Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2015

Repost: Cloud(s) (20 Februari 2013)


Little quotes from: Cloud(s)

        Sang roda waktu mungkin terlihat bisu, tapi mereka bahkan tak pernah sekali pun diam. Mereka bicara dan terus berkata. Ada celah di mana kamu harus mengingat, sesuatu yang bisu tak selalu bebas dari suara. Seperti bahasa-bahasa yang tercipta antar manusia atau manusia dengan lingkungan. Seperti juga lampu merah di jalanan. Mereka bicara. Mereka menyampaikan sesuatu. Walau terlihat bisu.

Reason


        Bibirku mengulum senyuman sinis. Memandang inci demi inci angka yang tertera di sana diam.

        Hujan. Ia berkawan dengan petir kali ini. Membuat alunan nada yang bergema di ujung telingaku tersamarkan. Jemariku melempar jauh kalendar ke atas ranjang. Tersadar bahwa aku sudah merangkak jauh dan melupakan sesuatu yang tertinggal di belakang. Memilih untuk kembali? Merangkak?

        Tidak. Aku masih lebih dari waras untuk kembali dan merangkak lagi.

        Sejenak hujan mendekam ketika earphoneku tak lagi bersuara. Seolah sepasang kaktus di atas meja menertawakanku yang tak kunjung maju barang selangkah.

        Aku mendengus kesal. Alunan gitar yang kembali menggema seolah menahan air mataku untuk tumpah. Aku tidak benar-benar tau judul lagu apa yang aku dengarkan. Yang kutahu hanya nada-nada sendu itu mampu membuatku benar-benar menjadi diri sendiri.

        Reason.

        Kugigit bibir bawahku. Walau tak sebait lirik pun terdengar, entah mengapa otakku seolah melafalkan sesuatu.


        Reason.
        Aku memandang judul yang tertera. Diam.

        Semua berawal dari sebuah alasan. Alasan mengapa kita harus bernapas. Mengapa kita harus tidur. Mengapa kita harus melaju. Mengapa kita harus beristirahat.

        Bahkan alasan mengapa Tuhan memberikan cobaan.

        Mungkin juga alasan mengapa aku membeli dua kaktus kurus yang kini menjadi penjaga kamarku.

        Entahlah. Alasan adalah sesuatu yang dapat membuatmu memulai mau pun mengakhiri. Alasan adalah sesuatu yang mampu membuatmu berdiri tegak meski orang lain menolak. Alasan adalah sesuatu yang membuatmu melangkah lebih jauh walau kamu tahu ada beberapa biji paku.
       
        Bahkan untuk suatu hal yang kau anggap tak berasalan justru memiliki sejuta macam alasan. Benar bukan?
       

Repost: Alas Kaki (Minggu, 23 Februari 2014)


       Aku memutar sebuah lagu lama yang kukenal dari teman sekelasku. Alunan gitar menyapa senyap udara. Begitu dalam dan tenang. Sebuah lagu dari maestro Indonesia. 'Iwan Fals'
       Aku merinding menyimak suara berat sekaligus hangat. Seperti disetrum listrik, tubuhku seketika tak berkutik.

       Andai kau ijinkan..
       Walau sekejap memandang 
       Kubuktikan kepadamu 
       Aku meiliki rasa

       Aku memejamkan mata. Meresapi tiap makna yang melayang di otakku dengan seksama. 

       Cinta yang kupendam 
       Tak sempat aku nyatakan
       Karena kau telah memilih 
       Menutup pintu hatimu
        
       Senyap.

       Aku menghentikan alunan lagu tanpa kusadari. Sadar diri bahwa aku tak cukup kuat untuk menelan pahit sedini ini.
       Hari ini adalah malam tahun baru. Malam di mana tahun akan bertambah satu angka. Tapi, apa yang akan berubah dariku?
      
       Aku ingat ketika umurku masih belia. Dengan harapan buta, aku mengharapkan mimpi kosong terjadi. Dan kini aku tahu diri, mimpi itu akan selamanya kosong jika aku tak pernah berusaha mengisinya, mencoba merealisasikannya.
       Waktu sudah beranjak jauh. Tapi aku baru melangkah sejengkal saja.
       Saat ini aku berjalan tanpa alas kaki, berjalan dengan luka yang tercipta dari kerikil kecil dan serpihan kaca. Itulah yang membuatku tak pernah bisa melangkah lebih jauh. Namun tidak dengan hari berikutnya. Aku akan berjalan dengan alas kaki bernama 'Mimpi'. Berjalan lebih cepat dan tepat.
       Maka aku kembali bertanya, apa yang akan berubah dariku di tahun 2014 ini? Jawabannya ialah, perasaanku. Perasaan yang rapuh.
-2013
Midnight-

Jumat, 19 Juli 2013

[Cerita Bersambung] Kosong Dalam Kubangan Kebahagian

Tidak. Aku tidak benar benar bangga dan bahagia bisa berada disatu sekolah yang sama denganmu. Tidak setelah aku tahu siapa bidadari itu.
Rencana Tuhan terkadang terlalu memojokkan. Dan aku yang harus menanggung beban. Dari sekian banyak kelas, akulah yang kini menempati kelasmu dulu. Bersedih sendiri ketika semua tertawa bahagia. Merasa kosong di tengah jiwa-jiwa yang tengah berbunga.
Ini lucu, tapi tidak membuatku tertawa. Apa takdir hanya seujung kuku? Dan kebetulan kita bertemu pada satu titik tumpu yang sama?
Melihat namamu dan nama gadis itu di papan tulis, membuat luka lama yang jauh lebih membunuh. Ini caramu menunjukkan kekuatan cinta? Berkata pada dunia bahwa ada malaikat dari surga yang menjagamu. 
Ini cukup untukku menyadari sesuatu yang harusnya sudah sejak dulu kusadari. 
Tapi, apa ini cukup untukmu mengakhiri sakit yang terus kau jatuhkan padaku? Apa tak ada kata lelah bagimu memberiku luka luka yang kelak akan bertambah parah?

Bahkan jika kisah ini bukan untukku, setidaknya aku bersyukur, aku pernah mengenalmu. 


Kosong Dalam Kubangan Kebahagiaan
-Annisa-
19.07.13

Sabtu, 15 Juni 2013

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Terbunuh Waktu

         Aku masih ingat, semua itu terjadi bertahun yang lalu. Ketika dua musim dingin dan dua musim semi berlalu seperti halnya langit biru yang akan berganti malam. Diam, namun menjanjikan. -Venisia




       Entah bermimpi apa aku sebelumnya, berjalan ke sekolah tempatmu menimba ilmu, seperti diuji oleh malaikat pencabut nyawa dengan tongkat besar di tangannya. Ini memang mimpiku, bukan deja vu. Mimpiku untuk bisa berusaha menunjukkan bahwa aku tak akan pernah menyerah.

        Dari lautan manusia yang ternyata seribu delapan ratus jumlahnya, aku berdesakan diantara mereka untuk menuju ke ruang tiga puluh satu. Di sanalah aku akan dites. 
        Hampir setahun yang lalu, terakhir kalinya aku melihatmu. Aku tak pernah tahu, setinggi apa kamu sekarang, seputih apa kulitmu, sekurus apa tubuhmu, seberandal apa dirimu. Entahlah, hanya sisa bayangan akan tatapan tajammu dan senyum samar saja yang dapat terukir di benakku yang dangkal. Jika aku memang salah memilih sekolah ini, setidaknya ada kisah yang mengatakan bahwa aku bukan manusia yang mudah menyerah.
        Aku berjalan melewati koridor dengan mata siaga. Menacari sosokmu yang setidaknya menyapa mataku. Hanya mataku, bukan diriku. Aku terpaku pada segala pelosok sekolah. Mereka bilang kau sedang UKK. Kamu sedang bergelut bersama angka angka dan kata yang membuatmu sakit kepala.
         Aku tak pernah benar-benar menjamin apa aku bisa duduk di salah satu bangku kelas sekolah ini atau tidak. Tujuanku cuma satu, kamu.
           Aku seperti bunga matahari yang mengikuti mentari. Kali ini, aku bunga matahari yang layu. Ya, karena aku kehilangan mentariku.
           Hingga tes usai, aku masih tak melihat sosokmu. Apakah ini tanda bahwa kita akan bertemu di waktu lainnya? Ketika aku sudah berseragam SMA? Berdasi sama dengan yang kamu punya?
           Sekarang, tak ada yang dapat aku lakukan. Hanya menunggu waktu membunuhku. Mengantarkanku pada surga atau neraka. Tempat di mana kita bisa satu sekolah, atau melanjutkan kisah berdarah yang tak ada ujungnya.
           Dan kuharap, surga adalah tempatku bertemu denganmu.. Di sini, di sekolah ini..

Minggu, 02 Juni 2013

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Ini Celah di mana Aku Harus Menyerah

Ketahuilah, semua manusia pasti punya batas kemampuan. Begitu pula aku. Aku mundur. Tapi, sahabatku berkata, kamu mundur untuk melangkah lebih jauh. Ya. Untuk saat ini, aku mengaku kalah, aku menyerah. Tapi aku masih percaya, cerita ini tak akan pernah ada akhirnya sebelum bahagia menyemat akhir endingnya. -Venisia


Butiran hujan berjatuhan memecah udara yang sebelumnya hangat. Dalam keheningan sendiri, Veni membuka lemari buku, mengambil sebuah buku berisi rumus matematika yang mencolok mata. Tapi sebuah buku lusuh mencuat di antara buku-buku tebalnya. "Buku ini?"

Venisia perlahan mengambil buku itu. Sebuah buku seukuran buku tulis dengan sampul coklat muda membalutnya. Ada tulisan tangan Venisia di depan. Tulisan yang hampir buram.

Venisia membuka halaman pertama buku itu.

"Aku percaya pada cinderella, bahwa ada saatnya cinta yang telah lama kau tunggu itu akan datang. Ia akan menghampirimu, menyapamu dan menjanjikan bahagia padamu," Veni membaca tulisan itu lamat. "Tapi ada juga saat di mana harus ada luka yang mendera dan air mata yang bercucuran. Seperti itulah sinema drama."

Venisia menghela napasnya. Jadi, apa ia bagian dari drama itu?

"Cinderella bilang, semua yang baik akan menang." kembali Venisia membaca kisah yang pernah dibuatnya. 

Hujan yang menari di luar rumahnya seolah memaksa Venisia memutar memori terbuang di benaknya. Ketika untuk kali pertama ia menyadari siapa dirinya. Ia bagian dari drama. Tapi ia adalah tokoh jahatnya.

"Varis sudah punya bidadarinya. Dan aku? aku berusaha merebut kebahagiaannya.."

Venisia merasa ada sesuatu yang menekan dadanya. Sesak.
Selama ini, ia bukan puteri baik hati yang kelak akan berdiri di sisi pangeran. Ia adalah tokoh kejam pembawa kegelapan. Ia akan kalah, karena ia tak punya apa-apa. Tapi mengapa harus ia? Mengapa tokoh jahat tak bisa menang?

Venisia bangkit dan mengambil telephon genggamnya. Beberapa detik berlalu, termakan waktu. Venisia mengeluarkan kartu berbentuk persegi yang terpasang di telephone genggamnya. Meremas benda itu dengan hati memanas. Bergumam sesuatu yang amat berat. "Terima kasih karena bersedia berbagi kisahmu di sini. Tapi aku tahu siapa aku. Sekali lagi terima kasih." Sebutir air mata berderai bersama desah keputusasaanya.

Sudut mata Venisia dibanjiri air mata. Terluka. Bersalah.
Ia memejamkan mata dan ketika ia membukanya, kartu berisi nomor Varis sudah terbelah menjadi dua. Seketika, hanya ada suara jerit hatinya yang tersisa. Karena Venisia menyerah. Ya, menyerah.




Minggu, 14 Oktober 2012

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Kamu Aktor, lalu, Aku?

Jika aku penulis dalam setiap alur kisah hidupku, haruskah aku memilihmu untuk menjadi tokoh utamanya? Jika iya, akankah aku memilih akhir bahagia dalam akhir ceritanya? Atau.. aku harus menyimpulkan akhir yang tragis namun selamanya dikenang... entahlah, ini sulit, perasaan ini sulit, rumit.
^^^

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Kamu Aktor, lalu, Aku?
           
                   Venisia terduduk membisu di sudut kelas. Terbalut dalam gelap sisi dirinya. Ia nyaris sengsara. Kenyataan bahwa sesuatu telah berangsur berubah darinya, membuat Venisia dilema. Ia masih belum terlalu kuat untuk menyimpulkan hal itu. Ia masih belum memiliki keberanian yang cukup untuk melihat hal yang berubah. Venisia hanya takut. Ya, takut.
                  Waktu kian melaju. Begitu pula perasaannya yang tak pernah berhenti di satu titik. Venisia mulai bisa meraba mengenai hal yang ia rasa, mengenai deburan dalam hatinya yang tak pernah hampa. Ini kali pertamanya ia merasakan, Cinta. Dan.. ini kali pertamanya menangisi sesuatu yang tak seharusnya tak ia tangisi. 
                   Beberapa gambaran kejadian yang sempat terjadi kembali berputar dalam benaknya. Melayang,  menari, menggerogoti akal sehatnya. Semua pesan manis dari Varis. Hal itu membuat Venisia seakan terbang ke langit berbintang yang tak bertepi. Dan saat ini, ia belum tahu bagaimana caranya turun kembali.
                   Venisia ingat, ketika kali pertama, suara serak itu terdengar indah di gendang telinganya. Untuk kali pertama, Venisia bisa mendangar suara tawa pujaannya. Pangerannya.
                    Jika Varis pangeran dalam sebuah dongeng yang aku buat, lantas siapakah diriku? Nenek sihir yang merenggut kebahagiaannya? Atau mungkin putri tidur yang baru bangun ketika sang pangeran berkata cinta padanya?
                    Venisia menghela napas dalam dan berat. Ia mampu merasakan betapa berdebarnya hatinya kala itu. Ketika pangeran berkulit putih bak vampir itu menghubunginya. Venisia bisa membayangkan, untaian senyum yang terpeta ketika ia saling bicara.
^^^
                      Seseorang melangkah menuju kelas, tatkala tanpa Venisia sadari, air matanya mulai berderai. Lampu pun menyala. Sontak seisi kelas kembali jelas terlihat. Seseorang yang menyalakan lampu berkata, "Wah, ternyata ada penghuninya?"
                        Venisia buru-buru menghapus rinai air matanya yang ternyata mulai mengering. "Ven, kamu kelilipan? Mata kamu merah?" tanya orang tersebut.
                       "Ah, masa sih, Kay? Aku ngantuk mungkin, kamu kan tahu kalau aku insom."
                       "Kamu habis nangis kan?"
                       "Ngaco! Veni nggak pernah nangis."
                       "Mata kamu baru aja bicara ke aku."
                       Veni terdiam beberapa saat. 
                       "Soal Varis lagi?"
               Tak ada kata yang mampu keluar dari bibir Veni. Semua serasa tersendat dalam kerongkongannya dan berebut ingin keluar. Namun, yang ada napasnya kian memburu. Dan dengan reflek, gadis itu menghambur ke pelukan Kayla, sahabatnya.
^^^
         Dua bulan ini, Veni selalu menumpahkan keluh kesahnya pada Kayla. Semuanya. Mengenai perasaanya dan isi pesan Varis pada Venisia. Kayla dengan besar hati menampung semuanya. Entah mengapa, Kayla sering larut dalam kisah antara Varis dan Veni yang baginya sangat mengharukan. Ia memehami Venisia lebih dari Venisia memahami dirinya sendiri.
                 Ini kali pertama Venisia jatuh cinta dengan derai air mata. Varis sosok yang berbeda dan berhasil merebut hati Venisia yang tak terduga. Namun, kenyataan tak sejalan dengan harapan. Venisa mungkin pernah berharap lebih terhadap Varis, mengingat semua hal yang pernah ia lakukan dan korbankan demi Venisia.
                Satu cerita, ketika Varis dan Veni tengah asik berkirim pesan, mendadak Varis hilang. Venisia diam saja, ia pikir Varis sedang sibuk atau tertidur, karena mereka biasa berkirim pesan ketika jarum jam melebihi angka 9 malam.
                    Handphone Veni tiba-tiba menerima sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
                    From: 0821XXXXXXX
                    Maaf baru bales, ndul. Ini nomernya Ibukku, sementara smsan pakai ini dulu, ya :)

                    Satu hal yang terlintas di pikiran Veni. Apa perlu kamu balas sms dari orang sepertiku? Orang yang bahkan tak pernah bertatap wajah denganmu, bertegur sapa padamu. Dan, Bahkan, ketika kamu melakukan usaha yang tak terduga, aku selalu sangsi akan perasaan ini...

^^^



By:


               

Senin, 01 Oktober 2012

[Cerita Bersambung[ Kisah Venisia: Perfect?

          Venisia melangkah lebar menuju kelasnya. Pagi ini, kelas nyaris seperti kuburan. Tak ada tanda kehidupan di dalamnya. Veni, dengan langkah santai duduk dan melemparkan tasnya. Sesegera mungkin ia keluar untuk menanti Kayla. Namun, nampaknya, ia tak benar-benar bertujuan menyambut Kayla di depan gerbang sekolah, melainkan menanti pangerannya yang hari ini memiliki jadwal bimbingan belajar pukul enam. Karena, sejatinya, Veni nyaris tak pernah menginjakkan kaki di sekolah, sebelum pukul tujuh.
Veni berjalan seorang diri dengan mata terus menilik sosok tampan bertubuh jangkung itu muncul. Beberapa kali ia melirik jamnya. Waktu seakan terhenti di mata Veni. Dimana Varis?

Kisah Venisia: Perfect?

                Venisia mulai letih dan memilih untuk kembali ke kelas. Ia tak menemukan Varis, atau bahkan Kayla. Yang ia temui hanya Pak Thomas dengan kumis emasnya, yang selalu menyilaukan mata.
                “Udah bangun pagi-pagi, nggak tahunya Varis nggak ada.” Veni melangkah lunglai menuju kelas, wajahnya suram, muram, dan kelam. Aura mengerikan terpancar darinya.
                Veni melirik jamnya sekilas. “Jam setengah tujuh? Harusnya Varis udah dateng, apa dia nggak masuk? Atau malah dia datang pagi tadi, sebelum aku sampai?!”
                Baru saja Veni akan membalikkan arah jalannya, Varis dan seorang temannya muncul dengan kalapnya. Mereka berdua berlarian tak keruan, senggol sana, tabrak sini. Hingga Varis pun tak sengaja menyenggol bahu Veni yang masih tertegun.
                “Eh? Sory, Dek!” celetuk Varis seraya terus melaju. Lelaki itu menolehkan kepalanya ke arah Veni dan berteriak begitu saja. Namun, Veni terlalu tak menyangka untuk bisa angkat bicara dan berkata “Nggak apa-apa.”
                “Yang barusan lewat tadi... Malaikat?”
^^^
                “Ven, temenin aku ke kamar mandi ya?”
                Kayla menyenggol siku Veni diam-diam. Ia berbisik takut ke arah Venisia yang sedari tadi tersenyum tanpa sebab yang pasti.
                “Eh? Sekarang?”
                “Hu’um. Aku kebelet, ini udah diujung tanduk.”
                “Harus?”
                “Sialan! Ayo buruan!”
                “Hehe,”
                Veni dan Kayla bersama menuju kamar mandi meski dipertengahan pelajaran Bahasa Inggris. Sementara Kayla berada di dalam kamar mandi, Veni asik merapikan diri di depan cermin persegi yang tergantung di atas wastafel.
                “Kay! Masih lama?” teriak Veni ketika kesabarannya berangsur hilang.
                “Iya, sabar kenapa!” balas Kayla.
                Veni terdiam sesaat. Bingung dengan apa yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan penat. Beberapa menit terlewat. Veni pun bersandar di tembok untuk sekadar meluruskan punggung. Namun, ketika matanya mengalih ke beberapa torehan kalimat, tubuhnya menegap dan sesegera mungkin membacanya.
                “VARIS <3 DEA?!” Veni membaca tulisan itu dengan lisan yang keras.
                “Apa-apaan ini?”
                “Varis 9.7 Kece!” Veni menghela napas dalam. “Siapa cewek kurang kerjaan yang tulis ini?” katanya datar.
                “Eh? Veni ngapain?”
                Kayla menatap sahabatnya dengan pandangan penuh selidik begitu keluar dari kamar mandi. “Udah, Kay? Nggak kurang lama?” tanya Veni mengalihkan topik.
                “Mau yang lebih lama, hah? Kamu ngapain ngeliat tembok sampek segitunya?”
                “Lagi lihat peninggalan sejarah.”
                “Hah?” Kayla mengerutkan kening. Sama sekali tak mengerti maksud sahabatnya. Tak lama ia pun mendekat dan sama terbelalaknya ketika melihat tembok didominasi kalimat berisi nama VARIS.
                “Ternyata Kak Varis seterkenal itu ya?” terang Kayla dengan polosnya.
                “Elu kemana aja, Kay? Dari dulu kali. Walau pun bukan OSIS, dia udah jadi bintang!”
                “Oh, tapi aku tetep nggak suka sama sifatnya. Varis itu Cuma menang tampang, tapi otaknya kosong. Yah, jangan lupa juga sifat playboynya!” antusiasme Kayla selalu meningkat ketika membicarakan keburukan Varis. “Ayo, buruan! Bu Bahasa Inggris bisa jadi liar kalau kita nggak balik-balik!”
                Kayla pun berlalu meninggalkan Veni yang masih mematung. Sebelum Veni menyusul Kayla, ia menyempatkan diri melirik ke beberapa deret kalimat yang melekat bersama beberapa kata kurang sopan di tembok. “VARIS, I LOVE U.” Veni pun berlalu setelah mengambil napas panjang dan dalam.
                Apa Varis seistimewa itu?
^^^
                “Mirna agresif banget sih kalau lagi ngegosip? Apalagi waktu ngegosip tentang Kak Varis. Mimpi Mirna nggak ketinggian apa bisa pacaran sama Kak Varis?” celetuk Anita.
                Kayla dan Veni yang berada di sampingnya hanya mengangguk pasrah.
                “Oke, Mirna emang putih dan lumayan tinggi, tapi itu aja kayaknya nggak cukup,” imbuh Anita seraya melipat tangan.
                Veni yang tengah berusaha melumat bakso ukuran medium seakan tak mampu bernapas. Sedang, Kayla yang tengah menuang sebotol kecap, nyaris menuangkan seluruh isinya dan membuat kuah baksonya menjadi hitam legam.
                “Aku bener nggak? Kak Varis nggak mungkin kan suka sama adik kelas macam Mirna?”
                Veni dan Kayla bersamaan menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Namun, pada akhirnya mereka sama-sama menggelengkan kepala.
                “Oke, hari ini, tugas kelompok kita biar aku aja yang kerjain. Kalian berdua makan sampek puas, ya. Aku mau cari tahu soal Kak Varis. Daaa!” Anita bangkit dari duduknya dengan pancaran wajah sedikit resah. “Kay, itu kuah bakso atau kuah empek-empek? Item banget?” sela Anita sebelum akhirnya hilang di telan kerumunan orang.
                Kayla dan Veni saling berpandangan. Beberapa detik kemudian tawa mereka meledak.
^^^
                “Kay, menurut kamu, Varis punya aura apa sih? Kenapa dia sampek di puja sama semua cewek di sekolah?”
                “Mungkin karena alisnya yang tebel dan rambutnya yang kemerahan karena di semir. Jadinya kelihatan nongol banget waktu upacara.”
                “Nggak logis, Kay.”
                “Pertanyaan kamu juga nggak logis. Kalau kamu cewek tulen pasti tahu jawabannya apa?”
                “Iya juga sih. Jawabannya Cuma satu, karena dia ganteng.”
                “Nah, itu tahu.”
                “Cowok ganteng pasti sama cewek cantik.”
                “Nggak selalu. Cantik itu variatif. Cowok kayak Kak Varis itu susah ditebaknya. Mungkin seleranya sama yang item manis. Atau malah yang tembem dan imut. Siapa tahu?”
                “Tapi normalnya, dia pasti suka cewek cantik yang tinggi dan putih.”
                “Iya, tapi cinta itu nggak normal, Veni. Nggak tahu siapa dan gimana orang yang kamu suka, yang pasti perasaan itu nyata dan nggak bisa dengan mudah dirubah.”
                “Iya sih, Kay. Tapi..,”
                “Kenapa sih kamu? Veni jadi aneh, deh. Ada masalah, Ven?”
                “Enghh, nggak Kay. Masa sih aku aneh, perasaan biasa aja. Oiya, nanti sebelum pulang, kita mampir ke sewa DVD dulu ya?” Veni berusaha mengelak. Lantas, ia memutar topik.
                “Kenapa? Mau ketemu Mas-mas penjaganya? Ngaku!”
                “Nggak lah! Enak aja!”
                “Terus, ngapain?”
                “Aku mau pinjem DVD film Twilight. Lama udah nggak nonton itu.”
                “Oh, setahuku kamu nggak suka film itu?”
                “Mungkin dulu iya, tapi.. nggak tahu kenapa, sekarang aku suka.”
                Kayla mengangguk setuju. Namun, Veni masih sedikit ragu. Dalam siratan wajahnya, tergambar jelas, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Tapi apa?

                Awalnya aku membenci film berbau vampir, karena bagiku, mereka menyeramkan, dingin, dan berbahaya. Namun, kurasa, perlahan aku menyukainya, karena nampaknya, alasan aku menyukai itu, karena aku menyukaimu..
^^^




~to be continued~

Sabtu, 01 September 2012

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Awal yang Rumit



                Apa bisa? Setiap mili tangis yang terbuang karena kamu, maka setiap debit rasa yang memekakkan hatiku juga akan meluruh? Apa mungkin? Setiap luka yang kamu torehkan dalam hatiku, mampu membuat aku membencimu dan membuatku melupakanmu?

                “Veniiiiiisiiiiaaaa!!!!”
                “Iya, sory. Beneran aku lupa! Maaphhhh, Kay!”
                “Nyebelin! Sekarang nilai kita dikurangi kan?!”
                “Yaa... Mau gimana lagi, Kay,” Venisia hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. “Maaf. Eh, gimana kalau kamu aku traktir makan?”
                “Veni, aku ngerasa banyak hal berubah dari kamu. Kamu yang dulu polos dan selalu rajin kerjain tugas, sekarang berubah.”
                “Eh? Maksudnya?”
                Kayla mengedikkan bahu. “Nggak tahu, aku juga nggak tahu harus gimana jabarinnya.”
                “Aku sebenernya juga ngerasa. Nggak tahu kenapa.”
                “Apa karena Aldi? Cowok tetangga kamu yang katanya ngejar kamu sampek ke ujung bumi itu? Yang tiap detik, menitnya diisi dengan nge sms kamu pesan sok manis itu? Karena dia? Kamu jadi nggak fokus?”
                Veni menggeleng yakin. “Bukan, bukan dia. Sama sekali bukan dia. Aku udah nggak peduli sama dia, meski sampek dia jatuh dari gedung setinggi 17 meter aku nggak akan sekali pun noleh ke dia. Aku udah punya seseorang yang isi hat..,”
                “Oya? Siapa orang yang udah buat kamu jatuh cinta? Kak Varis? Atau... cowok jual gorengan di depan sekolah? Denger-denger sebenernya dia mahasiswa yang coba usaha. Kayak film aja yah?”
                Mata Veni membulat begitu sahabatnya menyembulkan suara mengandung huruf v, a,r, i, s.
                “Varis? Hahahaha. Enggak lah, dia kan udah punya pacar. Apalagi mas-mas penjual gorengan. Kamu mungkin, meski pun penjual gorengan, pacarnya banyak. Apalagi wajahnya kayak artis korea, siapa itu namanya Minho? Hahah,” jawab Veni.
                “Enak aja. Aku curiga sama kamu. Curiga banget. Pasti ada sesuatu, iya kan?”
                Venisia menggeleng. “Udah ah, tolong jangan bahas masalah cowok dan sebangsanya. Ke kantin yuk.”
                “Terserah,” Kayla mengiyakan meski masih memasang tatapan penuh tanda tanya.
                Veni dan Kayla bersama menuju kantin. “Eh, Kay. Kayaknya uangku ketinggalan di tas. Tunggu bentar ya.”
                Veni kembali ke kelas dengan terus berusaha merogoh sakunya. Mulai dari saku rok hingga saku kemeja. Namun, yang ia temukan hanya selembar kertas dari hasil sobekan buku kucel yang di dalamnya tertulis beberapa angka rumit. Ia menatap lekat benda di genggamannya. “Nomor ini, kenapa harus ada di sini? Apa aku harus coba?”
                “Ven? Ayokk, kantinnya keburu penuh. Nanti aku nggak bisa blablablabla.”
                Veni buru-buru memasukkan selembar kertas yang semula di genggamnya ke dalam tas dan mengambil beberapa lembar uang lima ribuan.
                Haruskah aku senekad ini?
^^^
                Veni menelan ludah untuk yang kesekian kalinya semenjak duduk termangu menatap selembar kertas kucelnya. Selembar kertas yang semula tak berarti, kini sangat berharga ketika beberapa jenis angka mengisi hampanya sang kertas.
      08573127000 Varis
                Beberapa kali Veni mengetik dan menghapus kembali deretan nomer di handphonenya. “Aihh, gimana ini?”
                “Gimana kalau dia nggak bales?”
                “Oke, nggak ada salahnya nyoba. Ayo Veni! Sekarang atau tidak sama sekali!”
                To: 0857312700000
Hai.. J
Veni mendengus lega begitu pesannya terkirim.
                ^^^
                Varis terus menerus menguap. Bimbingan belajar kali ini dan sebelumnya selalu sama. Membosankan. Tak lama berselang, sebuah getaran mengguncang saku celananya. “Sms?” ujarnya membatin.
                Diam-diam Varis mengambil Hpnya dan menatap sekilas. “Hhh.. nomor tak dikenal lagi?”
                From: 082139311000
                Hai... J
                Beberapa lama Varis menatap layar Hpnya. Dilema akan apa yang harus ia lakukan.
                To: 082139311000
                Hai juga... ini siapa ya?
                Varis menekan tombol send di layar touchscreennya dengan sedikit ogah-ogahan. Tak lama berselang, pesan jawaban datang.
^^^
                “Huaaaahhhh!!! Dijawaaabbb!! Huaaaa!”
                Veni melonjak bahagia begitu Hpnya bergetar. Amat bahagia hingga ia tak sanggup mengungkapkannya. Sangat bahagia hingga rasanya dunia seperti surga.
                From: 0857312700000
                Hai juga... ini siapa ya?
                “Ya tuhan. Aku mau mati. Varis... Dia... Jawab smsku?”
                “Eh, iya, aku ga boleh seneng dulu. Fokus.”
                “Mari kita baca.”
                “Eh, Varis nanya aku siapa?”
                “Haduh, gimana nih. Ngaku nggak ya? Kalau aku ngaku nanti dia nggak bales smsku, begitu tahu aku dari kalangan anak biasa yang nggak terkenal, bahkan nggak cantik.”
                “Haduh.. Gimana nih?”
                “Helep?! Aduh, aku galau.”
                “Oke, aku harus cari cara lain.”
                To: 0857312700000
                Hehehe J nggak penting aku itu siapa..
                Ini bener Varis kan?
^^^
                Varis membuka pesan dari orang misterius itu. Masih dengan ogah-ogahan tentunya.
                From: 082139311000
                Hehehe J nggak penting aku itu siapa..
                Ini bener Varis kan?
                “Bikin penasaran nih orang. Siapa sih?”
                Varis mulai mengetik satu persatu huruf. Hingga sebuah suara bernada tinggi menusuk pendengarannya.
                “Varis! Kenapa Ir soekarno Hatta di bawa ke Rengasdengklok?”
                “Heh? Apa? Kenapa? Saya?”
                “Iya, kamu, Varis! Kenapa?!”
                “Haduh, kenapa ya? Eh, tahu gak?” Varis berusaha mengorek jawaban melalui temannya.
                “Kenapa ya? Mmmhhh... Saya belum lahir, Bu, waktu itu. Nanti saya tanya ke buyut saya, pasti tahu,” jawab Varis sekenanya. Varis meringis menanti respon sang guru. Sang guru mengerutkan kening dan melebarkan mata seperti hendak memangsa.
                “Vaaarriiisss!!!” yang empunya nama hanya meringis.
^^^
                “Kok lama sih nggak bales-bales? Apa dia males ya? Atau dia lagi sibuk?”
                “Ahhhh.. kok jadi gini sih? Bales dong.. please..”

^^^
                Varis keluar dari bimbingan belajar dengan wajah suram. Ia berjalan menuju sebuah bangku tanpa gairah dan duduk. Sesaat ia menengadahkan kepala melihat langit.
                “Mendung?”
                Varis menghela napas seraya mengeluarkan Hpnya. “Oh iya, tadi belum sempet bales,” kata Varis mengingat orang misterius yang membuatnya dihukum guru.
                To: 082139311000
                Kok gitu? Penting dong. Siapa ini?
                Iya, bener ini Varis
                Varis meletakkan Hp kembali ke dalam saku. Sekali lagi ia menghela napas. Bersamaan dengan itu, hujan turun rintik-rintik.
                “Hah! Hujan?! Gimana pulang? Nggak bawa jas hujan!”
^^^
                “Huaaa! Akhirnya di bales!”
                From: 085731270000
                Kok gitu? Penting dong. Siapa ini?
                Iya, bener ini Varis
                Veni mengerucutkan bibir. “Harus ya? Tapi apa kamu tetep bales smsku meski tahu aku siapa? Varis, kenapa?” dengus Veni. Ia dilanda dilema.
                To: 085731270000
                J kamu nanti akan tahu siapa aku...
^^^
                Tiada yang bisa Varis lakukan selain duduk terdiam. Hujan sudah berselang hingga sepuluh menit, tetapi sama sekali tak ada tanda-tanda akan reda.
                “Sial banget hari ini.”
                Varis menghela napas lagi dan lagi, meratapi nasipnya hari ini. Meratapi kesialan kuadratnya sepanjang hari ini. Sepersekian detik kemudian, Hpnya bergetar. “Masih dijawab ya?”
                From: 082139311000
                J kamu nanti akan tahu siapa aku...
                “Apa-apaan ini?”
                To: 082139311000
                Terus, aku harus panggil kamu siapa kalau aku nggak tahu namamu?
^^^
                “Huuaaaahhh! Masih di jawab!!”
                From: 085731270000
                Terus, aku harus panggil kamu siapa kalau aku nggak tahu namamu?
                “Hufffttt.. ini lebih rumit dari yang aku duga,” kata Venisia mulai putus asa.
                “Aku harus gimana?
                Lama Veni tak membalas. Ini lebih susah dari yang ia duga. Bahkan soal matematika dan fisika tak lebih susah dibanding hal ini. Veni pusing bukan main.
^^^
                “Huffttt... Kapan hujannya reda?” Varis sedari tadi menanyakan pertanyaan sama yang bahkan ia sendiri tak mampu menjawabnya. Tak banyak yang dapat ia lakukan, malam itu, Hpnya sedang sepi. Biasanya, belasan fans rahasianya akan meneror, tapi, kali ini hanya ada satu yang mengisi daftar inbox pesannya.
                “Mana orang yang tadi? Kenapa nggak sms? Atau smsku belum terkirim?”
                Varis membuka pesan terkirim dan mendapati pesannya sudah delivered, tetapi ia menekan tombol kirim ulang.
^^^
                “Haduhhhh!!! Gimana ini?”
                Veni berguling-guling sejak tadi di atas ranjang. Ia juga mengacak-acak rambutnya frustasi.
                Drrrtttt...
                “SMS?”
                From: Varisss J
                Terus, aku harus panggil kamu siapa kalau aku nggak tahu namamu?
               
Veni memandangi layar Hpnya bingung. Matanya melebar melihat nama ‘Varisss J’ yang sempat ia buat itu dengan sangat tegang.
“Hwaaaahhh, dia ternyata masih tunggu jawabanku ya?!” pekiknya bingung.
“Haduh, udah deh, gini aja,” Veni bangkit dari rebahannya dan mulai mengetik apa pun yang melintas di benaknya. Ia tak ingin ambil pusing dengan kemungkinan yang akan terjadi.
To: Varisss J
Nggak penting kok.. tenang aja.. kamu lagi ngapain?
^^^
Varis menatap kelamnya langit yang bertengger di atas kepalanya. Seorang diri ia duduk mematung. Semua temannya sudah pulang sejak tadi, hanya beberapa makhluk tak dikenal yang diam-diam melirik genit ke arahnya. Itu sudah biasa, Varis memang selalu berhasil menyedot perhatian publik, terutama wanita, adik kelasnya.
Selagi hujan, Varis memutar lagu favoritnya, lagu yang sudah biasa berdengung di telinganya, bukan lagu galau mau pun boyband pastinya.
Kalau saja ia mau, ia bisa saja memerobek tirai hujan itu dengan motor Ninja putihnya. Tetapi, motornya masih bau toko dan sayang kalau harus dikorbankan. Dan inilah yang bisa ia lakukan, menunggu hujan reda.
Drrtttt...
From: Orang
Nggak penting kok.. tenang aja.. kamu lagi ngapain?
Varis langsung membuka pesan tersebut, setelah sebelumnya memberi nomer Veni dengan nama ‘Orang’.
“Orang yang aneh,” gumamnya.
To: Orang
Penting dong ..  Nungguin ujan berhenti

 -------------------------------------------------------------------------------------------

To Be Continued... ^.^

Kang In Oh from Co-ed School Korean Band
Kang In Oh, Kyaaa!

Kamis, 23 Agustus 2012

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Kenyataan Pahit


  
Aku tak pernah sekali pun menyalahkan sesuatu yang mereka sebut Cinta, hanya saja, aku membenci caranya... Membenci Cinta yang datang tanpa seijinku, membenci Cinta yang tumbuh dengan derai air mataku, membenci Cinta yang lahir karena ketidakmampuan diriku..

Mentari kian meninggi. Sementara Venisia masih berharap keajaiban akan terjadi hari ini. Pelajaran Pengetahuan Sosial, atau lebih tepatnya ekonomi ia lewatkan hanya untuk menantikan kesempatan langka. Ya, tidak benar-benar langka, hanya saja jarang adanya. Saat di mana Veni bisa melihat keagungan tuhan dalam menciptakan. Menciptakan pangeran seperti Varis.
                Veni berjalan di lorong sekolah seraya memasang matanya waspada. Ia menilik gerombolan kelas senior memalui celah dedaunan.
                Ia mendengus sekali. “Ini lebih baik, dari pada aku harus duduk di kelas sampai pantatku panas. Cuci mata.”
               Tanpa ia sadari, Veni terus memerhatikan gerik Varis. Mulai dari ciri khasnya bermain bola sepak di lapangan kala itu. Hingga berapa kali Varis dimarahi guru karena melanggar aturan permainan bola sepak, Veni masih ingat.
                Tak lama, seorang teman wanita Varis mendekat ke arah sang pangeran yang masih terengah napasnya. Teman sekelas Varis yang manis dan populer itu kian mendekat. Gadis itu mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuah botol air mineral. Tepat didepan Varis yang beberapa inci lebih tinggi dari gadis itu.
                “Hyah!! Ngapain kakak kelas itu?” dengus Veni kesal.
                “Varis, ini, minum ya. Kamu udah berusaha keras, kenapa sih itu guru malah marah ke kamu?” gadis di hadapan Varis tersenyum manis, terlalu manis hingga membuat Veni mual melihatnya.
                Varis hanya mengangkat sebelah alis seraya menerima tanpa banyak bicara. “Gila, di saat ada cewek yang baik sama dia, tuh cowok masih sempat sok Jaga Image gitu?!” rutuk Veni tiba-tiba.
                Berselang berapa menit, seseorang datang dan menepuk bahu Veni perlahan. “Bentar, tanggung, bentar lagi pelajaran olahraganya selesai,” timpalnya. “Bentar lagi balik ke kelas kok, tenang, Kay.”
                “Venisia Eka, sepertinya kamu tadi absen pada pelajaran saya, kenapa kamu ada di sini?” Seseorang menepuk bahu Veni sekali lagi.
                Veni mengedipkan mata untuk memastikan ini nyata. “Oh.. Eh.. Ih.. Anu.. iya.. kenapa ya? Oh iya, saya tadi ada urusan sama wali kelas. Mangap, Bu, Eh, aduh, Maaf Bu! Lain kali kalau saya ada keperluan mendadak akan konfirmasi terlebih dahulu. Maaf,” sesal Veni.
                Sang guru yang melotot setengah heran seperempat bingung hanya bisa mengiyakan dan pergi entah kemana. “Untung, Hufffttt,” Venisia menepuk dadanya lega. Lantas ia kembali ke tujuan semula dan ia mendapati Varis telah tiada.
                “Kemana tuh orang?”
^^^
                “Ven, akhir-akhir ini nafsu makan kamu makin tinggi. Terus kemaren, eh nggak deh, tiap hari Rabu, kamu selalu ngilang tanpa ijin aku. Kemana? Kamu juga sering senyum nggak jelas.”
                Veni mengurungkan niatnya melahap roti isi selai kacang dan menatap mata sendu Kayla, sahabatnya.
                Sejenak ingatan akan Varis berterbangan di benaknya. Ingatan yang berjalan seperti gulungan film bisu. Di mana Veni bisa melihat Varis yang tertawa renyah, di mana Veni bisa melihat Varis tersenyum manis, di mana Veni bisa melihat Varis meringis menahan pipis.
                “Ven? Halooo..,” Kayla mengayunkan tangannya di depan wajah Veni. “Kenapa sih?”
                Veni mengulum senyum yang susah dipahami. “Jangan tanya kenapa, Kay. Karena aku juga nggak tahu sebenernya kenapa aku ini.”
                “Aneh. Eh btw, tahu nggak Kak Varis kecelakaan kemaren. Sepulang sekolah. Udah tahu belum?”
                “Apa? Sumvah? Serius? Pantes perasaanku nggak enak sejak kemaren! Seharian ini juga belum kelihatan! Di mana, di mana dia sekarang? Siapa yang nabrak? Siapa? Kenapa bisa ketabrak? Siapa saksi matanya?! Jam berapa kejadiannya?”
                “Mulut lo sampek berbusa ngomong segitu banyaknya. One by One, okehh? Semua butuh proses, jangan langsung...”
                “Sekarang gimana keadaannya? Dia nggak kenapa-napa kan? Iya kan?”
                “Ven, heran deh sama kamu. Dia juga bukan siapa-siapa kamu kan? Kenapa heboh sih? Aku aja yang satu ekstrakulikuler biasa aja. Paling juga luka dikit tuh orang, lagian pasti dia yang ngebut. Cowok berandalan, keras kepala, sombong pula. Nggak kaget kalau ada insiden begitu.”
                “Ya, tapi kan dia juga manusia. Kalau kakinya patah, terus diamputasi gimana? Atau.. dia hilang ingatan?”
                “Imajinasi tingkat tiinggi! Auk ah, gelap. Tanya aja sama Mirna dan kawan-kawan, dia kan gudangnya gosip.”
                “Wokeh, bener. Gue ke Mirna, dadahhh!”
                “Eh, tega! Jadi gue sendirian nih? Heh! Veniiiiii!”
^^^
    Kenapa? Kenapa? Kenapa aku terus melontarkan pertanyaan kenapa?
               Berulang kali aku menyadarkan diri, bahwa aku bukan tipemu, bahwa  aku tak ditakdirkan bersanding denganmu. Kenapa? Kenapa aku selalu mengharapkan hal yang tak mungkin terjadi?

                Venisia membenamkan kepalanya begitu dalam di atas bantal berbentuk kepala monyet coklat. Pikirannya kalut. Seakan ada benang kusut yang membuat otaknya berhenti bekerja. Veni bingung. Ia gundah, resah, dan mulai putus asa.
                “Varis, kenapa kamu selalu buat aku khawatir?”
                Veni terus dan terus mendesah resah. Andai saja Varis benar separah yang ia bayangkan, harusnya ia berada di sampingnya, di sisinya, tapi itu hanya mimpi, hanya imajinasi yang tak bisa terjadi.
                “Mirna bilang, Varis Cuma keserempet. Jadi pasti Cuma luka dikit, pasti! Jangan mikirin dia terus! Jangan!”
                Venisia berulang kali menyadarkan diri. Berusaha mengubur dalam-dalam gambaran senyum Varis. Mulai dari membaca buku, bermain game, hingga mendengarkan musik sudah ia lakukan untuk menghapus memorinya tentang Varis. Yang ada, musik dalam handphonenya yang didominasi musik melankolis justru membuatnya semakin tenggelam dalam bayang Varis. Terutama ketika lagu lama dari DBSK dengan judul ‘How Can I’ berkumandang di kedua telinganya.
                “Venisia! Berhenti pikirkan Varis! Lihat dirimu! Lihatttt, kamu pendek, berisi, dan nggak putih! Sadar! Varis itu pangeran, dan kamu hanya rakyat yang tak dibutuhkan!”
                Bahu Venisia mulai bergetar ketika ia menajamkan pendengarannya. Meresapi arti dari lagu yang masih melantun lembut di gendang telinganya. Perlahan, amat perlahan, benda bening itu mengalir lembut melalui celah pipinya yang bulat. Tangis tulus yang sebelumnya tak pernah ada kini menabiri wajahnya. Menyelimuti kepolosannya.
                Kenapa?
^^^








Kang In Oh, haha >.<

[Cerita Bersambung] Kisah Venisia: Biar Cinta yang Membimbing Waktu


                
Dan kini aku mengerti, mengapa tuhan menciptakan rasa yang sulit dilukiskan ini. Ya, karena tuhan ingin membuktikan dan menunjukkan padaku, bahwa tak ada satu pun hal yang percuma. Dan aku yakin dengan perasaanku, meski aku tahu diriku tak pantas untuk itu...

Kesialannnya tadi pagi masih saja menyisihkan kedongkolan di hati Veni. Sejak saat itu, ia jadi muak tiap kali melihat kumis Pak Thomas yang setebal hutan hujan kalimantan itu muncul. Bagaimana tidak, pagi-pagi ia sudah dihujani bebagai macam omelan yang membuat telinganya merah. Tetapi, meski begitu, secara tak langsung, ada sesuatu yang membuatnya sangat bahagia. Kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah singgah. Veni bahagia, sangat bahagia, karena bisa melihat lebih dekat seorang senior yang ternyata sangat manis. Ya, Kak Varis.
                Veni sungguh baru manyadari hal yang sangat fatal. Ia benar baru menyadari ternyata ada saja pangeran yang hidup di jaman seperti ini, bahkan di sekolahnya!
                Entah apa yang mampu membuat Veni tersenyum seharian, tetapi, setiap kali wajah manis Varis berkelebat, kedua sudut bibirnya akan reflek terangkat. Rasanya menyejukkan namun hangat.
                Sepanjang pelajaran, tak ada satu pun kata yang terlontar dari tiap guru mampu diingatnya. Hanya ada nama Varis yang melayang di otak Veni. Selama beberapa bulan menuntut ilmu di sekolah yang semula ia anggap sangat membosankan, baru kali pertama ini, ia sungguh berani mengganti kesaksiannya. Veni akan mengganti paradigmanya tentang sekolah yang suram dan membosankan, karena sebaliknya, sekarang, harinya serasa amat berwarna, mengalahkan semerbaknya warna pelangi. Terlalu berwarna, hingga mungkin semua warna yang ada di bumi melebihi warna yang ada di dalam hari-harinya.
                Waktu kian melaju, begitu pula perasaan Veni yang kian lama kian tumbuh. Setiap tujuh hari dalam seminggu, tak ada satu hari pun yang terlewat dengan kehampaan. Diam-diam ia memandang Varis yang tengah melaksanakan pelajaran olahraga. Betapa kerennya Varis ketika mendreebel bola basket, dan betapa tangkasnya Varis dalam menendang bola sepak, terlebih, ketika peluh bercucuran di kening Varis. Ingin sekali Veni bisa menyeka peluh itu dengan sapu tangan, Oh! Dunia pasti sangat indah bila ia bisa melakukannya. Veni suka semua hal tentang Varis, bahkan ketika wajah Varis membentuk ekspresi aneh keika sedang dimarahi guru. Namun, ada beberapa hal yang membuat Veni sangsi, yaitu kenakalan Varis, ia terlalu berandal untuk ukuran Veni.
                “Masa sih Varis ngerokok?”
                Beribu kali Veni meyakinkan diri. Berjuta kali ia meyakinkan bahwa Varis bukan lelaki yang seperti itu, ia hanya keras kepala dan tak mau diatur. Namun, kenyataannya Varis memang anak yang nakal.
                “Hah?! Dia juga pernah minum?!” reaksi Veni selalu sama ketika mendengar kabar mengagetkan dari Mirna, teman sekelasnya yang hobi gosip.
                “Masa Varis seberandal itu? MASA VARIS SEBADUNG ITU??”
                Veni terus diliputi perasaan bingung. Salahkah ia menyukai orang macam Varis?
                ^^^
               Siang beranjak sore kali ini, Veni dan Kayla kebagian tugas piket mingguan. Mau tak mau, mereka harus pulang telat.
                “Ven, tolong ambilin sapu yang ada di gudang sekolah dong. Sapunya nggak ada nih, kita mau nyapu pakai apa?”
                “Kok aku? Sekolah udah sepi banget. Gudang kan serem. Kamu aja deh, biar aku yang hapus papan tulis. Hehe, boleh ya?”
                “Ven, kakak kelas kan ada pelajaran tambahan, jadi sekolah nggak seberapa sepi. Gudang deket sama kelas senior. Udah gih, sana, buruan, kalau nggak aku laporin ke ketua kelas kalau kamu nggak ikut piket.”
                “Sekarang? Hari ini? Kakak kelas ada tambahan pelajaran? Bukannya Cuma pagi ya?”
                “Udah Venisia, cepetan!”
                “Oh, eh, iyahh, he-em, galak amat sih jadi orang. Tega banget, masa mau ngelempar temen pake penghapus papan seenaknya. Nanti aku item semua.”
                “Veniii!!”
                “Iyaaaa,” Veni berlari terbirit-birit menjauhi gebukan Kayla.
                Venisia bejalan menyusuri koridor sekolah yang agak remang. Dengan sigap berjalan dengan langkah yang dipercepat. Begitu beberapa meter dari kelas senior, gendang telinganya menangkap suara Pak Thomas yang menggelegar itu.
                Veni menoleh melihat suasana kelas yang tengah diajar Pak Thomas. Ya, kelas Varis tentunya, sudah pasti pangeran itu ada di dalam dan terkantuk-kantuk mendengarkan. Ketika Veni melewati pintu dan menolehkan kepalanya, seketika itu, ternyata Pak Thomas dan beberapa siswa sedang mengarah pandang ke arah pintu yang terbuka, tepat ketika Veni lewat.
                Veni melotot dan hanya tersenyum samar.”Siang, Pak,” sapanya menunduk.
                “Siang, eh, kamu... Kenapa belum pulang? Sekarang sudah jam berapa, hah? Kamu pacaran ya? Heh! Jangan lari!”
                Senyum Veni yang semula merekah berubah. Ia menggigit bagian bawah bibirnya dan segera berlari secepat yang ia bisa. Itu semua terjadi begitu cepat dan reflek. Veni lupa, bahwa Pak Thomas benci siswa yang masih berkeliaran di sekitar sekolah ketika jam sudah usai. Dan dia adalah orangnya!
                “Dasar anak sekarang, kerjanya pacaran. Jangan tiru itu,” Ujar Pak Thomas. Beliau kembali melanjutkan pelajaran tanpa merasa bersalah. Karena sesungguhnya, Veni sama sekali tak melakukan hal yang sudah dituduhkan, justru pekerjaan mulia, yaitu, PIKET.
                Beberapa pasang mata melihat kepergian Veni. Termasuk Varis. Varis merasa pernah bertemu gadis berisi itu sebelumnya. Tapi di mana?
                “Hhhh.. tuh orang aneh banget. Sapa juga yang pacaran, orang mau piket kok malah dituduh yang nggak-nggak, awas aja tuh orang.. Hhhh,” Veni berhenti di depan gudang dengan napas memburu.
                “Janji aku nggak bakal lewat kelas itu, bisa-bisa kena omelan lagi.. Hhhh.”
                Akhirnya Veni mengambil jalan pintas dan melakukan piket bersama Kayla. Meski Kayla mengomelinya karena terlalu lama, mood Veni terlanjur buruk untuk dapat menjawab pertanyaan Kayla.
                “Ven, kamu kenapa sih? Tadi ketawa-ketiwi, sekarang mingkem terus? Kamu nggak kesambet setan lewat kan di gudang?” kata Kayla. Ia terus melontari Veni berbagai macam omelan dan pertanyaan, namun Veni tetap bungkam.
                “Iiihh, serem, jangan-jangan Veni kerasukan. Haduh, tahu gini mending aku aja yang ambil sapu.” -_-
^^^



Varis Looks Like


 

Template by Best Web Hosting