Rabu, 31 Januari 2018

Tentang Kotaku



        Surabaya.

        Kotaku hujan malam ini. Kulihat dirinya basah. Tidak seperti biasanya, yang gagah dan keras kepala, hari ini berbeda. Rupanya ia mengubah deru-deru yang membuat pening menjadi sesuatu yang dingin namun hangat disaat yang bersamaan. Kotaku tidak sedang terkena flu. Ia hanya sedang mencicipi sesuatu yang ia sebut, Rindu.

Kudengar seseorang telah mengatakan.

"Bukankah pelangi selalu muncul sehabis hujan?"

Gorden kamarku menepi tertiup angin.

Tidak ada satu pun yang bersuara menjanjikan pelangi selepas hujan dari dalam kepalaku. Tidak pula ada gumaman yang mengatakan bahwa sesuatu hal yang menjanjikan itu ada dan nyata. Ya, karna yang terjadi, pelangi tidaklah selalu muncul selepas hujan.

Semua yang kau miliki hanyalah satu, yaitu ketidakpastian.

        Kotaku beku ditapaki kaki-kaki yang berlalu pergi. Kemudian tak menjanjikan untuk datang walau hanya sebentar.
        Sedangkan aku, memilih untuk duduk disisi kiri kota ini. Menguliti sendiri kisah-kisah yang berlalu itu dan memanaskannya di dalam kepala.

        "Kamu mau apa?"

        "Aku pengen duduk di atas Rooftop."

        Angin itu datang seolah membisikkan sesuatu, yang anehnya malah membuatku merasa semakin hangat. Aku termenung dipeluk angin.

Pada titik lampu yang buram diujung pandangan, aku belajar tentang banyak hal yang tersembunyi di dalam kota ini. Apa-apa saja yang tak tergapai oleh mata. Tentang sebuah perjalanan yang bercabang-cabang.

        "Kamu berubah, Nis. Jadi lebih dewasa."

Sejujurnya, ketakutan yang diam-diam aku tahan ialah tentang tumbuh menjadi dewasa. Ketika datang masa di mana aku harus menjadi orang lain untuk menjadi diri sendiri. Ketika aku harus berpura-pura berani meski setengah mati kakiku gemetar dan kesemutan. Ketika aku harus lebih banyak memahami orang lain ketimbang memahami diri sendiri.


"Kenapa semakin dewasa kita, semakin berpikir logis dan takut untuk berpikir yang nggak masuk akal seperti ketika masih kanak-kanak dahulu? Kita selalu berani mikirin hal hal yang nggak masuk akal waktu kecil dulu. Kalau sekarang, harus logis."

Aku menggigit bibir bagian bawahku.

Tidak.

Tahukah kamu?

Justru, ketika kamu semakin dewasa, kamu akan menemukan hal tidak masuk akal yang sesungguhnya.

Kamu akan bertemu orang-orang yang mengatakan A namun melakukan B. Kamu akan bersapa dengan orang yang di kanan mengiyakan, namun di kiri menjatuhkan. Kamu akan menemukan orang yang melakukan kebaikan untuk menutupi kejahatan.

Leherku tercekat.

Merasa takut.

Sekeras itu kah menjadi dewasa?

"Nis, makan dulu."

Perbincangan ketika makan malam selalu menjadi perbincangan yang menyenangkan. Entahlah. Membicarakan remeh temeh seperti, "Sudah, kamu nikah duluan aja."

"Ih, masakannya keasinan. Kebelet nikah ini pasti."

Year and month are illusion that I keep count

Aku tertawa nyaris tersedak. Terkadang, mempertanyakan hal yang demikian membuat perutku geli sekaligus membuat kepalaku pening.


"Insya Allah aku habis dia lulus."

Kali ini aku benar-benar tersedak.

Tidak ada satu pun yang benar-benar menjamin apa yang akan terjadi besok. Bahkan ketika semuanya terlihat baik-baik saja hari ini. Aku, dia, mereka, mempunyai simpul simpul yang berbeda.

Tapi,

Aku selalu ingin jadi tangan tempatmu berpegangan. Mungkin aku tidak mampu membuatmu berdiri, namun aku bisa sedikit menghangatkan jemarimu yang kaku.


Jangan lelah, jangan putus asa.

Ceritakan apa saja yang kau tau tentang dunia. Apa yang kau mau. Apa yang kau inginkan.

Walau mungkin yang aku bisa hanya mengiyakan. Mengangguk meski ku tak mengerti.

Karna aku selalu menyukai Surabaya dan kisah-kisah perjuangannya.

Kisah-kisah tentang gerbong-gerbong kereta, tentang pertokoan, tentang rambu lalu lintas, tentang pusat perbelanjaan.


Semuanya. Seklasik apa pun ia.





"Kamu mau tau, sekeras apa kota Surabaya itu?"

Aku mengangguk yakin.

"Sekeras hati kamu."



31 Januari 2018



Annisa,
di sebuah malam saat Gerhana Bulan tertutup awan :')








Rabu, 27 Desember 2017

Kisah Persimpangan



Aku akan sedikit bercerita tentang kisah Persimpangan Jalan dan Lelaki Berpayung Teduh.

Ah bukan tentang penyanyi dan pencipta lagu itu.

Akan tetapi tentang lampu kota dan kisah tentang lelaki dan gadisnya.

Kisah ini dimulai dari ujung jalan. Di bawah remang cahaya lampu kota yang dikerubungi nyamuk. Tak ada yang spesial. Bahkan angin pun enggan datang barang sedetik. Hanya cicak dan beberapa hewan pemangsa serangga tertarik menghampiri. Ujung jalan itu terlalu beku untuk kau anggap sebagai tempat penerang. Tak ada angin memang. Tapi menyadari bahwa kau berdiri disana sedirian, adalah sesuatu yang membuat tulangmu kaku. Beku.

Mungkin kau berkilah. Ia tak jua berdiri di bawah temaram dengan tangan dijulurkan menawarkan kehangatan. Ah, sedang apa kau ini? Sedang apa berdiri di bawah lampu jalanan?

Benar, kau sedang merajuk rupanya.

Maka, tanyakan pada tuan yang berdiri disana.

Tuan, jika kau bisa bisikkan sebait kisah pada hujan, maka kisah mana yang akan kau pilih mewakili hidup pedihmu?
Tentang gadismu yang tak pernah berhenti bicara?
Tentang gadismu yang sering menangis diam diam?
Tentang gadismu yang suka ikut campur semua urusan?
Tentang gadismu yang tak seperti gadis lainnya?

Sedangkan aku, berdiri di sisi jalan dengan harapan penuh. Tidak jua kakiku melangkah menentukan tentang barat ataukah timur yang kupilih. Tentang pergi atau tetap berdiri.

Tentang menjadi lebih kuat dari hati yang lain, aku akan tetap terus berdiri disini. Memilih sisi yang di mana aku dapat merasa nyaman. Namun, tentang hal yang lain...

Bisa jadi, Tuan, kau adalah persimpangan yang gelap gulita di sana. Menjadi sarang para begal. Menanti mencari mangsa. Menanti mencari jiwa yang lelah. Namun setelahnya, mungkin kutemukan rumah.

Bisa jadi, Tuan, kau adalah persimpangan dengan sulur bunga merekah menjanjikan kebahagiaan. Namun setelahnya, mungkin kutemukan kandang anjing kelaparan.

Bisa jadi, Tuan, kau adalah persimpangan yang dilalui alir sungai tenang akan tetapi ditinggali oleh ikan pemangsa. Namun setelahnya, mungkin kutemukan apel segar dengan kekuatan mematikan sekali telan.

Tuan, perlu kau ketahui. Bahwasannya akan selalu ada persimpangan setelah persimpangan.

Bahwasannya akan selalu ada masalah setelah kau lalui ia sebelumnya.

Namun, bukan mengenai bisa atau tidaknya kau menaklukkan masalahmu, Tuan. Tapi, tentang dengan siapa kau melaluinya.

Tuan, bilamana kau bersedia menjadi racun sekaligus penawar, ijinkan nona muda ini memintamu untuk menjadi orang yang mengajarkannya menjadi lebih berani. Keluar dari sangkar yang entah di mana sang pemilik membuang kuncinya.
Ajarkan ia untuk berani mengambil keputusan besar, namun, kau datang dengan kekuatan agar membuatnya tak pernah mundur.

Tuan, gadismu tak akan pernah meminta untuk kedua kali. Maka mendengarkannya adalah sebuah keharusan.

Dan mencintai gadismu dengan sederhana, adalah sesederhana ia menemukanmu dalam tumpukan jerami dan menumbuhkan mimpinya bersama. Denganmu, Tuan.

Yang jelas...

Gadismu, hanya membutuhkan sebuah kepastian. Tentang kemana dan bagaimana kau akan membawanya. Jika kau ada di persimpangan jalan, jangan kau tunggu gadismu datang.
Tapi jemputlah ia dengan setidaknya membawa satu payung untuk sama-sama jadi tempat berteduh. Gadismu, yang menanti dengan harap harap cemas. Hanya menginginkan itu.

Sesederhana itu takdir, yang kau hampiri. Yang kau salami. Karna gadismu, akan menentukan pada persimpangan mana ia akan berlalu.

Ditulis,


27 Desember 2017

Minggu, 04 Juni 2017

Untuk Juni


.....

Pada sebuah Juni yang ku tunggu itu, Mei selalu datang dengan kisah-kisah tak terduga yang membingungkan.


Hei... Mengapa Juni selalu kau buat menjadi serumit ini, Mei?

        Tepat setahun yang lalu terakhir kali kubuka blog berjamur ini. Sekedar untuk mengenang Juni. Sekedar untuk mengingatkan, bagaimana arus itu pernah membawaku kemari.

        Aku baru saja merebahkan tubuhku di atas kasur begitu menyadari bahwa tiba-tiba saja hujan bertandang. Namun Juni sudah berdiri tepat dihadapanku. Mengemas ingatan terpendam dan menyuguhkannya. Gemericik di luar kamarku terdengar semakin menguat. Selaras dengan tamparan keras diwajahku. Hei, sudah berjalan sejauh mana kamu saat ini?


        Mendadak kepalaku abu-abu. Mengingat seseorang di rumah pernah berujar, "Jangan sampai kamu salah memilih. Jangan lagi. Cukup Mama saja."

        Tubuhku bergetar. Memilih adalah kelemahan terbesarku. Mengulang kembali kesalahan adalah ketakutan terbesarku. Dan melepaskan adalah...

        Pada sisa-sisa doa yang aku kemas setelah doa tentang kedua orang tua, tak pernah sekali pun aku luput untuk mendoakan tentang pilihan.

        Setiap tahun yang merangkak di sudut-sudut umurku, menjadi dewasa adalah kesusahan yang sedang berusaha aku upayakan. Dan menentukan pilihan, merupakan salah satu pintu yang harus aku masuki.

        Dan urusan cinta, mungkin jadi salah satu pintu yang saat ini masih tertutup rapat dan entah kutahu ada di mana.

        Apa yang kau ketahui tentang cinta? Sepasang kekasih yang bergandengan tangan dari fajar hingga terbenamnya matahari? Atau dua hati yang saling mendoakan dari kejauhan?
        Adakah hal yang lebih menyejukkan dari rasa khawatir seorang lelaki terhadapmu bila kamu tidak sedang bersama dia?
        Dan adakah hal yang lebih membahagiakan dari menyaksikan ia bahagia di sana?

        Sampai detik ini, aku masih mencari. Dimana makna makna itu terselip dibalik saku-saku celanaku. Mungkin kah ia yang memperjuangkanmu hingga lupa akan kesehatan diri sendiri adalah yang terbaik? Mungkin kah ia yang selalu menanyakan di mana kamu dan sudahkah kamu menjalankan ibadahmu? Mungkinkah ia yang dengan tangan terbuka menyediakan pundaknya meski beribu-ribu kesalahan kau perbuat untuknya?

        Tuhan, dengan segala kemungkinan di tengah ketidakmungkinan, telah menyiapkan jawaban yang kau bahkan tak pernah membayangkannya.


        Teruslah memperbaiki diri. Lagi. Lagi. Dan lagi.


        "Doa mama satu, kamu bisa dipertemukan dengan orang yang tepat dan di waktu yang tepat. Karna bisa saja orang yang tepat itu datang ketika kamu belum siap. Jadi, selama kamu menunggu, terus perbaiki diri."
-suatu hari di bulan Juni-

Jumat, 10 Juni 2016

Miracles: What Do You Wish For at Night?







        Baju-baju kotor itu berputar dalam pusara air kecoklatan. Seirama dengan kuncir kudaku yang acak-acakan. Anak rambutku melambai-lambai malu ditiup udara. Kaos keabuanku nampak basah diujung-ujungnya.

        Nafasku terhela. Lelah.

        Sesuatu yang menggantung di atas sana mencuri sudut mataku samar-samar. Sesuatu yang membuatku merasakan kehangatan merambat melalui pembuluh-pembuluh darahku.

        Bulan.

        Jingga itu menggantung tak tahu malu. Terlalu indah. Terlalu memesona.

        Malam ini, malam ke lima di bulan Ramadhan, sesabit bulan tengah tersenyum renyah ke arahku. Jingganya seolah menggambarkan rona-rona bahagia yang tak biasa. Ada api disana. Api yang entah mengapa membuat darahku mendidih tanpa kutahu alasannya. Sebuah percik api yang menyulut harapan baru.

        Deru-deru mobil di luar sana menyeretku pada malam satu tahun yang lalu. Tentang percakapanku di tengah konser-konser kesunyian. Ah, aku benar-benar berdiri di sini. Lagi. Dengan harapan-harapan yang tiada habisnya. Bodohkah aku?

         Tanpa aku sadari, bulan dengan jingga yang memerah itu tak lagi disana. Kemana ia barusan?

        Mataku sibuk mencari. Hingga akhirnya aku menyadari setitik bintang memandangku disana.

        Aku teringat tentang kisah-kisahku dulu. Kisah tentang seragam abu-abu, kisah tentang Annisa kecil yang susah makan, kisah tentang hari pertamaku masuk sekolah. Ah, apa aku sungguh telah melewatinya? Secepat ini?


         Ujian-ujian itu. Ketakutan-ketakutan itu.

         19 tahun yang lalu, sepasang orang tua dengan harap-harap cemas menanti suara tangisku pecah. Tangis yang menghadirkan harapan baru. Doa-doa dari mereka. Perhatian-perhatian dari mereka. Lantas, apa yang sudah aku berikan detik ini?

         Aku percaya, bahwa Tuhan tidak pernah salah menyiapkan skenario untuk hambanya. Meski sering diri ini bertanya.


         Masihkah ada keajaiban itu ditanganku? 

         Mampukah aku?

         Bagaimana jika blablabla?



         Mengutip dari post blog satu tahun yang lalu,

         "Lalu, masihkah aku berdiri di tengah-tengah pemain konser kesunyian, tahun depan? Atau, sedang berdebar menanti pengumuman? Atau telah berbahagia dengan senyuman bangga?

         Aku selalu mengagumi waktu yang bergerak tanpa seijinku. Dan kuharap, kali ini waktu mengijinkanku mengatakan dimana aku ingin ia membawaku. Dan kuharap, apa yang kumau adalah yang terbaik untukku dan masa depanku."



        Semoga kabar baik itu datang padaku.



        -11 JUNI 2016-
00.06 tengah malam. Malam ke 5 bulan Ramadhan.
Annisa.

       



       


        

     


       
 

Template by Best Web Hosting