Lagi. Seminggu tanpa satu hari pun hari libur. Minggu tak lagi jadi waktu hibernasi atau lari dari sanderaan deretan angka. Bukan aku membencinya. Hanya sedikit mengeluh tentang keadaan yang melelahkan.
Kepalaku sudah nyaris pecah ketika guru Kimia menjelaskan tentang alasan mengapa minyak dan air tak pernah bisa menjadi satu. Ya, aku tahu. Bukan lagi hal tabu mendengar kisah tentang minyak dan air yang tak menyatu. Aku terpaku begitu sang guru melanjutkan penjelasan.
"Tapi ada cara membuat minyak dan air bersatu."
Dahiku berkerut. Memikirkan alasan apa yang mungkin terlontar.
Kamis, 28 Agustus 2014
Selasa, 12 Agustus 2014
Gerhana dan Purnama
Daun terakhir itu baru saja jatuh. Menapaki tanah yang sebenarnya tak ingin ia tapakki. Aku menajamkan pandangan. Mencoba berguru pada sehelai daun rapuh di seberangku.
Sebuah pesan bertandang. Pesan dari seseorang yang selalu menjadi mentari pagi.
Hari ini, bertepatan dengan hari yang bagi sebagian orang merupakan hari yang melelahkan, menjadi hari di mana aku tersadar akan sesuatu. Hari yang seolah menusuk ingatanku bahwa aku sudah melangkah jauh.
Rabu, 02 Juli 2014
Another Set of Wings
Denting suara alunan nada membawa kembali pada satu kisah yang selalu berusaha aku singkirkan. Berusaha aku musnahkan hingga menjadi abu dan tertiup bersama debu. Akan tetapi, sadarkah kamu bahwa hadirmu selalu menjadi satu-satunya alasan yang membuatku mepertahankan deritaku. Ah, ini lucu. Tidak bagimu, tapi ya bagiku.
Tidak untuk seseorang yang tak tahu menahu soal memendam rasa hingga dadanya berongga. Tercabik hingga bernanah. Tersayat hingga berdarah.
Tuhan tak pernah memberi cobaan melebihi batas kemampuan. Dan percayalah, mencintaimu bukanlah cobaan bagiku. Melainkan anugerah meski hanya mampu melihatmu dari jauh.
Tiap kali untaian doa terlontar dari bibirku yang bergetar, aku berdoa untukmu. Menitikkan air mata dengan nafas memburu. Berdoa dengan suara samar bahkan nyaris tak terdengar.
Huft...
Aku menarik napas dalam. Melepaskan udara seraya menyebut namamu.
Sialnya, dadaku selalu bergetar! Selalu ada perasaan berat yang membuat air mataku tumpah!
Selemah itukah aku? Sebodoh inikah perasaanku?
Aku kembali menghelas napas. Dengan ketakutan aku tatap matamu, bertanya tentang masalah yang sedang aku dera. Berusaha untuk hanya menjadi temanmu. Berbagi kisahku dan mendengar kisahmu. Bukan kisah kita.
“Jadi, kalau
kamu jadi dia, kamu bakal menomor satukan siapa?”
Kamu
hanya diam. Berpikir.
“Aku
bakal bantu yang butuh dulu,” celetuk teman sebangkumu.
Aku terdiam. Kecewa dengan jawaban barusan.
Aku terdiam. Kecewa dengan jawaban barusan.
“Aku
nomor satukan dua duanya.”
Dan jawaban yang kamu sampaikan lebih dari cukup untuk menyadarkanku, bahwa kamu adalah orang yang akan selalu mencintai dan menghargai pasanganmu. Juga menghargai masalah sahabatmu.
Terima kasih sudah mengetuk pintu dan memberikan pesan padaku, bahwa Cinta dan Sahabat bagai sepasang sayap yang selamanya akan menuntun kita. Membawa kita lebih tinggi dari sebelumnya. Sedikit saja sayap itu terluka, maka kita akan jatuh. Hanya terluka atau malah jatuh di atas muara penuh buaya.
Dan jawaban yang kamu sampaikan lebih dari cukup untuk menyadarkanku, bahwa kamu adalah orang yang akan selalu mencintai dan menghargai pasanganmu. Juga menghargai masalah sahabatmu.
Terima kasih sudah mengetuk pintu dan memberikan pesan padaku, bahwa Cinta dan Sahabat bagai sepasang sayap yang selamanya akan menuntun kita. Membawa kita lebih tinggi dari sebelumnya. Sedikit saja sayap itu terluka, maka kita akan jatuh. Hanya terluka atau malah jatuh di atas muara penuh buaya.
-Juni 2014-
Jumat, 27 Juni 2014
Mengemas Benci
Aku masih sibuk mengemasi benci yang menumpuk didadaku tentang kamu. Berusaha menyimpan benci ini bersama harapan semu yang aku tanam dulu. Aku hanya ingin membangun kembali sekat yang sudah kita buat. Mengokohkannya sehingga kita tak pernah lagi bisa saling sapa. Saling tatap mata.
Masih segar diingatanku, ketika tiap kali ekor mataku mengikutimu. Dan kini, aku paham akan sesuatu yang disebut 'Pergi.' Bukan kamu yang memilih pergi, tapi aku. Perasaanku.
Aku tidak ingin mengatakan tentang keberadaan 'Kamu' yang baru. Namun, malam ini, aku hanya ingin bersumpah pada sang angin bahwa aku tak akan pernah menghela udara hanya untuk sekadar merindukan kamu.
Dan meski samar-samar kudengar deru petikan gitarmu, tak ada lagi perasaan yang merekah seperti dulu. Hanya mengingatmu, mengingat kenangan singkat tentang kamu. Singkat. Ya, sesingkat tatapanku dan tatapanmu yang selalu beradu.
Masih segar diingatanku, ketika tiap kali ekor mataku mengikutimu. Dan kini, aku paham akan sesuatu yang disebut 'Pergi.' Bukan kamu yang memilih pergi, tapi aku. Perasaanku.
Aku tidak ingin mengatakan tentang keberadaan 'Kamu' yang baru. Namun, malam ini, aku hanya ingin bersumpah pada sang angin bahwa aku tak akan pernah menghela udara hanya untuk sekadar merindukan kamu.
Dan meski samar-samar kudengar deru petikan gitarmu, tak ada lagi perasaan yang merekah seperti dulu. Hanya mengingatmu, mengingat kenangan singkat tentang kamu. Singkat. Ya, sesingkat tatapanku dan tatapanmu yang selalu beradu.
Langganan:
Postingan (Atom)


