Kamis, 10 Desember 2015
Senin, 13 Juli 2015
Paradoks
Aku mengenal hitam. Aku juga mengenal putih.
Aku pernah ke atas dan pernah ke bawah.
Aku mengetahui apa itu api dan apa itu air.
Aku paham apa itu logika dan apa itu imaji.
Tapi...
Bagaimana bila aku hanya mengenal satu dari keduanya?
"...Bocah."
Aku menghela napas. Dalam. Perlahan, pendar cahaya telpon genggamku meredup. Seketika gelap gulita.
Hari ini aku belajar tentang paradoks. Sama seperti logika dan imajinasi yang selalu berseberangan di mata orang. Namun menjadi kesatuan yang tak terpisahkan bagi sebagian orang lainnya. Aku belajar mengenai paradoks tentang mencari dan dicari. Tentang menanti dan dinanti. Sama seperti membenci dan mencintai disaat yang bersamaan.
Seseorang mengatakan bahwa ia bersandar pada logika. Ada pula yang mengagungkan imajinasi hingga lupa diri. Kemudian mereka dipertemukan. Sang logika menertawakan dirinya sendiri karena tak pernah secerdas imajinasi yang memikirkan bagaimana bila kita bisa pergi ke bulan. Tapi, tawa imajinasi tak kalah kerasnya. Ia menertawakan pikiran tak masuk akalnya yang terkesan seperti orang bodoh. Seperti pergi ke bulan dengan kuda mungkin?
Karena perbedaan, kita saling mengisi.
Seperti itik yang terjebak diantara barisan angsa. Ia bersedih. Merutuk diri sendiri. Mengapa aku tak secantik mereka? Mengapa aku buruk rupa? Mengapa mereka punya bulu yang cerah seperti mutiara? Hingga akhirnya seseorang memindahkan itik itu pada barisan ayam. Ayam-ayam yang berlumur sisa makanan.
"Aku punya bulu yang lebih lembut dari mereka... Kenapa aku terus bersedih selama ini?"
Dan karena perbedaan, kita belajar.
Jemari panjangku menelusuri tiap inci telpon genggam dengan lincah begitu sebuah pesan datang. "Aku nggak ngerti, kenapa Tuhan bikin kita beda. Apa untuk saling bunuh-bunuhan?"
Dahiku berkerut nyaris bersamaan dengan segaris senyuman.
Kalian tahu?
Mengapa harus ada perbedaan? Mengapa justru dengan perbedaan suatu hal dapat berpadu? Lantas apa gunanya kata 'berbeda' jika pada akhirnya kita bertemu di ujung yang sama?
Kita semua adalah perbedaan. Terlepas dari siapakah yang benar. Kita hadir untuk saling melengkapi kekurangan dengan kelebihan. Kita memilih dan dipilih. Kita mencari dan dicari. Kita hidup dan akan mati. Kita mencintai dan membenci. Dan kita semua, adalah paradoks. Menjadi berbeda agar menjadi sama.
-Juli 2015. Lupakan-
Sabtu, 20 Juni 2015
Konser Kesunyian
Aku masih menghitung jumlah bintang begitu aku tersadar, aku merindukan Bulan.
Sejenak hening menyapa. Di mana bulan?
Aku mengedarkan pandang. Menatap tiap sorot lampu jalanan. Bergantian.
Ah, mengapa aku selalu mencari hal yang tidak ada? Sedangkan aku punya berjuta bintang disana.
Setitik cahaya bintang yang temaram mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Gadis kecil manja yang takut pada boneka berbentuk manusia. Barbie. Sesuatu yang kemudian membuatku muntah. Aku tertawa dalam hati. Menertawakan phobia tak masuk akalku.
Setitik cahaya bintang lain yang lebih terang menggiringku pada memori ketika aku beranjak remaja. Masa dimana aku mulai berani bermimpi tentang pangeran berkuda. Membayangkan mereka datang dan memberikan sebucket bunga. Atau bernyanyi lagu cinta ciptaan mereka di bawah bintang dan bulan bertemankan gitar. Aku tertawa lagi. Lebih keras.
Terlalu banyak impian yang aku tuliskan, dulu. Tapi...
Mataku terpejam.
Bermimpi di umurku yang tak lagi belia seolah menjadi ketakutan baru. Mungkinkah mimpi itu menjadi nyata? Tidakkah itu sulit untukku? Mampukah aku? Kamu gila?
Imajinasi dan logikaku mulai bercampur aduk. Seolah terbangun dari tidur malam yang panjang, dan aku tetap harus menghadapi kenyataan.
Malam ini, aku kembali terduduk bisu. Mengamini tiap celoteh alam dengan bungkam.
Kamu tahu? Aku selalu benci ketika aku menyadari aku sudah ada di bulan Juni. Tidak. Aku bukan membenci bulan ini. Aku hanya membenci ketika aku sadar, aku tak sedang di dalam pesawat dengan titik hujan dan cahaya bandara yang menyilaukan mata. Entahlah, sulit untuk menjelaskannya.
Lalu, masihkah aku berdiri di tengah-tengah pemain konser kesunyian, tahun depan? Atau, sedang berdebar menanti pengumuman? Atau telah berbahagia dengan senyuman bangga?
Aku selalu mengagumi waktu yang bergerak tanpa seijinku. Dan kuharap, kali ini waktu mengijinkanku mengatakan dimana aku ingin ia membawaku. Dan kuharap, apa yang kumau adalah yang terbaik untukku dan masa depanku.
11 Juni 2015
Kamis, 30 April 2015
Repost: Cloud(s) (20 Februari 2013)
Little quotes from: Cloud(s)
Sang roda waktu mungkin terlihat bisu, tapi mereka bahkan tak pernah sekali pun diam. Mereka bicara dan terus berkata. Ada celah di mana kamu harus mengingat, sesuatu yang bisu tak selalu bebas dari suara. Seperti bahasa-bahasa yang tercipta antar manusia atau manusia dengan lingkungan. Seperti juga lampu merah di jalanan. Mereka bicara. Mereka menyampaikan sesuatu. Walau terlihat bisu.
Label:
Cerita Bersambung,
Song,
Waktu
Langganan:
Postingan (Atom)



