasa tuhan amat tak adil. Namun, keluarga selalu ada disisinya. Waktu seakan berhenti ketika diagnosa itu disampaikan sang dokter. Terlebih, ia adalah siswa populer di sekolah, ia seorang anggota tim basket dan ketua kelas. Tapi, ketika penyakit itu menimpanya, banyak teman yang menutup mata akan kehadirannya. Meski begitu ia bersyukur karena ada sahabat yang selalu menghiburnya. Hingga suatu hari, ia harus pindah ke sekolah untuk penyandang disabilities. Sekolah yang kita kenal dengan sebutan SLB (Sekolah Luar Biasa).
       Satu cita-cita yang ingin ia raih, ia ingin hidupnya berarti, meski di tengah penyakit yang diembannya. Ia ingin hidupnya bermanfaat untuk orang lain. Setiap hari ia menuliskan kisah yang ia alami dalam diary. Hingga orang tuanya pun menerbitkan seluruh puisi dan tulisannya. Buku itu hingga kini telah terjual sekitar 18.000.000 buah. Dan buku itu benar-benar membuat manusia sadar, bahwa tak ada sesuatu yang pantas untuk disesali, karena tuhan tentu memiliki alasan untuk setiap kejadian. Dari kisah itu, banyak yang tersadar. Termasuk aku.
         Jika kalian pernah mendatagi Sekolah Luar Biasa, maka kesan apa yang kalian dapat? Siswa lemah yang butuh uluran tangan? Atau para siswa luar biasa yang memiliki semangat empat lima? Suatu ketika, aku pernah melewati sebuah SLB. Di sana, aku melihat beberapa penderita disabilities. Mulai dari tunarungu, tunawicara, tunadaksa, dan lain-lain. Aku terenyuh melihat atmosfer di sana. Ada satu anak yang menyita perhatianku. Aku kurang tahu apa jenis disabilities yang dideritanya, namun, aku lihat sang ibu menggendong lelaki kecil itu dipunggung. Sekilas aku melihat jam tangan, waktunya mereka pulang.
      Lidahku terasa kelu melihatnya. Aku terpaku dalam hening yang tak terlukiskan. Bahuku bergetar. Kulihat lelaki kecil itu tertawa. Sang ibu menggendongnya dengan senyum merekah. Sungguh, tak ada tempat terindah di dunia selain keluargamu. Karena hanya di mata keluargamu, hadirmu amat dinantikan. Dan seketika itu aku berlari menuju ke rumah, berharap segera bertemu ibu. 
     Aku sering termenung. Kenyataan selalu sulit untuk diterka. Paradigma masyarakat mengenai penyandang cacat selalu membuat air mataku ingin mengalir. Bukankah seluruh manusia sama di mata Tuhan? Tapi mengapa dunia tak berpihak pada mereka? Mengapa?
     Lain kisah, lain cerita. Kala itu, aku mengikuti suatu lomba menulis di Jakarta. Di sana aku bertemu penderita tunanetra bernama Shena. Remaja lelaki itu memiliki semangat yang menggebu. Dalam suatu wejangan makan malam di sebuah restoran, Shena yang ditemani oleh sang guru berusaha menghibur kami di sana. Ia bicara denganku, bertanya siapa namaku, dan ia duduk di sebelahku. Aku dan finalis lainnya tertawa di buatnya, terutama ketika sang guru menyodorkan sambal. Aku terpukau oleh semangat Shena. Ia masuk nominasi juara melawan peserta normal lainnya. Sungguh aku berterima kasih atas kehadirannya. Sekali lagi, orang semacam Shena membuatku sadar.
       Dalam acara pemberian hadiah, Shena memberikan sebuah sambutan. Ia berkata, “Saya, Shena. Saya tahu siapa saya. Kami para tunanetra ingin semua orang memandang kami sama. Saya ingin kita sama-sama berjalan bersama, karena saya dan tunanetra lainnya tak ingin dipandag sebelah mata. Terima kasih atas penghargaan ini, saya berharap penghargaan ini bukan suatu ajang rasa kasihan untuk kami, namun untuk apresiasi terhadap karya.” Detik itu juga, air mataku merebak dibuatnya.
     Banyak hal yang tanpa aku sadari terjadi di dunia ini. Seringkali aku menganggap aku adalah orang paling tak beruntung, namun sebaliknya, aku adalah orang yang beruntung, karena masih banyak yang kekurangan. Kadangkala aku tak bersyukur dengan apa yang aku punya, dan kini, semua itu perlahan sirna karena Rio dan Film itu telah mengetuk pintu hatiku, membukanya dan mengisinya dengan jutaan harapan.
     Jika tuhan menunjuk kamu yang menjadi satu dari sekian juta manusia di dunia untuk menyandang ujian itu, apa yang akan kamu perbuat? Apakah kamu yakin kamu bisa kuat?
Kupikir, sudah saatnya masyarakat Indonesia memahami kondisi ini. Bahwa para penyandang cacat bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, tapi sebaliknya. Mereka harus disayangi. Banyak orang cacat yang justru lebih maju dibanding manusia normal lainnya. Banyak para keterbelakangan fisik yang lebih menghargai diri. Harusnya itu memberikan cerminan untuk kita yang seringkali memandang remeh diri sendiri. Tak yakin akan kemampuan diri.
     Jadi, mulai detik ini, buka matamu, nuranimu, bahwa adakalanya tuhan menciptakan kekurangan untuk menuju kelebihan. Tuhan menciptakan perbedaan untuk membuat kita belajar membuat kesatuan. Karena manusia adalah satu. Karena itu, genggam tangan mereka, rengkuh bahunya, dan berkacalah dari mereka, karena mereka bagian dari kita. Kita harus menyatukan kepingan-kepingan itu menjadi kesatuan. Menyatukan kepingan perbedaan di bumi dan menjadikannya satu. Karena Tuhan menciptakan manusia untuk saling melengkapi. Bukan untuk saling membenci.


-annisa-




Selasa, 20 November 2012

Menyergah Waktu

Waktu kian merangkak. Sementara aku masih terpaku pada ketidakmampuanku. Pada kebimbangan yang melanda benak ini. Waktu bak pak tua dengan bandul jam lusuhnya tersenyum padaku angkuh. Waktu seolah menghimpit dunia ini menjadi sekecil kuku. Dan.. mungkin saja aku sudah berada di ujung, berada di ambang batas yang terbentang.
Aku menengok ke belakang, melihat waktu yang dulu. Betapa besar kesalahan yang telah aku buat. Menghambur waktu, seolah masih ada esok yang akan ku emban. Kurasa, kini aku kembali berpijak setelah sekian lama melayang tanpa batas dan tiada arah. Kurasa nyawaku kembali ke raga, setelah sebelumnya menjelajah dunia yang fana.
Inikah aku yang kumau? Menatap lurus setitik cahaya dan berharap cahaya itu akan melebar. Berharap cahaya itu kelak akan menabiri tubuhku. Menerangi langkah yang tak luput dari goncangan.
Dan kupikir, meski waktu sempat mengambil alih diriku, aku harus bisa lepas darinya, menyergahnya. Menanggalkannya dalam kenangan yang hanya perlu aku simpan. Bukan aku tangiskan.

Rabu, 29 Agustus 2012

Untuk Kamu..

Semua yang dimulai, pasti akan diakhiri..
Nikmati sampai rasa itu perlahan pergi
Biarkan hari ini diisi oleh indahnya warna yang dia beri
Karena mungkin esok tak ada lagi dia di sisi
Biarkan rasa itu tumbuh dengan liar
Sebelum akhirnya kamu harus meranggas perasaan itu hingga ke akar
Biarkan rasamu mekar
Karena mau tak mau, kamu akan menggugurkan rasa itu kelak 
Jalani, dan biarkan waktu yang menuntunmu beranjak dari perasaan yang kini menyelimutimu
Nikmati, hingga perasaan itu pergi sendiri
Karena esok, mentari mungkin kan bersmbunyi
Dan perih yang akan mengisi harimu
Memaksamu untuk menganggap semua hanya angin lalu
Yang pasti akan pergi, tanpa pernah kembali lagi


~for someone, trust me nothing hurts could happened, because you had Me~

Selasa, 03 Juli 2012

Di Mana Ada Pertemun, Di Situ Ada Perpisahan

Di mana ada pertemun, di situ ada perpisahan..

Aku pikir, kata itulah yang pantas menggambarkan keputus asaanku kini. Aku selalu berpikir, mengapa tuhan membuatnya seperti itu? Mengapa harus ada orang baru? 
Aku tahu, itulah hidup. Namun, aku benci dengan perpisahan, perpisahan yang datang dengan tiba-tiba dan membuatku bahkan tak sempat mengucapkan salam perpisahan untuknya. Aku merasa bersalah. Selama aku mengisi kesehariannya, aku belum mampu memberi warna indah dalam hidupnya. Hingga hari perpisahan itu, aku tak tahu, apa yang harus aku lakukan. Aku ingin mengulang semuanya dari awal. Membuat perubahan di antara kami. 
Dan pertemuan, selalu menyiratkan kesangsian pada diriku. Aku takut, ragu, bila orang baru justru tak membuatku maju. Aku takut bila orang baru justru menyurutkan semangatku, mengubur hidupku. 

Semoga saja, orang baru itu, adalah orang yang mampu membimbingku lebih dari sebelumnya. Hingga aku tak lagi menyesal bila ada perpisahan lagi kelak.

Senin, 18 Juni 2012

Again, Write now is My Breath ^-^ (LOMBA TUPPERWARE)

Tanggal 14-16 Juni 2012 lalu, hari yang tak pernah terlupakan kembali datang. Hari itu, di Jakarta, saya kembali menerima sebuah penghargaan menulis cerpen tingkat Nasional yang diadakan oleh Tupperware Indonesia. Sungguh, meski saya hanya dinobatkan sebagai juara Khusus, saya sangat amat bangga, karena sesuatu yang baru sudah saya dapatkan. Terlebih, saya juga mendapat workshop langsung dari penulis ulung seperti Helvy Tiana Rosa. Sesuatu yang amat mahal, yang Bunda Helvy sampaikan adalah, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."


Semoga, hal yang sudah saya dapat ini tidak membuat saya cepat puas dan dibuai akan hal tersebut. Dan semoga, kelak, saya bisa terus berprestasi serta bisa menjadi penulis seperti Helvy Tiana Rosa.. bahkan lebih..
Amin



Minggu, 17 Juni 2012

Malam ilham

Angkasa berhenti memasang cahaya terang benderang. Berganti malam yang kian tenggelam. Dalam diam, aku mampu mendengar degup hati ini di tiap hembusan napas yang keluar. Sesekali, mata ini menatap putus asa sebuah benda dengan tiga jarum yang berbeda panjangnya. Mengapa? Mengapa harus ada waktu? Mengapa disetiap ada yang diawali pasti akan diakhiri? Mengapa setiap ada yang datang, maka ada yang pergi? Mengapa sesuatu yang dimulai pasti kan di akhiri?
Kesunyian telah menyergapku, membelenggu malam hingga nyaris tak ada kata terlontar dari bibirku. Tubuhku membeku. Lidahku kelu. Sekali lagi hela napas ini keluar dengan beratnya. Tetap dalam kesunyian aku berujar dalam batin. "Kenapa? Kenapa harus ada yang berlalu? Kenapa?!"


Waktu terus melaju. Jantungku terus berpacu. Dan.. hanya satu kata yang bisa aku katakan. "Aku, nyaris kalah."

Mata ini terpejam. Berusaha meresapi nyanyian malam yang lambat-lambat telah mengilhamiku sesuatu. Mengilhamiku sesuatu yang mampu mengangkatku dalam belenggu ini, sesuatu yang harusnya bisa mengentasku dari segala tekanan ini. Ya, itulah malam itu. Aku... harus mulai membuka mata hati, dan telinga ini, bahwa sejuta cara bisa datang padaku, meski di tengah kecamuk tekanan yang terngiang itu. Bahwa malam itu, segala sesuatu tentang diriku berevolusi, bermetamorfosis menjadi diriku yang jauh lebih indah. Menjadi Annisa yang semula semu, menjadi Annisa yang penuh rona Cahaya dan Tawa....

Rabu, 06 Juni 2012

List Magis

Ternyata memang benar dengan apa yang dikatakan banyak orang. Kalau tak ada sesuatu yang tak mungkin. Dan aku sudah benar-benar membuktikannya. Seperti pada postingan Nothing Impossible yang aku tulis. Hal pertama yang harus aku miliki adalah keyakinan, dan aku menulis semua keyakinan semu itu ke dalam sebuah list keinginan. Entah apa daya magis list tersebut, ketika aku benar-benar melupakan bahwa aku pernah menulis semua hal dan target yang aku inginkan, semua keinginan semu itu kini berada di hadapanku. Nyata dan tak maya.
Meski beribu kali aku berkata tak mungkin, nyatanya, ini ada, ini nyata, ini realita. Dan aku sudah berhasil menggapainya... semoga seterusnya dan selalu selamanya...

-Thanks for your inspiration Adel, Bunda, Semuanya!!

Sabtu, 02 Juni 2012

Light, here..

Pagi harusnya cerah
Siang harusnya penuh cahaya
Tapi, pagi ini, mentari bersembunyi
Mentari berlari menjauh, dan tergantikan oleh kelam awan hujan. Terik sang surya di kala siang menghilang. Tenggelam dalam balutan awan legam dengan angkasa yang nyaris tak bercahaya.
Di mana mentari? Dimana sang surya? Di mana cahaya?
Aku disini, mendongakkan kepala tanpa sedikitpun memicingkan mata. Perlahan, amat perlahan, manik mata ini   berkedip beberapa kali. Ya, aku melihat cahaya. Ada setitik cahaya yang sama sekali tak bisa dihempas sang mendung. Itu.. dia..
Cahaya itu... ada di sini... Di dalam diri.. Di dalam hati...



Minggu, 27 Mei 2012

Nothing Impossible!!

Hari ini, entah tanggal berapa aku lupa, terdapat sebuah pelajaran yang dapat aku petik sekali lagi, pelajaran yang saya dapat dari sebuah seminar pendidikan. Bahwa hidup ini merupakan suatu pilihan. Banyak orang bilang sukses merupakan suatu langkah yang amat besar bila kita harus menapaki jalan untuk bisa meraihnya. Ya, memang, sukses pun memiliki banyak definisi tergantung bagaimana orang itu memandang sebuah kesuksesan.
Dan... kali ini, aku sadar. Kalau kita sebagai manusia tak boleh terus berada pada titik yang sama bila waktu mulai beranjak. Sekarang dan seterusnya, harus lebih baik dari dulu. Seperti kata orang yang memotivasi saya, bahwa, "Dulu, saya memang pemalas, tetapi, sekarang dan seterusnya, saya adalah orang yang rajin" begitu katanya dengan semangat yang menggebu.
Nampaknya kata itu membuat pintu hati saya yang semula tergembok dan dibentengi suatu sekat tebal, mulai terbuka dan dinding itu runtuh. "Aku adalah apa yang aku pikirkan"
Ya, dengan demikian, kekuatan pikiran adalah hal yang amat menentukan seseorang. Karena keyakinan dan kepercayaanlah yang membuat kita terus berada pada jalur yang benar. Seringkali seseorang selalu berpikir "Apa bisa?" "Kayaknya nggak mungkin deh?" "Masa iya sih?" dan perkataan itulah yang justru membuat seseorang benar-benar jatuh dalam omongannya sendiri.
Karena sesungguhnya tak ada sesuatu yang tidak mungkin, Keep smiling!!! Nothing Impossible!!!

Selasa, 15 Mei 2012

....

"Huaaaa!!!"
(Teriak)




"knpa nis?!"



"Nggak, gppa, aku masih waras kok. Tenang aja."
(Meringis)




Kamis, 10 Mei 2012

Confused

Lagi.. lagi.. dan lagi...
Ingatan kelam itu bertandang lagi, mengisi, memenuhi semua relung hati yang selangkah lagi hendak menapaki puncak semangat. Tetapi, ketakutan itu nampaknya tak akan pernah surut membanjiri jiwa dan nurani ini.
Langkah bulat yang semula aku canangkan, kini berubah menjadi keraguan untuk melangkah.
Apa yang bisa dan harus ku lakukan? diam dan bungkam?
Ahhh.. ada apa denganku?!
Apa ini yang disebut maju? Ingat! aku punya janji pada diri dan semua, dan aku juga sudah berjanji pada sang waktu untuk membelenggunya..
...................................................
to be continued...

Selasa, 08 Mei 2012

Esok harus lebih indah

Esok masih ada. Harusnya...
Esok kan cerah. Inginnya..
Esok lebih indah. Seandainya..

Aku.. berdiri di sini, bersama bayangan dan sudut hatiku yang tinggal setengah. Berharap, esok mentari menatapku, dan menuntunku riang dalam balutan kebahagiaan yang tiada tara. Aku, terutama kakiku, masih tegap dan kuat menopang tubuh lunglai ini. tetapi tidak dengan hatiku, nuraniku.
Hatiku telah rapuh dan lapuk, karena terlalu banyak tamparan-tamparan yang membuatku tak lagi sanggup berlari, bahkan sekadar berdiri.



Aku... ingin berlari, meraih, dan bukan meratapi..

Rabu, 25 April 2012

Karena Mereka Ada

Aku percaya. Ya, tentu saja. Aku percaya bahwa dunia tak pernah mengabaikan ku. Bahwa dalam hidup ku yang singkat ini, aku masih memiliki banyak cinta. Cinta yang bahkan tak terhingga jumlahnya. Secarik jiwaku yang hampa, berangsur penuh akan kasih tulus mereka. Dan meski umur ku terlihat minim, dengan adanya mereka, aku merasa abadi selamanya.
Dikala aku berkata, tak mungkin, mereka menengadahkan kepalaku dan berujar, bahwa tak ada satu pun hal yang tak mungkin. Apabila aku berseru, sudah aku menyerah, mereka menarik lenganku, menggamit jemariku, dan menuntunku menuju sesuatu yang mereka anggap bahwa semuanya belum berakhir.
Terkadang, bahkan seringkali, aku merasa bahwa aku terhimpit dalam segala macam bentuk tekanan yang begitu berkecamuk. Tapi, ternyata, di tengah peliknya tekanan itu, ada mereka yang sesungguhnya memiliki lebih banyak masalah dibanding aku. Tentu, aku merasa sangat bersalah. Aku kurang peka. Aku egois, kata kejamnya. 

Aku berjanji, akan tetap mengejar mimpiku yang terlalu tinggi itu, berjanji pada diri sendiri dan orang lain. Mereka semualah yang akan menuntunku melangkah, meniti kehidupan yang selalu dan selalu ada aral yang bertandang. Aku bukan orang yang lemah dan tak berdaya, aku punya asa dan sejumput cinta, bahkan segala bentuk cinta, bukan hanya sejumput saja.  



Life is like riding bicycle. To keep your balance you must keep moving.

Sabtu, 21 April 2012

Pilu?

Pilu?

Semua memang terlambat, begitu terlambat, hingga aku baru menyadari perihnya seperti ini.
Semua yang kulakukan terasa begitu hampa dan tak berguna. semua senyum itu... sudah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun padaku. meninggalkanku tersudut bersama sisi diriku yang hampir lenyap. aku.. bahkan tak pernah mengerti siapa aku ini dan untuk apa aku tetap berdiri disini. meski aku merintih, menangis tiada henti, tak akan pernah ada yang ingin menyeka bulir yang mengalir di sela pipiku. meski dunia ini hampir banjir, digenangi air mata pilu dariku, tak akan ada seorang pun yang kan menghentikan tangisku. 
Aku? siapa aku? orang yang hebat? Ahh..
Aku yang dulu? aku yang sekarang?
kali ini aku benar tersadar dari tidur panjang, bahwa sudah saatnya aku melangkah. meniti jalan baru yang terang benderang, dengan lebih dalam menatap ke depan dan bukan lagi ke belakang. aku tak butuh lagi senyum itu, yang aku butuh hanya tiupan semangat dari hatimu, walau tak dibibirmu, hanya di hatimu, aku sudah sangat kokoh, begitu kokoh dan terlalu kokoh untuk bisa tetap berdiri. 
meski semua ini terlambat, aku janji, aku akan menjadi diriku yang lebih berarti di matamu.dan di mata seluruh orang yang pernah memandangku sebelah mata. aku akan memberikanmu senyumku, meski kau tak pernah membalas senyum itu, jika aku kelak berevolusi menjadi orang yang kau mau. Tunggu aku. Tutup matamu, buka lebar pendengaranmu, maka kau akan mendengar teriakan semangat dalam hatiku yang bergejolak. Kau tahu, waktu pasti terus berjalan, begitu pula darahku yang akan terus mengalir. seiring dengan semua itu, kau akan tercengang mengenal diriku yang baru, meski dulu kau bahkan tak pernah tahu siapa aku dan untuk apa aku menngganggu harimu. Esok, aku akan bertandang ke hidupmu bukan sebagai pengganggu, tapi sebagai pelangi yang mengisi harimu...

Dont give up to face the day.. yeah,  although you dont know who am i, one day, you will be shock with MY NEW LIFE..  

^_^ aku tak pernah menyesal kau pernah datang di hidupku, karena sesungguhnya semua itu membuatku tersadar bahwa hidup itu terlalu berharga untuk diratapi.. Thank you and I am sorry..

Minggu, 01 April 2012

Write now is my Breath (LOMBA CERIS NASIONAL)

Hari itu, tepat di bulan Agustus tahun 2011, hari,bulan, dan tahun yang tak akan pernah aku lupakan. Hari di mana aku dinobatkan sebagai pemenang lomba MENULIS NOVEL CERIS TINGKAT NASIONAL. Untuk kali pertama, aku bisa menginjakkan kaki ke Jakarta dengan jerih payahku selama ini. Tak sia-sia semua usaha dan doa yang aku panjatkan, juga semua dukungan kedua orang tua yang tak surutnya menghujani keputusasaanku bila merasa itu semua tak mungkin.
Ada satu kalimat yang selalu saya ingat, Noorca M Massardi berkata, "Bakat hanya menentukan tak sampai dua puluh persen dari kesuksesan seseorang, namun ketekunan dan keinginan yang penuhlah kunci dari semuanya."
 aku sangat amat bersyukur bisa bertemu orang-orang yang satu tujuan denganku. Dengan begitu, aku memiliki satu motivasi lebih untuk terus berkarya.



Mulai hari itu, aku jadi lebih semangat menulis. Mulai detik itu, aku sadar, bahwa menulis, adalah diriku, jiwaku,  nafasku...


 

Template by Best Web Hosting