Selasa, 12 Mei 2020

Pukul 3

Bangunkan aku pukul 3 nanti,

Agar aku tahu rasanya menahan kantuk dengan lutut tertekuk

Bangunkan aku pukul 3 nanti,

Sembari meraba-raba sinar di ujung pintu yang berbunyi ketika kubuka, semua tahu bahwa ada insan yang sedang berusaha

Bangunkan aku pukul 3 nanti, lagi.

Jika kemudian aku enggan berlalu, kamu tahu bahwa kamu memiliki kuncinya meski susah payah kau cocokkan

Bangunkan aku pukul 3, sekali lagi.

Lantas, pada alas yang terlanjur basah, menunduk bukan jadi suatu masalah meski jelas matamu meragu

Aku bangun pukul 3 malam ini.

Seperti dedaunan kering di depan rumahku yang kusapu shubuh kemarin, atau cucian kering yang jadi kehujanan karena tidak jua ku pindahkan, aku, masih menjadi seseorang yang tanpa bosan bertanya.

Seperti Ramadhan yang seringkali kulewatkan dengan ibadah dan pahala alakadarnya, bodohnya, aku mengulanginya lagi dan lagi.

AC rusak di kamarku, tembok kamar yang baru sebulan di cat, lemari tua berisi album keluarga, jalanan yang lengang, petasan yang tak lagi terdengar, semua hal yang kutemui berubah. Barangkali, aku benar-benar harus mencari, menjadi apa aku pukul 3 nanti.

Selamat tidur

Sabtu, 31 Agustus 2019

Sleep, I'll meet you in your dream




Seseorang pernah bertanya padaku,

"Apa hal yang paling kamu takuti?"

Banyak.

Banyak sekali.

Masa depan,

Hal baru,

Ketidakpastian.

Dan kita tetap disini, mengelilingi padang rumput hijau dengan bertelanjang kaki. Tangan kananmu melawan langit, menunjuk satu awan paling raksasa kemudian kamu berteriak lantang.

"Lihat itu."

Ujarmu.

Tanpa rasa takut.

"Kita bisa jadi apa pun di sini."

Angin siang itu menyapu ujung pipiku, kemudian kamu raih tanganku dan berlari menuju sungai kebiruan tak jauh dari tempat kita berdiri.

"Kita bisa memiliki apa pun di sini."

Tak ada suara yang keluar dari pita suaraku. Hanya senyum lebar dan detak jantung yang kencang. Takjub dengan tanah yang ku pijaki saat ini.

"Kamu mau apa?"

Kali ini pertanyaanmu membuatku terdiam cukup lama.

"Aku tahu," belum sempat kalimat terujar, kamu menyodorkan sebelah tanganmu tepat di depanku. Seolah mengatakan 'raih tanganku'.

Aku menggeleng samar, ragu. Tak mau.

Kamu tersenyum lebar seraya mengangguk. Seolah bisa melihat ribuan ragu yang terbang di atas kepalaku.

"Everything will be ok. Trust me, right?"

Angin berhembus lagi.

Teduh.

"Aku takut."



Raut wajahku mungkin seperti gadis kecil 5 tahun yang kehilangan orang tuanya. Namun,

Tanganmu dengan cepat menarik lenganku yang meski enggan, pada akhirnya luluh juga.

"Kemana kita?" tanyaku akhirnya.

"Ke tempat paling tinggi di dunia."

"Eh? Kamu tahu kan aku takut ketinggian?"

Kamu hanya melirik ku dengan senyuman simpul yang sulit sekali ditebak.

Barangkali, jika bisa ku sebut, kamu adalah orang paling berani yang pernah ku temui.

Tak lama, aku bisa mendengar debur ombak dan kicau burung yang sibuk mencari makan untuk dibawa ke sarang.

"Di mana kita?"

"Di tempat, di mana kamu tidak akan pernah merasa takut."

Keningku mengernyit. Kembali meragu. Lagi.

"Aku bisa mengubah awan di sana menjadi es krim vanilla kesukaanmu."

"Bagaimana caranya?"

"Apa kamu percaya padaku?"

Kamu menyodorkan tanganmu lagi. Kemudian menarik tanganku.

"Kamu percaya padaku?" tanyamu, mengulang kembali pertanyaan yang belum kujawab.

"Bagaimana jika aku bilang, bahwa segala yang kamu inginkan ada di balik ombak beriak itu?"

Aku kembali terdiam.

"Kamu percaya padaku?"

Tanpa basa-basi, kamu meraih tanganku dan menjatuhkan diri ke tengah buih ombak kelaparan dari tebing yang sama sekali tak pernah kubayangkan seberapa tinggi.

Sleep,
I'll meet you in your dream
Sleep, 
We'll have fun in the scene

And we go catch the fireflies together
And we go fly the kite in the ocean
And we go jump and climb into the sky

Kemudian, aku terbangun

Pagi sekali, seseorang mengetuk pintu kamarku.

"Hey bangun, udah pagi!"

Sinar matahari datang dari sela-sela tirai kamar yang sengaja ku buka sejak semalam tadi. Suara gayung dan air samar-samar terdengar dari arah luar.

Di tangan kananku, masih terpasang jam tangan kayu dan kemeja kotak-kotak yang kupakai semalam. Tertidur aku rupanya.

Tiba-tiba, sebuah pesan datang.

"Good morning. I am sorry about yesterday. Maaf karna bikin kamu sebel, hope today will be better. Jangan lupa senyum, biar makin cantik."

Barangkali, mimpi indahku tak selalu indah. Begitu pula mimpi burukku, yang tak selalu buruk.

Sebab, aku hanya butuh 1 keberanian darimu untuk mengusir berjuta rasa takut yang kumiliki.

Selamat datang, selamat berjuang.


Kamis, 06 Desember 2018

Night Thought



Beberapa hari yang lalu, seseorang mengetuk pintu kamarku gusar. Tidak ada setitik pun jeda kudengar dari dentuman penuh kepanikan dibalik kaku-kaku jarinya yang kering, -sebab terlalu sering mencuci dan menyapu-, ia hanya terus mengetuk dan mengetuk.

Kubuka pintu kamarku sedikit ragu. Kemudian menerka-nerka apa yang sebentar lagi akan terjadi.

Seorang wanita paruh baya bermata dalam itu menatapku sendu.

"Mbak, saya minta tolong transferkan uang ini ke anak sama suami saya, Mbak."

Aku terdiam tak tahu harus bicara apa.

Orang bilang, mencampuri urusan orang lain adalah hal yang salah. Lalu, bagaimana jika ia meminta bantuan?

Belum usai kepalaku mencerna kalimatnya, ia kembali berkata lirih.

"Saya ndak boleh keluar sama Ibuk, Mbak. KTP saya diambil."

Setengah mati aku berusaha menyembunyikan guratan di tengah dahiku yang berjerawat itu pertanda bingung dan tidak percaya.

"Saya kebawah dulu mbak. Takut ibuk dengar."

Tidak ada hal lain yang aku lakukan selain mengangguk. Namun, sedetik setelah wanita paruh baya itu membenamkan 6 lembar uang lima puluh ribuan ke dalam genggamanku, aku terduduk lama di sudut ranjang dan tanpa sadar, aku, menangis.

Perihal rumah, ku dengar, ialah tempatmu merasa hangat ketika suhu udara disana dingin.
Perihal rumah juga, ku dengar, ialah tempatmu merasa nyaman bahkan ketika kau tak tahu menahu tentang apa yang akan datang menghardikmu di depan.
Perihal rumah jua, ku dengar, ialah rindu yang tiada pernah ada habisnya kau bisikkan meski debu menutupi setengah tubuhnya.

Aku mendengar semuanya. Tentang rumah. Tentangmu.



Barangkali, kita seringkali tidak pernah sadar. Atau bahkan sengaja untuk tidak menyadari.
Bahwa, bahagia bukan hanya soal materi. Lantas?

Hapeku berdering tak lama setelah tangisku mereda.

Seseorang dari kota nan jauh mengirimkan pesan singkat padaku.

"Aku udah lebih baik sekarang. Kangen Surabaya!"

Aku lega membaca sederet kalimat yang ia kirimkan.
Terlebih, ketika aku mengingat sebuah berita yang kawanku sampaikan beberapa hari lalu tentang kepergian orang-orang bahagia dengan cara yang tidak seharusnya.

Hari itu aku terduduk memandangi kaktus hijauku lama. Barangkali, berdiskusi di malam hari membuatku selalu merasa lebih baik. Namun, seseorang di sudut panggilan menyimpan suaranya dan memilih jalan yang berbeda.

Malam sekali, aku memilih untuk bicara dengan kening mencium lantai. Menanyai tentang hal apa yang harus kulakukan setelah ini. Meruntut satu persatu taliku yang mulai kusut. Tentang teman lama yang sedang berjuang setengah mati kemudian berniat untuk kembali, tentang seorang ibu yang setiap malam bertanya-tanya bagaimana cara menghubungi anaknya, tentang masa depan yang akan kupilih setelah mengisi selembar kertas pemberian ketua kelas, tentang passport yang kusembunyikan dibalik Al-Quran dan segala hal yang aku sama sekali tak mengerti bagaimana nantinya akan terjadi.

Ambisi ambisi menggebu.
Goals goals yang memenuhi dinding.
Harapan-harapan besar tentang impian lama yang sempat menjadi 'andai saja' hingga menjadi 'tinggal sedikit lagi'

Hari itu udara dingin. Namun aku tidak pernah membiarkan kipas di sudut ruanganku diam.
Di bawahnya, boneka kecil berbentuk kakek tua yang tengah tersenyum menarik perhatianku. Mengingatkan ku pada senyum seseorang.

Tanpa sadar, kedua sudut bibirku terangkat.

"Bukan perihal kemananya. Atau naik apanya. Tapi sama siapanya."

Perihal menjadi tua, aku selalu bertanya tentang bagaimana rupaku nanti ketika aku menginjak usia yang tak lagi muda.
Sudahkah dan mampukah aku melalui segala fase sulit yang kehidupan suguhkan nanti di depan?

"Matamu coklat. Stunning banget."

Hari ini, seseorang yang kukenal banyak terdiam. Kemudian, kudenger ia bicara, "Matamu kok nggak coklat lagi?"

Menjadi orang yang mudah menangis adalah hal yang sesebenarnya tidak aku inginkan.
Namun, boneka kakek tua kecil yang kupandangi lekat itu membuatku semakin berani. Bahwa, segala hal akan jadi baik-baik saja jika mau saling mengintrospeksi diri.

Cerita-cerita yang sampai ke telingaku barangkali tidak sepenuhnya benar dan sepenuhnya salah. Beberapa hal datang untuk membuat kita belajar. Beberapa hal juga datang untuk terus kita jaga agar tidak pudar warnanya.

Lantas, malam ini, di sudut ranjangku yang berdenyit, sekali lagi aku menyusun segala hal dari awal. Kemudian, aku tersenyum samar dan menyimpan benda yang semula ku pegang disamping ranjang.


Selamat malam

Sabtu, 20 Oktober 2018

Rumah; Waktu, dan Perjalanan



Ku bilang,

"Aku rindu rumah."

Suaraku nyaris tidak terdengar karna ditelan suara-suara pengunjung di sana.

Kamu kebingungan karna tiba-tiba, selepas tawaku yang panjang, sesuatu justru menitik deras.

Buru-buru kamu menghapusnya.

Namun yang ada, aku semakin terisak karna sebuah alasan yang kupanggil, Rumah.

Segelas teh yang kau pesan mungkin tidak se beku suasana malam itu.

"Kamu capek. Ayo pulang ya."

Malam sekali, kita terpaku di sebuah bangku yang hanya muat untuk kita berdua. Menyelami pikiran masing-masing hingga tenggelam.


Kuingat ketika masing-masing dari kita duduk dibalik kaca jendela, dengan silau lampu apartemen yang memandang kita satu per satu seolah menghakimi sesuatu yang sebenarnya tidak kita lakukan.

"Aku melewati banyak hal di masa lalu."

Aku melirikmu berulang kali. Matamu mulai menangkap gerikku dan mengernyitkan kening.

Kudengar semua hal jahat tentang kota dan apa-apa saja yang bersembunyi dibalik gang-gang gelap dan lembab.
Dan, seseorang yang kau pandangi itu, adalah gadis penakut yang dimatanya mudah sekali berkaca-kaca.
Namun, dengan segala keberanian yang ia simpan terlalu dalam, ia mencari-cari namamu dan meneriakkannya di tengah bintang yang dipandanginya tiap malam.

Barangkali, seseorang dari masa lalu datang hanya untuk menanyakan kabar dan memastikan bahwa mereka tak benar-benar kita lupakan.

Seperti itu cara kerjanya.

Malam itu, sebuah vas bunga memperhatikan perbincangan beku kita mengenai waktu dan perjalanan.

Pelan, ekor mataku menghadapmu lagi. Menangkap sudut hidung dan rambutmu yang sama sekali tidak asing dimataku. Yang selalu berhasil membuatku tersenyum kecil di sudut ranjang hingga nyaris terjungkal.

Aku meminta secarik kertas dan mulai menceritakan banyak hal.

Tentang kerinduanku pada rumah dan masakan keasinan.

Tentang sahabat masa kecil dan lecet yang kubuat akibat berlarian mengejar kereta api yang mengangkut tebu.

Tentang sebuah piala kecil dan sejarah bunga kamboja yang terpajang di foto fashion show ku

Tentang mobil tua pemberian bos ayahku dan banjir di tengah kota setinggi paha.

Tentang mayoret dan kebanggan bahwa aku pernah menjadi kurus dulu.

Aku selalu suka caramu menimpali.

Mengagumi setiap kisah yang masing-masing kita pernah lalui.

Barangkali, waktu dan perjalanan adalah kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Dan kamu,

Adalah sesuatu yang selalu amat kusyukuri kedatangannya.

Sebab, dibalik tangan yang kau julurkan, kulihat waktu dan perjalanan yang berdiri berdampingan. Datang dengan se bucket besar harapan dan pertanyaan-pertanyaan klise yang berulangkali kutanyakan, namun kamu selalu berhasil membuatku mengangguk tanpa jeda.

Aku selalu menjadi seseorang yang kekanakan.

Menjadi satu-satunya yang ingin dimengerti.

Akan tetapi, serupa racun, bisa jadi ia miliki penawarnya.

Membuat sesuatu yang kusut menjadi lurus kembali

Membuat sesuatu yang menakutkan menjadi penuh semangat

Membuat sesuatu menjadi lebih baik. Lagi dan lagi.

Aku memandangi wajah lelahmu lekat-lekat.

Kemudian kamu tersenyum.

***

Dan sekali lagi, dibalik lelapnya tidurku malam itu, seseorang bertanya.

"Lantas, kenapa dia?"

Aku tersenyum, seperti caramu tersenyum, dan menjawab.

"Karna, ketika kupandangi wajahnya, yang kuingat hanya satu.

Yaitu,

Rumah."

Selasa, 10 Juli 2018

"Sudah," jawabku.

Parallel lines
have a lot in common,
but they never meet.
Ever.
You might think that’s sad.
But, every other
pair of lines meets once
and then drifts apart forever
Which is pretty sad too….

Air pada gelas yang kuteguk ternyata sudah kosong sejak tadi, begitu aku usai membaca sebaris kalimat, yang tanpa kusadari telah menjadi berkalimat-kalimat.

Aku membuka sebuah kaleng bergambar keju. Kuharap ia menepati janji dengan tidak berisikan kerupuk dan sebangsanya. 

"Kamu beda, Sa."

Blar!

Ia benar-benar menepati janji.

Karna, aku menemukan sepasang wafer keju tersisa di sana setelah sekuat tenaga tanganku berusaha membukanya.

"Bisa jadi, itu ujian. Mungkin kamu lebih banyak ketemu sama seseorang yang ndak kamu kenal. Yang lagi duduk membelakangi kamu, mungkin? Tapi kamu terlalu fokus dengan satu kali pertemuan tanpa sengaja itu karna kamu mengenalnya."

Aku terduduk, tidak dapat bicara. 

"Kamu beda, Mas," gumamku, nyaris tak bersuara.

Banyak diantara kita yang enggan menutup pintu dan membuang kuncinya. Memilih untuk sekadar berdamai kemudian membuka tangan kembali untuk sesuatu yang sudah jelas ujungnya.

Malam itu, aku masih ingat wajahmu disapu udara dan cahaya lampu depan rumah yang cahayanya redup. Aku berdiri seraya memeluk tas kecoklatanku yang berdebu. 

"Aku serius," katamu.

Tanpa kau ketahui, sesuatu menggenang di mataku. Serasi dengan bibirku yang sesekali menahan tawa.


Aku selalu ingat caramu ketika panik. Kamu akan lupa semuanya. Benar-benar lupa. Bahkan untuk sesuatu yang teramat penting. Katamu, "Ada satu kok yang aku nggak pernah lupa."

Aku tertawa setengah ditahan. Berusaha jaga imej.

Juga, ketika aku berkata padamu, bahwasannya aku sedang kebingungan. Katamu,"Aku ke sana sekarang."
Aku tahu, jarak antara Sidoarjo dan tempat tinggalku saat ini tidaklah dekat. Jauh. Dan kamu menjadikannya bagai sekejap mata.

"Aku belum pernah kesitu," kataku.
Kemudian disela-sela waktu yang sebenarnya sedang mencekikmu, kamu datang.
"Nekad ya?"

Malam itu, aku terduduk dengan mukena lecet di mana-mana. Salah seorang temanku disamping tertidur hingga tersungkur. "Kamu tidur aja dulu," kataku.
"Kamu ndak?" tanyanya.
"Ndak, nanggung. Nanti aku di sini sampe shubuh ya."
"Kamu doa apa sih? Kok masih melek banget. Aku uda gakuat."
Aku tersenyum samar. 
"Sesuatu," kataku. 

Kemudian, aku ingat tentang sesuatu yang pernah ku baca disuatu tempat.
Bahwasannya, sepasang garis yang searah tidak akan pernah saling dipertemukan.
Begitupula dengan sepasang garis yang berbeda, mereka akan bertemu satu kali, kemudian saling pergi menjauh untuk kemudian tidak bertemu lagi. 
Tapi, tahu kah kamu? Kita ada di dataran bumi yang tidak rata. Kamu tau apa artinya? Akan ada kemungkinan kamu bertemu dengan titik-titik lain suatu saat. Nanti. Mengitarinya lagi dan lagi.



Semalam, selepas perbincangan panjang dengan sahabatku, sebuah pertanyaan datang.

"Kamu nyari yang gimana sih, Nis? Ini itu nggak mau."

"Yang kayak ayahku."

"Sudah nemu?"

Aku tersenyum teduh.

"Sudah," jawabku.


Senin, 11 Juni 2018

JUNI

“tak ada yang lebih tabah
 dari hujan bulan Juni
 dirahasiakannya rintik rindunya
 kepada pohon berbunga itu

 tak ada yang lebih bijak
 dari hujan bulan Juni
 dihapusnya jejak-jejak kakinya
 yang ragu-ragu di jalan itu

 tak ada yang lebih arif
 dari hujan bulan Juni
 dibiarkannya yang tak terucapkan
 diserap akar pohon bunga itu” 
 ― Sapardi Djoko DamonoHujan Bulan Juni


        Seseorang duduk di bawah pintu masjid itu dengan pandangan menelisik jauh. Sesekali kepalanya celingukan. Namun ia tidak benar-benar mengerti apa yang ia cari.

        "Rame banget ya. Perasaan tahun lalu nggak serame ini."

        "Itu dua tahun lalu, Kak."

        Dua tahun lalu?

        Gadis dengan mukena merah keunguan itu mereka-reka apa yang baru saja adiknya ucapkan. Dahinya mengerut tak percaya.

        "Serius dua tahun yang lalu?"

        Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut adiknya, ia nampak sibuk menata barang. Ditelusurinya sendiri ingatannya dengan kepayahan luar biasa. Tiba-tiba ia merasa haus.

Malam itu teduh. Lampu-lampu nampak dua kali lebih megah karna embun malam yang samar datang. Mungkin karena udara dipenuhi doa yang tiada ada putusnya. Ditapakinya paving-paving tua itu dengan amat hati-hati.

        "Minumnya di sana, Mbak."

        Seorang wanita paruh baya tersenyum seraya menunjuk sebuah galon aqua di sudut ruangan.

Hari itu ia baru saja selesai mengikuti sebuah acara. Lututnya linu, jemarinya pegal membawa kamera kesana-kemari. Namun ia selalu tidak ingin semuanya berlalu begitu cepat.

"Kamu serius mau kesana sendiri?"

Jalanan utama kota Surabaya nampak lengang. Bahkan, hanya ia sendiri yang melalui jalanan lebar itu. Udara yang terlampau dingin menusuk tulangnya yang gemetar menahan beku. Namun, hanya satu hal yang tertanam di hatinya mampu membuat ia berani memecah jalanan pukul 2 dini hari dengan penuh percaya diri.

        "Aku nggak mau ngelewatin satu malam pun," katanya, pada diri sendiri.

        Apa yang selalu kau kagumi tentang Juni?

        Apa yang selalu kau nantikan tentang Juni?

        Apa yang selalu kau takutkan tentang Juni?


Juni kali ini, ia jauh menjadi lebih tabah. Tentang terus berdoa untuk apa-apa saja yang terbaik baginya. Tanpa tahu waktu.

Juni kali ini, ia berusaha menjadi lebih bijak. Tentang memulai sesuatu yang baru tanpa takut untuk terjatuh.

Juni kali ini, ia mencoba untuk menjadi arif, Tentang membiarkan Tuhan yang maha mungkin atas segala yang tidak mungkin menjadi kendali paling besar dalam hidupnya.

Semuanya terlalu samar untuk mampu ia ingat. Dalam sujudnya yang semakin dalam, sesuatu menitik lembut. Diselanya, ia gumamkan doa dengan segala tenaga yang tersisa.

Di sepertiga malam di bulan Juni itu, ia sekali lagi belajar untuk menjadi seseorang yang lebih tabah, bijak, dan arif dari Juni-juni yang lalu.

Karna Juni, akan selalu menjadi alasannya untuk kembali.

Ramadan, sepertiga malam di bulan Juni

-Annisa

Rabu, 31 Januari 2018

Tentang Kotaku



        Surabaya.

        Kotaku hujan malam ini. Kulihat dirinya basah. Tidak seperti biasanya, yang gagah dan keras kepala, hari ini berbeda. Rupanya ia mengubah deru-deru yang membuat pening menjadi sesuatu yang dingin namun hangat disaat yang bersamaan. Kotaku tidak sedang terkena flu. Ia hanya sedang mencicipi sesuatu yang ia sebut, Rindu.

Kudengar seseorang telah mengatakan.

"Bukankah pelangi selalu muncul sehabis hujan?"

Gorden kamarku menepi tertiup angin.

Tidak ada satu pun yang bersuara menjanjikan pelangi selepas hujan dari dalam kepalaku. Tidak pula ada gumaman yang mengatakan bahwa sesuatu hal yang menjanjikan itu ada dan nyata. Ya, karna yang terjadi, pelangi tidaklah selalu muncul selepas hujan.

Semua yang kau miliki hanyalah satu, yaitu ketidakpastian.

        Kotaku beku ditapaki kaki-kaki yang berlalu pergi. Kemudian tak menjanjikan untuk datang walau hanya sebentar.
        Sedangkan aku, memilih untuk duduk disisi kiri kota ini. Menguliti sendiri kisah-kisah yang berlalu itu dan memanaskannya di dalam kepala.

        "Kamu mau apa?"

        "Aku pengen duduk di atas Rooftop."

        Angin itu datang seolah membisikkan sesuatu, yang anehnya malah membuatku merasa semakin hangat. Aku termenung dipeluk angin.

Pada titik lampu yang buram diujung pandangan, aku belajar tentang banyak hal yang tersembunyi di dalam kota ini. Apa-apa saja yang tak tergapai oleh mata. Tentang sebuah perjalanan yang bercabang-cabang.

        "Kamu berubah, Nis. Jadi lebih dewasa."

Sejujurnya, ketakutan yang diam-diam aku tahan ialah tentang tumbuh menjadi dewasa. Ketika datang masa di mana aku harus menjadi orang lain untuk menjadi diri sendiri. Ketika aku harus berpura-pura berani meski setengah mati kakiku gemetar dan kesemutan. Ketika aku harus lebih banyak memahami orang lain ketimbang memahami diri sendiri.


"Kenapa semakin dewasa kita, semakin berpikir logis dan takut untuk berpikir yang nggak masuk akal seperti ketika masih kanak-kanak dahulu? Kita selalu berani mikirin hal hal yang nggak masuk akal waktu kecil dulu. Kalau sekarang, harus logis."

Aku menggigit bibir bagian bawahku.

Tidak.

Tahukah kamu?

Justru, ketika kamu semakin dewasa, kamu akan menemukan hal tidak masuk akal yang sesungguhnya.

Kamu akan bertemu orang-orang yang mengatakan A namun melakukan B. Kamu akan bersapa dengan orang yang di kanan mengiyakan, namun di kiri menjatuhkan. Kamu akan menemukan orang yang melakukan kebaikan untuk menutupi kejahatan.

Leherku tercekat.

Merasa takut.

Sekeras itu kah menjadi dewasa?

"Nis, makan dulu."

Perbincangan ketika makan malam selalu menjadi perbincangan yang menyenangkan. Entahlah. Membicarakan remeh temeh seperti, "Sudah, kamu nikah duluan aja."

"Ih, masakannya keasinan. Kebelet nikah ini pasti."

Year and month are illusion that I keep count

Aku tertawa nyaris tersedak. Terkadang, mempertanyakan hal yang demikian membuat perutku geli sekaligus membuat kepalaku pening.


"Insya Allah aku habis dia lulus."

Kali ini aku benar-benar tersedak.

Tidak ada satu pun yang benar-benar menjamin apa yang akan terjadi besok. Bahkan ketika semuanya terlihat baik-baik saja hari ini. Aku, dia, mereka, mempunyai simpul simpul yang berbeda.

Tapi,

Aku selalu ingin jadi tangan tempatmu berpegangan. Mungkin aku tidak mampu membuatmu berdiri, namun aku bisa sedikit menghangatkan jemarimu yang kaku.


Jangan lelah, jangan putus asa.

Ceritakan apa saja yang kau tau tentang dunia. Apa yang kau mau. Apa yang kau inginkan.

Walau mungkin yang aku bisa hanya mengiyakan. Mengangguk meski ku tak mengerti.

Karna aku selalu menyukai Surabaya dan kisah-kisah perjuangannya.

Kisah-kisah tentang gerbong-gerbong kereta, tentang pertokoan, tentang rambu lalu lintas, tentang pusat perbelanjaan.


Semuanya. Seklasik apa pun ia.





"Kamu mau tau, sekeras apa kota Surabaya itu?"

Aku mengangguk yakin.

"Sekeras hati kamu."



31 Januari 2018



Annisa,
di sebuah malam saat Gerhana Bulan tertutup awan :')








Rabu, 27 Desember 2017

Kisah Persimpangan



Aku akan sedikit bercerita tentang kisah Persimpangan Jalan dan Lelaki Berpayung Teduh.

Ah bukan tentang penyanyi dan pencipta lagu itu.

Akan tetapi tentang lampu kota dan kisah tentang lelaki dan gadisnya.

Kisah ini dimulai dari ujung jalan. Di bawah remang cahaya lampu kota yang dikerubungi nyamuk. Tak ada yang spesial. Bahkan angin pun enggan datang barang sedetik. Hanya cicak dan beberapa hewan pemangsa serangga tertarik menghampiri. Ujung jalan itu terlalu beku untuk kau anggap sebagai tempat penerang. Tak ada angin memang. Tapi menyadari bahwa kau berdiri disana sedirian, adalah sesuatu yang membuat tulangmu kaku. Beku.

Mungkin kau berkilah. Ia tak jua berdiri di bawah temaram dengan tangan dijulurkan menawarkan kehangatan. Ah, sedang apa kau ini? Sedang apa berdiri di bawah lampu jalanan?

Benar, kau sedang merajuk rupanya.

Maka, tanyakan pada tuan yang berdiri disana.

Tuan, jika kau bisa bisikkan sebait kisah pada hujan, maka kisah mana yang akan kau pilih mewakili hidup pedihmu?
Tentang gadismu yang tak pernah berhenti bicara?
Tentang gadismu yang sering menangis diam diam?
Tentang gadismu yang suka ikut campur semua urusan?
Tentang gadismu yang tak seperti gadis lainnya?

Sedangkan aku, berdiri di sisi jalan dengan harapan penuh. Tidak jua kakiku melangkah menentukan tentang barat ataukah timur yang kupilih. Tentang pergi atau tetap berdiri.

Tentang menjadi lebih kuat dari hati yang lain, aku akan tetap terus berdiri disini. Memilih sisi yang di mana aku dapat merasa nyaman. Namun, tentang hal yang lain...

Bisa jadi, Tuan, kau adalah persimpangan yang gelap gulita di sana. Menjadi sarang para begal. Menanti mencari mangsa. Menanti mencari jiwa yang lelah. Namun setelahnya, mungkin kutemukan rumah.

Bisa jadi, Tuan, kau adalah persimpangan dengan sulur bunga merekah menjanjikan kebahagiaan. Namun setelahnya, mungkin kutemukan kandang anjing kelaparan.

Bisa jadi, Tuan, kau adalah persimpangan yang dilalui alir sungai tenang akan tetapi ditinggali oleh ikan pemangsa. Namun setelahnya, mungkin kutemukan apel segar dengan kekuatan mematikan sekali telan.

Tuan, perlu kau ketahui. Bahwasannya akan selalu ada persimpangan setelah persimpangan.

Bahwasannya akan selalu ada masalah setelah kau lalui ia sebelumnya.

Namun, bukan mengenai bisa atau tidaknya kau menaklukkan masalahmu, Tuan. Tapi, tentang dengan siapa kau melaluinya.

Tuan, bilamana kau bersedia menjadi racun sekaligus penawar, ijinkan nona muda ini memintamu untuk menjadi orang yang mengajarkannya menjadi lebih berani. Keluar dari sangkar yang entah di mana sang pemilik membuang kuncinya.
Ajarkan ia untuk berani mengambil keputusan besar, namun, kau datang dengan kekuatan agar membuatnya tak pernah mundur.

Tuan, gadismu tak akan pernah meminta untuk kedua kali. Maka mendengarkannya adalah sebuah keharusan.

Dan mencintai gadismu dengan sederhana, adalah sesederhana ia menemukanmu dalam tumpukan jerami dan menumbuhkan mimpinya bersama. Denganmu, Tuan.

Yang jelas...

Gadismu, hanya membutuhkan sebuah kepastian. Tentang kemana dan bagaimana kau akan membawanya. Jika kau ada di persimpangan jalan, jangan kau tunggu gadismu datang.
Tapi jemputlah ia dengan setidaknya membawa satu payung untuk sama-sama jadi tempat berteduh. Gadismu, yang menanti dengan harap harap cemas. Hanya menginginkan itu.

Sesederhana itu takdir, yang kau hampiri. Yang kau salami. Karna gadismu, akan menentukan pada persimpangan mana ia akan berlalu.

Ditulis,


27 Desember 2017

Minggu, 04 Juni 2017

Untuk Juni


.....

Pada sebuah Juni yang ku tunggu itu, Mei selalu datang dengan kisah-kisah tak terduga yang membingungkan.


Hei... Mengapa Juni selalu kau buat menjadi serumit ini, Mei?

        Tepat setahun yang lalu terakhir kali kubuka blog berjamur ini. Sekedar untuk mengenang Juni. Sekedar untuk mengingatkan, bagaimana arus itu pernah membawaku kemari.

        Aku baru saja merebahkan tubuhku di atas kasur begitu menyadari bahwa tiba-tiba saja hujan bertandang. Namun Juni sudah berdiri tepat dihadapanku. Mengemas ingatan terpendam dan menyuguhkannya. Gemericik di luar kamarku terdengar semakin menguat. Selaras dengan tamparan keras diwajahku. Hei, sudah berjalan sejauh mana kamu saat ini?


        Mendadak kepalaku abu-abu. Mengingat seseorang di rumah pernah berujar, "Jangan sampai kamu salah memilih. Jangan lagi. Cukup Mama saja."

        Tubuhku bergetar. Memilih adalah kelemahan terbesarku. Mengulang kembali kesalahan adalah ketakutan terbesarku. Dan melepaskan adalah...

        Pada sisa-sisa doa yang aku kemas setelah doa tentang kedua orang tua, tak pernah sekali pun aku luput untuk mendoakan tentang pilihan.

        Setiap tahun yang merangkak di sudut-sudut umurku, menjadi dewasa adalah kesusahan yang sedang berusaha aku upayakan. Dan menentukan pilihan, merupakan salah satu pintu yang harus aku masuki.

        Dan urusan cinta, mungkin jadi salah satu pintu yang saat ini masih tertutup rapat dan entah kutahu ada di mana.

        Apa yang kau ketahui tentang cinta? Sepasang kekasih yang bergandengan tangan dari fajar hingga terbenamnya matahari? Atau dua hati yang saling mendoakan dari kejauhan?
        Adakah hal yang lebih menyejukkan dari rasa khawatir seorang lelaki terhadapmu bila kamu tidak sedang bersama dia?
        Dan adakah hal yang lebih membahagiakan dari menyaksikan ia bahagia di sana?

        Sampai detik ini, aku masih mencari. Dimana makna makna itu terselip dibalik saku-saku celanaku. Mungkin kah ia yang memperjuangkanmu hingga lupa akan kesehatan diri sendiri adalah yang terbaik? Mungkin kah ia yang selalu menanyakan di mana kamu dan sudahkah kamu menjalankan ibadahmu? Mungkinkah ia yang dengan tangan terbuka menyediakan pundaknya meski beribu-ribu kesalahan kau perbuat untuknya?

        Tuhan, dengan segala kemungkinan di tengah ketidakmungkinan, telah menyiapkan jawaban yang kau bahkan tak pernah membayangkannya.


        Teruslah memperbaiki diri. Lagi. Lagi. Dan lagi.


        "Doa mama satu, kamu bisa dipertemukan dengan orang yang tepat dan di waktu yang tepat. Karna bisa saja orang yang tepat itu datang ketika kamu belum siap. Jadi, selama kamu menunggu, terus perbaiki diri."
-suatu hari di bulan Juni-

Jumat, 10 Juni 2016

Miracles: What Do You Wish For at Night?







        Baju-baju kotor itu berputar dalam pusara air kecoklatan. Seirama dengan kuncir kudaku yang acak-acakan. Anak rambutku melambai-lambai malu ditiup udara. Kaos keabuanku nampak basah diujung-ujungnya.

        Nafasku terhela. Lelah.

        Sesuatu yang menggantung di atas sana mencuri sudut mataku samar-samar. Sesuatu yang membuatku merasakan kehangatan merambat melalui pembuluh-pembuluh darahku.

        Bulan.

        Jingga itu menggantung tak tahu malu. Terlalu indah. Terlalu memesona.

        Malam ini, malam ke lima di bulan Ramadhan, sesabit bulan tengah tersenyum renyah ke arahku. Jingganya seolah menggambarkan rona-rona bahagia yang tak biasa. Ada api disana. Api yang entah mengapa membuat darahku mendidih tanpa kutahu alasannya. Sebuah percik api yang menyulut harapan baru.

        Deru-deru mobil di luar sana menyeretku pada malam satu tahun yang lalu. Tentang percakapanku di tengah konser-konser kesunyian. Ah, aku benar-benar berdiri di sini. Lagi. Dengan harapan-harapan yang tiada habisnya. Bodohkah aku?

         Tanpa aku sadari, bulan dengan jingga yang memerah itu tak lagi disana. Kemana ia barusan?

        Mataku sibuk mencari. Hingga akhirnya aku menyadari setitik bintang memandangku disana.

        Aku teringat tentang kisah-kisahku dulu. Kisah tentang seragam abu-abu, kisah tentang Annisa kecil yang susah makan, kisah tentang hari pertamaku masuk sekolah. Ah, apa aku sungguh telah melewatinya? Secepat ini?


         Ujian-ujian itu. Ketakutan-ketakutan itu.

         19 tahun yang lalu, sepasang orang tua dengan harap-harap cemas menanti suara tangisku pecah. Tangis yang menghadirkan harapan baru. Doa-doa dari mereka. Perhatian-perhatian dari mereka. Lantas, apa yang sudah aku berikan detik ini?

         Aku percaya, bahwa Tuhan tidak pernah salah menyiapkan skenario untuk hambanya. Meski sering diri ini bertanya.


         Masihkah ada keajaiban itu ditanganku? 

         Mampukah aku?

         Bagaimana jika blablabla?



         Mengutip dari post blog satu tahun yang lalu,

         "Lalu, masihkah aku berdiri di tengah-tengah pemain konser kesunyian, tahun depan? Atau, sedang berdebar menanti pengumuman? Atau telah berbahagia dengan senyuman bangga?

         Aku selalu mengagumi waktu yang bergerak tanpa seijinku. Dan kuharap, kali ini waktu mengijinkanku mengatakan dimana aku ingin ia membawaku. Dan kuharap, apa yang kumau adalah yang terbaik untukku dan masa depanku."



        Semoga kabar baik itu datang padaku.



        -11 JUNI 2016-
00.06 tengah malam. Malam ke 5 bulan Ramadhan.
Annisa.

       



       


        

     


       

Jumat, 25 Maret 2016

Aku dan Abu-abu



        Deret-deret bangku kantin itu hanya beberapa yang berjajar dengan benar. Buku-buku penuh coretan nampak terbuka pertanda dibaca. Aku duduk dan meletakkan tasku pada sebuah meja kosong. Mataku memandang teman-teman yang beberapa sedang membaca, namun beberapa lainnya tertawa. 

        Hari terakhir ujian sekolah itu datang. Riuh rendah menggema memenuhi lorong dan ruang kelas yang terbuka. Hari ini.




        XII IPA 6

        Selalu, ada sebersit senyuman sekaligus kesedihan yang entah kenapa tiba-tiba bersahutan ketika melihat tingkah konyol mereka.

        Membayangkan tak ada lagi yang akan bergerombol membicarakan sesuatu yang kita sendiri bahkan tak mengerti.

        Tak ada lagi kata "Cieee" yang kompak kita lontarkan.

        Tak ada lagi berebut makanan ketika kalimat "Rek, ada yang mau?" terdengar.
   
        Tak ada lagi seragam putih abu-abu.

        Tak ada lagi tidur ala ikan pindang di belakang. Semuanya.Tak akan ada hal yang terulang seindah yang lalu-lalu bersama mereka.

        Aku melihat langit yang keabuan di tengah-tengah berlangsungnya ujian. Kenapa semuanya terasa begitu cepat sekarang?

        "Whooooo, hari terakhir ujian!" salah seorang temanku berseru. Senyumku mengembang samar. Nyaris seperti kutahan. "Ayooo Dota!"

        Tak berangsur lama, satu persatu dari mereka pun pergi. Melewati jalan yang berbeda-beda. Termasuk aku yang memilih melewati jalan depan.

        Langkahku kaku. Langit yang keabuan seketika menjeratku pada kesedihan yang tak dapat aku jelaskan. Kesedihan begitu aku menyadari bahwa, dalam hitungan hari, perjuangan yang sesungguhnya tiba.

        Aku menatap langit. Ah, benarkah dunia ini sempit? Lalu, masih mungkinkah kami dipertemukan kembali?

        Angin berangsur datang. Dalam diamku aku bergumam.

        Teman, jika pada akhirnya kita harus pergi ke jalan yang berbeda, semoga kita dipertemukan pada ujung yang sama. Kesuksesan. 

       

        Masa SMA... Untuk sebuah kisah antara aku dan abu-abu. Antara aku... dan kalian.Ya, kalian.


-25 Maret 2016-
       

Senin, 13 Juli 2015

Paradoks


        Aku mengenal hitam. Aku juga mengenal putih.
        Aku pernah ke atas dan pernah ke bawah.
        Aku mengetahui apa itu api dan apa itu air.
        Aku paham apa itu logika dan apa itu imaji.
        Tapi...

        Bagaimana bila aku hanya mengenal satu dari keduanya?

        "...Bocah."
        Aku menghela napas. Dalam. Perlahan, pendar cahaya telpon genggamku meredup. Seketika gelap gulita.

        Hari ini aku belajar tentang paradoks. Sama seperti logika dan imajinasi yang selalu berseberangan di mata orang. Namun menjadi kesatuan yang tak terpisahkan bagi sebagian orang lainnya. Aku belajar mengenai paradoks tentang mencari dan dicari. Tentang menanti dan dinanti. Sama seperti membenci dan mencintai disaat yang bersamaan.


        Seseorang mengatakan bahwa ia bersandar pada logika. Ada pula yang mengagungkan imajinasi hingga lupa diri. Kemudian mereka dipertemukan. Sang logika menertawakan dirinya sendiri karena tak pernah secerdas imajinasi yang memikirkan bagaimana bila kita bisa pergi ke bulan. Tapi, tawa imajinasi tak kalah kerasnya. Ia menertawakan pikiran tak masuk akalnya yang terkesan seperti orang bodoh. Seperti pergi ke bulan dengan kuda mungkin?

        Karena perbedaan, kita saling mengisi.




        Seperti itik yang terjebak diantara barisan angsa. Ia bersedih. Merutuk diri sendiri. Mengapa aku tak secantik mereka? Mengapa aku buruk rupa? Mengapa mereka punya bulu yang cerah seperti mutiara? Hingga akhirnya seseorang memindahkan itik itu pada barisan ayam. Ayam-ayam yang berlumur sisa makanan.
        "Aku punya bulu yang lebih lembut dari mereka... Kenapa aku terus bersedih selama ini?"

        Dan karena perbedaan, kita belajar.

        Jemari panjangku menelusuri tiap inci telpon genggam dengan lincah begitu sebuah pesan datang. "Aku nggak ngerti, kenapa Tuhan bikin kita beda. Apa untuk saling bunuh-bunuhan?"
        Dahiku berkerut nyaris bersamaan dengan segaris senyuman.

      
        Kalian tahu?
        Mengapa harus ada perbedaan? Mengapa justru dengan perbedaan suatu hal dapat berpadu? Lantas apa gunanya kata 'berbeda' jika pada akhirnya kita bertemu di ujung yang sama?



         Kita semua adalah perbedaan. Terlepas dari siapakah yang benar. Kita hadir untuk saling melengkapi kekurangan dengan kelebihan. Kita memilih dan dipilih. Kita mencari dan dicari. Kita hidup dan akan mati. Kita mencintai dan membenci. Dan kita semua, adalah paradoks. Menjadi berbeda agar menjadi sama.
   


-Juli 2015. Lupakan-

Sabtu, 20 Juni 2015

Konser Kesunyian



        Aku masih menghitung jumlah bintang begitu aku tersadar, aku merindukan Bulan.

        Sejenak hening menyapa. Di mana bulan?

        Aku mengedarkan pandang. Menatap tiap sorot lampu jalanan. Bergantian.

        Ah, mengapa aku selalu mencari hal yang tidak ada? Sedangkan aku punya berjuta bintang disana.


    
         Mataku terpejam. Menyaksikan konser kesunyian ini sekali lagi. Terjebak diantara memori dan ketakutan akan masa depan yang terus bersahutan. Gaduh. Riuh.

        Setitik cahaya bintang yang temaram mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Gadis kecil manja yang takut pada boneka berbentuk manusia. Barbie. Sesuatu yang kemudian membuatku muntah. Aku tertawa dalam hati. Menertawakan phobia tak masuk akalku.

        Setitik cahaya bintang lain yang lebih terang menggiringku pada memori ketika aku beranjak remaja. Masa dimana aku mulai berani bermimpi tentang pangeran berkuda. Membayangkan mereka datang dan memberikan sebucket bunga. Atau bernyanyi lagu cinta ciptaan mereka di bawah bintang dan bulan bertemankan gitar. Aku tertawa lagi. Lebih keras.

        Terlalu banyak impian yang aku tuliskan, dulu. Tapi...

        Mataku terpejam.

        Bermimpi di umurku yang tak lagi belia seolah menjadi ketakutan baru. Mungkinkah mimpi itu menjadi nyata? Tidakkah itu sulit untukku? Mampukah aku? Kamu gila?
        Imajinasi dan logikaku mulai bercampur aduk. Seolah terbangun dari tidur malam yang panjang, dan aku tetap harus menghadapi kenyataan.

        Malam ini, aku kembali terduduk bisu. Mengamini tiap celoteh alam dengan bungkam.


        Kamu tahu? Aku selalu benci ketika aku menyadari aku sudah ada di bulan Juni. Tidak. Aku bukan membenci bulan ini. Aku hanya membenci ketika aku sadar, aku tak sedang di dalam pesawat dengan titik hujan dan cahaya bandara yang menyilaukan mata. Entahlah, sulit untuk menjelaskannya.

        Lalu, masihkah aku berdiri di tengah-tengah pemain konser kesunyian, tahun depan? Atau, sedang berdebar menanti pengumuman? Atau telah berbahagia dengan senyuman bangga?

         Aku selalu mengagumi waktu yang bergerak tanpa seijinku. Dan kuharap, kali ini waktu mengijinkanku mengatakan dimana aku ingin ia membawaku. Dan kuharap, apa yang kumau adalah yang terbaik untukku dan masa depanku.


11 Juni 2015



Kamis, 30 April 2015

Repost: Cloud(s) (20 Februari 2013)


Little quotes from: Cloud(s)

        Sang roda waktu mungkin terlihat bisu, tapi mereka bahkan tak pernah sekali pun diam. Mereka bicara dan terus berkata. Ada celah di mana kamu harus mengingat, sesuatu yang bisu tak selalu bebas dari suara. Seperti bahasa-bahasa yang tercipta antar manusia atau manusia dengan lingkungan. Seperti juga lampu merah di jalanan. Mereka bicara. Mereka menyampaikan sesuatu. Walau terlihat bisu.

Reason


        Bibirku mengulum senyuman sinis. Memandang inci demi inci angka yang tertera di sana diam.

        Hujan. Ia berkawan dengan petir kali ini. Membuat alunan nada yang bergema di ujung telingaku tersamarkan. Jemariku melempar jauh kalendar ke atas ranjang. Tersadar bahwa aku sudah merangkak jauh dan melupakan sesuatu yang tertinggal di belakang. Memilih untuk kembali? Merangkak?

        Tidak. Aku masih lebih dari waras untuk kembali dan merangkak lagi.

        Sejenak hujan mendekam ketika earphoneku tak lagi bersuara. Seolah sepasang kaktus di atas meja menertawakanku yang tak kunjung maju barang selangkah.

        Aku mendengus kesal. Alunan gitar yang kembali menggema seolah menahan air mataku untuk tumpah. Aku tidak benar-benar tau judul lagu apa yang aku dengarkan. Yang kutahu hanya nada-nada sendu itu mampu membuatku benar-benar menjadi diri sendiri.

        Reason.

        Kugigit bibir bawahku. Walau tak sebait lirik pun terdengar, entah mengapa otakku seolah melafalkan sesuatu.


        Reason.
        Aku memandang judul yang tertera. Diam.

        Semua berawal dari sebuah alasan. Alasan mengapa kita harus bernapas. Mengapa kita harus tidur. Mengapa kita harus melaju. Mengapa kita harus beristirahat.

        Bahkan alasan mengapa Tuhan memberikan cobaan.

        Mungkin juga alasan mengapa aku membeli dua kaktus kurus yang kini menjadi penjaga kamarku.

        Entahlah. Alasan adalah sesuatu yang dapat membuatmu memulai mau pun mengakhiri. Alasan adalah sesuatu yang mampu membuatmu berdiri tegak meski orang lain menolak. Alasan adalah sesuatu yang membuatmu melangkah lebih jauh walau kamu tahu ada beberapa biji paku.
       
        Bahkan untuk suatu hal yang kau anggap tak berasalan justru memiliki sejuta macam alasan. Benar bukan?
       

Repost: Alas Kaki (Minggu, 23 Februari 2014)


       Aku memutar sebuah lagu lama yang kukenal dari teman sekelasku. Alunan gitar menyapa senyap udara. Begitu dalam dan tenang. Sebuah lagu dari maestro Indonesia. 'Iwan Fals'
       Aku merinding menyimak suara berat sekaligus hangat. Seperti disetrum listrik, tubuhku seketika tak berkutik.

       Andai kau ijinkan..
       Walau sekejap memandang 
       Kubuktikan kepadamu 
       Aku meiliki rasa

       Aku memejamkan mata. Meresapi tiap makna yang melayang di otakku dengan seksama. 

       Cinta yang kupendam 
       Tak sempat aku nyatakan
       Karena kau telah memilih 
       Menutup pintu hatimu
        
       Senyap.

       Aku menghentikan alunan lagu tanpa kusadari. Sadar diri bahwa aku tak cukup kuat untuk menelan pahit sedini ini.
       Hari ini adalah malam tahun baru. Malam di mana tahun akan bertambah satu angka. Tapi, apa yang akan berubah dariku?
      
       Aku ingat ketika umurku masih belia. Dengan harapan buta, aku mengharapkan mimpi kosong terjadi. Dan kini aku tahu diri, mimpi itu akan selamanya kosong jika aku tak pernah berusaha mengisinya, mencoba merealisasikannya.
       Waktu sudah beranjak jauh. Tapi aku baru melangkah sejengkal saja.
       Saat ini aku berjalan tanpa alas kaki, berjalan dengan luka yang tercipta dari kerikil kecil dan serpihan kaca. Itulah yang membuatku tak pernah bisa melangkah lebih jauh. Namun tidak dengan hari berikutnya. Aku akan berjalan dengan alas kaki bernama 'Mimpi'. Berjalan lebih cepat dan tepat.
       Maka aku kembali bertanya, apa yang akan berubah dariku di tahun 2014 ini? Jawabannya ialah, perasaanku. Perasaan yang rapuh.
-2013
Midnight-
 

Template by Best Web Hosting