Senin, 05 Maret 2018

Untitled



        Hari ini jendela kamarku terbuka tiba-tiba. Tidak, aku tidak sedang membayangkan seseorang tengah mengintip dibaliknya. Karna, aku meletakkan sebuah benda kecil berwarna biru laut di sana. Sesuatu yang pernah membuatmu marah semalaman. Katamu, aku boros hanya demi seorang teman.

Apa yang kau harapkan dari gadis penikmat ketinggian yang takut akan ketinggian?

Juga dengan gemerisik suara gitar tuamu yang semakin terdengar sumbang.
Lagumu selalu sama. Lagu yang bahkan kau sendiri lupa apa liriknya.

Katamu, mungkin lebam hatimu saat itu.

Karna aku, yang membiarkan deretan lagu kita kusut.

Katamu, Iya nanti aku beli senar baru. Tapi nyatanya kamu bertahan dengan senarmu. Membiarkan nyanyianmu hilang di 'satu' nadanya hingga membuatmu menjadi terdengar kepayahan.

Bisa jadi, kalimat 'tidak sempat' menjadi sesuatu yang menancap dalam diubun-ubunku. Tapi ketahuilah, bahwasannya kalimat 'waktu kita salah' lah yang jauh lebih tepat.

Lampu kamar yang temaram itu menyala samar-samar. Lampu darimu, yang bahkan aku hanya mengatakan, "lampunya lucu." itu menjadi teman tidurku setiap malam. Katamu, itu bukan apa-apa.

Atau ingat ketika mobilmu terhenti di depan rumah dengan kaca terbuka setengahnya, menampakkan wajahmu yang setengah kelelahan namun aku tau tuan, kamu terus berusaha menahannya, katamu, "Kamu masuk dulu, baru aku pergi."

Atau tentang semangatmu yang menggebu ketika bicara soal Barcelona, katamu, "Ayo main PS lagiii."

Juga, dengan, Bara yang diam-diam aku simpan untuk hari ulang tahunmu. Namun kamu buru-buru membelinya juga. Katamu, "Gampang, nanti aku jual lagi." Entah pikiran kita yang searah, atau justru kebalikannya.

Kataku, "Kumis tipismu kok ilang."
Kamu, dengan tawa yang lebar berkata, "Keren kan. Biar nggak dipanggil bapak2."
Kamu dan aku tertawa hampir kram.

Setiap hari aku menghitung hal apa saja yang telah aku berikan padamu, Tuan. Bahkan ketika aku berhasil menemukannya, bintang di atas kepala kita gugur satu persatu. Kemudian mereka menghilang dihapus malam.

Kudengar kamu baru saja memasuki sebuah babak baru. Aku turut berbahagia mendengarnya. Katamu,
"Nanti kenalin ke aku ya dek."



Kali ini, aku mengerti, hal besar apa yang pernah aku berikan padamu.

Membiarkanmu bahagia, dan lebih bahagia.

Tanpaku.

Tuan, aku bertemu banyak sekali orang belakangan. Diantaranya menawarkan kebahagiaan, beberapa lagi hanya kuanggap angin lalu. Sisanya, memilih untuk bersabar menunggu, sedangkan aku tidak pernah mampu memberikan harapan barang setitik debu.

Tapi, Tuan, hari ini aku bertemu seseorang yang memanggil dirinya Robin. Haruskah aku mengenalkannya padamu?

0 komentar:

Posting Komentar

 

Template by Best Web Hosting