Aku masih sibuk mengemasi benci yang menumpuk didadaku tentang kamu. Berusaha menyimpan benci ini bersama harapan semu yang aku tanam dulu. Aku hanya ingin membangun kembali sekat yang sudah kita buat. Mengokohkannya sehingga kita tak pernah lagi bisa saling sapa. Saling tatap mata.
Masih segar diingatanku, ketika tiap kali ekor mataku mengikutimu. Dan kini, aku paham akan sesuatu yang disebut 'Pergi.' Bukan kamu yang memilih pergi, tapi aku. Perasaanku.
Aku tidak ingin mengatakan tentang keberadaan 'Kamu' yang baru. Namun, malam ini, aku hanya ingin bersumpah pada sang angin bahwa aku tak akan pernah menghela udara hanya untuk sekadar merindukan kamu.
Dan meski samar-samar kudengar deru petikan gitarmu, tak ada lagi perasaan yang merekah seperti dulu. Hanya mengingatmu, mengingat kenangan singkat tentang kamu. Singkat. Ya, sesingkat tatapanku dan tatapanmu yang selalu beradu.
Jumat, 27 Juni 2014
Jumat, 18 April 2014
Dia, Kamu, dan Duniamu
Masih ingatkah kamu bagaimana kita bicara tentang pemusik kesukaan kita? Berlomba-lomba menyebutkan lagu apa saja yang kita tahu. Dan nyatanya aku kalah. Kamu jauh lebih tahu. Seluk beluk mereka, lirik lagu mereka.
Aku duduk di depan pohon kamboja berbunga merah muda. Di depan kelasku. Mengingat betapa sekat yang kini tercipta membuatku tak bisa leluasa. Bukan ini yang kumau. Tapi, arus itu menyeretku pada arus yang deras. Memecah arus kita menjadi dua. Ke sungai dan ke danau. Dan aku terjebak di arus yang berbahaya.
Sebuah pesan bertandang di layar handphone ku...
Aku hanya melirik sekilas seraya menghela napas. Entah mengapa perkataan salah seorang sahabatku kembali membuat nadiku berpacu.
"Kalau dia udah kayak gitu, kamu nggak bisa diam aja. Maju. Kamu udah terlalu sabar."
Aku melihat kamu datang dari kantin. Seperti biasa, wajahmu datar.
Sekali lagi aku merutuk diri sendiri.
Sebuah pesan kembali bertandang.
Aku bangkit dan mulai duduk di jajaran bangku. Kamu, ada di belakangku. Tenggelam dalam duniamu. Memeluk gitarmu seolah kamu jatuh cinta padanya.
Jemariku mulai sibuk membalas pesan. Akan tetapi, ketika untuk kali pertama, aku mendengar kamu bernyanyi, seluruh tubuhku membeku. Sebuah lagu cinta. Tak seperti lagu yang biasa kamu nyanyikan.
Mungkin saja kamu baru bertemu bidadarimu?
Tanpa kusadari, mataku berkelana. Ke arah gadis itu. Orang yang mungkin menyayangimu. Sama seperti kamu yang menyayanginya...
-Rain's Tears-
Senin, 31 Maret 2014
[Cerita Bersambung] Astrid & Reyhan : Bulan dan Bahasa Alam
Astrid.
Dalam kebisuan yang beradu dengan deru hujan, mataku berkaca-kaca memandang raga yang seolah tak bernyawa. Ia bernyawa, karena detak jantungnya, karena denyut nadinya, karena hela napasnya. Tapi, tidak dengan perasaannya.
Reyhan...
Lututku bergetar menyaksikan. Melihat ia nampak berbeda di tengah tawa yang menggema di sekelilingnya. Matanya yang dalam memandang langit-langit sayu. Dan itu cukup membuatku sadar bahwa ini adalah jalan yang salah. Dalam pelukan sang hujan, air mataku meluruh. Ada sesuatu yang membuat dadaku nyeri, seperti sebuah belati menyayatnya hingga terbelah dua.
"Astrid," sebuah suara membuat punggungku menegak. Kuseka air mata dengan punggung tanganku sesegera mungkin.
Kening sahabatku tertekuk, mengguratkan pertanyaan yang tak akan kujawab.
"Itu Mas Reyhan kan? Olahraga?"
Aku hanya tersenyum getir. "Buruan balik. Pak Putra udah di kelas."
Reyhan.
"Han..." lelaki berkulit putih langsat itu menekuk kening. "Han!!!!"
Aku tersentak. Berjuta bayangan yang berlalu lalang di benakku menghilang. Bukan berjuta. Melainkan sebuah bayangan yang menggerogoti benakku. Kamu.
"Masalah apa, Han? Astrid? Kalian masih baik-baik aja kan sampek sekarang?"
Salah satu sudut bibir ku terangkat. Kemudian aku mengangguk samar. "Kita baik-baik aja."
"Han, beneran? Sebagai teman kos, ada sesuatu yang keliatan beda, Han!"
Aku hanya tersenyum samar seraya bangkit. Membuat Rangga kian mengernyit. Sekilas kulihat kamu di sana. Dari balik pintu aula yang terbuka. Entah perasaanku atau memang ada kamu di situ, yang jelas hanya debu berterbangan yang tersisa di sana.
Astrid.
Hujan baru saja berhenti berderai. Kupandang telephone genggam yang seolah sudah dikelilingi sarang laba-laba. Tubuhku mulai bergerak ke arah jendela di sudut kamar. Membukanya hingga kulihat sesuatu yang berbeda di angkasa.
"Bulannya indah."
Reyhan.
Aku baru selesai bergelut dengan angka dan rumus fisika. Aroma hujan yang masih tersisa, memaksaku melangkah keluar kosan. Langkahku terhenti ketika kulihat Bulan seakan memandangiku. Mengawasiku.
"Bulannya indah."
Astrid.
Aku menghela napas dalam dan panjang. Menikmati udara seraya menengadah menatap bulan.
Seandainya Mas Reyhan keluar sekarang...
Reyhan.
Ada sesuatu yang membuat nadiku berpacu lebih cepat tatkala melihat sang bulan. Sesuatu seolah berbisik padaku. Maka, dengan sendirinya jemariku mulai mengetik beberapa kata.
"Astrid, bulannya bagus malem ini."
Astrid.
Aku masih terpenjara dalam pesona sang bulan, ketika tiba-tiba telephone genggamku bergetar.
Pasti group kelas...
Dengan ogah aku meraih benda itu, hingga mataku terbelalak ketika sebuah pesan singkat datang dari Mas Reyhan. Darahku berhenti mengalir. Seketika waktu seolah terhenti. Menyisihkan kebetulan yang membuatku percaya akan kekuatan cinta.
Kita ada di bawah bulan yang sama. Memaknai bahasa alam tanpa pernah kita sadari. Dipayungi malam berbintang dengan aroma hujan. Maka, jika bulan dengan sejuta pesona itu bisa bicara, mungkin ia sudah berkata kepadaku tentangmu. Sebagai penyampai pesan mungkin?
To Be Continued...
Dalam kebisuan yang beradu dengan deru hujan, mataku berkaca-kaca memandang raga yang seolah tak bernyawa. Ia bernyawa, karena detak jantungnya, karena denyut nadinya, karena hela napasnya. Tapi, tidak dengan perasaannya.
Reyhan...
Lututku bergetar menyaksikan. Melihat ia nampak berbeda di tengah tawa yang menggema di sekelilingnya. Matanya yang dalam memandang langit-langit sayu. Dan itu cukup membuatku sadar bahwa ini adalah jalan yang salah. Dalam pelukan sang hujan, air mataku meluruh. Ada sesuatu yang membuat dadaku nyeri, seperti sebuah belati menyayatnya hingga terbelah dua.
"Astrid," sebuah suara membuat punggungku menegak. Kuseka air mata dengan punggung tanganku sesegera mungkin.
Kening sahabatku tertekuk, mengguratkan pertanyaan yang tak akan kujawab.
"Itu Mas Reyhan kan? Olahraga?"
Aku hanya tersenyum getir. "Buruan balik. Pak Putra udah di kelas."
Reyhan.
"Han..." lelaki berkulit putih langsat itu menekuk kening. "Han!!!!"
Aku tersentak. Berjuta bayangan yang berlalu lalang di benakku menghilang. Bukan berjuta. Melainkan sebuah bayangan yang menggerogoti benakku. Kamu.
"Masalah apa, Han? Astrid? Kalian masih baik-baik aja kan sampek sekarang?"
Salah satu sudut bibir ku terangkat. Kemudian aku mengangguk samar. "Kita baik-baik aja."
"Han, beneran? Sebagai teman kos, ada sesuatu yang keliatan beda, Han!"
Aku hanya tersenyum samar seraya bangkit. Membuat Rangga kian mengernyit. Sekilas kulihat kamu di sana. Dari balik pintu aula yang terbuka. Entah perasaanku atau memang ada kamu di situ, yang jelas hanya debu berterbangan yang tersisa di sana.
Astrid.
Hujan baru saja berhenti berderai. Kupandang telephone genggam yang seolah sudah dikelilingi sarang laba-laba. Tubuhku mulai bergerak ke arah jendela di sudut kamar. Membukanya hingga kulihat sesuatu yang berbeda di angkasa.
"Bulannya indah."
Reyhan.
Aku baru selesai bergelut dengan angka dan rumus fisika. Aroma hujan yang masih tersisa, memaksaku melangkah keluar kosan. Langkahku terhenti ketika kulihat Bulan seakan memandangiku. Mengawasiku.
"Bulannya indah."
Astrid.
Aku menghela napas dalam dan panjang. Menikmati udara seraya menengadah menatap bulan.
Seandainya Mas Reyhan keluar sekarang...
Reyhan.
Ada sesuatu yang membuat nadiku berpacu lebih cepat tatkala melihat sang bulan. Sesuatu seolah berbisik padaku. Maka, dengan sendirinya jemariku mulai mengetik beberapa kata.
"Astrid, bulannya bagus malem ini."
Astrid.
Aku masih terpenjara dalam pesona sang bulan, ketika tiba-tiba telephone genggamku bergetar.
Pasti group kelas...
Dengan ogah aku meraih benda itu, hingga mataku terbelalak ketika sebuah pesan singkat datang dari Mas Reyhan. Darahku berhenti mengalir. Seketika waktu seolah terhenti. Menyisihkan kebetulan yang membuatku percaya akan kekuatan cinta.
Kita ada di bawah bulan yang sama. Memaknai bahasa alam tanpa pernah kita sadari. Dipayungi malam berbintang dengan aroma hujan. Maka, jika bulan dengan sejuta pesona itu bisa bicara, mungkin ia sudah berkata kepadaku tentangmu. Sebagai penyampai pesan mungkin?
To Be Continued...
-Untuk sahabatku, Astrid & Mas Reyhan. Kalian adalah sepasang sayap merpati. Saling mengimbangi. Kalian akan terbang tinggi bersama. Melawan angkasa dengan semangat dan rasa saling percaya. Pasti. Tapi, nanti. Setelah kalian lalui badai ini-
Minggu, 23 Februari 2014
Alas Kaki
Aku memutar sebuah lagu lama yang kukenal dari teman sekelasku. Alunan gitar menyapa senyap udara. Begitu dalam dan tenang. Sebuah lagu dari maestro Indonesia. 'Iwan Fals'
Aku merinding menyimak suara berat sekaligus hangat. Seperti disetrum listrik, tubuhku seketika tak berkutik.
Andai kau ijinkan..
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku meiliki rasa
Aku memejamkan mata. Meresapi tiap makna yang melayang di otakku dengan seksama.
Cinta yang kupendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau telah memilih
Menutup pintu hatimu
Senyap.
Aku menghentikan alunan lagu tanpa kusadari. Sadar diri bahwa aku tak cukup kuat untuk menelan pahit sedini ini.
Hari ini adalah malam tahun baru. Malam di mana tahun akan bertambah satu angka. Tapi, apa yang akan berubah dariku?
Aku ingat ketika umurku masih belia. Dengan harapan buta, aku mengharapkan mimpi kosong terjadi. Dan kini aku tahu diri, mimpi itu akan selamanya kosong jika aku tak pernah berusaha mengisinya, mencoba merealisasikannya.
Waktu sudah beranjak jauh. Tapi aku baru melangkah sejengkal saja.
Saat ini aku berjalan tanpa alas kaki, berjalan dengan luka yang tercipta dari kerikil kecil dan serpihan kaca. Itulah yang membuatku tak pernah bisa melangkah lebih jauh. Namun tidak dengan hari berikutnya. Aku akan berjalan dengan alas kaki bernama 'Mimpi'. Berjalan lebih cepat dan tepat.
Maka aku kembali bertanya, apa yang akan berubah dariku di tahun 2014 ini? Jawabannya ialah, perasaanku. Perasaan yang rapuh.
Aku merinding menyimak suara berat sekaligus hangat. Seperti disetrum listrik, tubuhku seketika tak berkutik.
Andai kau ijinkan..
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku meiliki rasa
Aku memejamkan mata. Meresapi tiap makna yang melayang di otakku dengan seksama.
Cinta yang kupendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau telah memilih
Menutup pintu hatimu
Senyap.
Aku menghentikan alunan lagu tanpa kusadari. Sadar diri bahwa aku tak cukup kuat untuk menelan pahit sedini ini.
Hari ini adalah malam tahun baru. Malam di mana tahun akan bertambah satu angka. Tapi, apa yang akan berubah dariku?
Waktu sudah beranjak jauh. Tapi aku baru melangkah sejengkal saja.
Saat ini aku berjalan tanpa alas kaki, berjalan dengan luka yang tercipta dari kerikil kecil dan serpihan kaca. Itulah yang membuatku tak pernah bisa melangkah lebih jauh. Namun tidak dengan hari berikutnya. Aku akan berjalan dengan alas kaki bernama 'Mimpi'. Berjalan lebih cepat dan tepat.
Maka aku kembali bertanya, apa yang akan berubah dariku di tahun 2014 ini? Jawabannya ialah, perasaanku. Perasaan yang rapuh.
-2013
Midnight-
Langganan:
Postingan (Atom)



