Senin, 26 Februari 2018

Konstelasi dan Kipas Berdebu




        Aku menyukai bunyi deru kipas itu meski terkadang terdengar memekkan telinga. Tidak tentang seberapa mengganggu ia. Atau seberapa berdebu tubuhnya.
Yang kutahu, ia hanya terus berputar untuk membuatku merasa sejuk tanpa pernah tau kapan aku akan mematikannya.

Semua yang pernah kutemui berjalan pada relnya sendiri. Berpindah.

Atau setidaknya mengusahakan apa yang bisa ia usahakan dengan caranya.

Akan tetapi, pada dasarnya, tidak akan ada hal yang dirasa cukup bagi akal manusia.

Terus dan terus. Lagi dan lagi. Kemudian kamu menyadari, bahwa yang kau cari adalah titik di mana sebelum kau memutuskan untuk mulai mencari.

        Adakalanya kau akan menemukan punggungnya berjalan menjauh. Semakin lama semakin memudar. Kemudian sedetik sebelum kamu ikut memaling, kamu ingat bagaimana caranya terakhir tersenyum.

Adhitia Sofyan -  Gaze

Suaraku yang sumbang sesekali memecah udara dingin di kamar. Seorang teman kosku berseru, "Konser, Nis?" dari balik kamarnya.

Sepulangnya aku tadi, tiba-tiba lampu di sudut jalan itu mati. Tepat ketika kakiku memasuki pekarangan rumah.

Ada ragu dan rindu yang mendadak bergemuruh.

Dan ia tumbuh seperti rerumputan dipekarangan rumah meski tak pernah kusirami.

Aku terduduk lagi. Mencoba mengurai teka-teki tanpa pilihan bantuan.

"Bintangnya kelihatan kalau di pantai."


"Ayo buat resolusi!"

"Hati-hati di jalan."

"Kamu nyebelin."

Aku melepaskan sepatu beludru hitamku dan menatanya di atas rak sepatu.

Aku sering merepotkanmu.

Membuatmu membatalkan apa yang sebenarnya ingin kau lakukan.

Di depan McD itu tidak biasanya banjir. Tapi, malam ini, genangan air setinggi lutut menggenang disana.
Entah kenapa, aku menangis di depan penjual bakso. Kamu terlihat panik, bingung. Kenapa aku tiba-tiba menangis. Kemudian kamu mulai mencari jas hujan untuk ku kenakan.

"Nanti kamu telat," kataku.

"Gak papa, temen-temenku masih nunggu kok."

        Kita adalah konstelasi. Yang mana, jarak-jarak lebar justru membuat kita menggariskan sebuah arti tanpa kita sadari. Terhubung dalam sebuah rencana besar yang walau sekilas tak pernah bisa terlihat masuk akal untuk sekedar saling dipertemukan. Akan tetapi, di luar dari kemampuan manusia memahami, rencana besar itu telah tersimpan disuatu tempat antah berantah.

Kemudian, kita. Sibuk mencari di mana semua itu tersimpan. Berkelana sejauh langkah kaki.

Dan, tersesat.

Lupa, bahwasannya masing-masing kita tidak pernah cukup membawa perbekalan.

Waktu itu hujan,

Tidak ada satu pun dari kita yang buka suara. Tenggelam dalam pikiran yang masing-masing kita tak pernah tau apa isinya.

"Fourtwnty, Kita Pasti Tua, enak tau gak sih."

Kamu sibuk menyetel lagu kesukaanmu.

"Bukan yang ini lagunya. Ini versi live. Kok gak ada ya."

Bibirku tersenyum samar.



"Iya, aku pernah denger lagu itu," jawabku pada akhirnya. Nyaris tergerus suara hujan.

"Aku juga kayak pernah denger sebelumnya."

Mobil kita terhenti saat lampu diujung jalan itu temaram kemerahan. Aku melirikmu sedikit, kemudian kembali tersenyum samar.
Aku selalu suka caramu serius memandang jalanan. Caramu mengganti gigi 1 ke gigi berikutnya. Kemudian kamu tertawa ketika mendapatiku memperhatikan.

Kudengar samar-samar kamu bernyanyi. Sementara aku sibuk menilik jalanan yang dirundung hujan malam itu. Tiba-tiba aku merasa pernah melalui ini semua.

Seperti apa kita nanti ketika tua?

Sudahkah kita menjadi seseorang yang bijaksana?

Aku menghela napas teramat dalam.

Akankah nanti, aku menjadi orang tua yang cukup bijaksana untuk anak-anakku?

Aku melirikmu sekali lagi. Kali ini jauh lebih lama. Seperti aku hendak melepas kamu untuk waktu yang panjang, tapi kemudian kembali bertemu untuk sebuah alasan yang tak terelakkan.

Aku tersenyum samar, lagi. Meski senyum itu berat kutarik ke atas.

"Lagu yang kamu suka itu aku duluan yang tau, tau gak sih," kataku.

"Masa sih?"

Tuan, mengharapkan apa-apa saja yang baik untukmu adalah keinginanku.
Membebaskan kamu memilih jalan yang hendak kau pilih, mengijinkanmu memahami medan yang ada di depan, memberimu ruang untuk menentukan, merupakan caraku menjabarkan tanya.
Menjabarkan hal-hal apa saja yang setiap detiknya memenuhi kepala ini.

Akan kah aku yang menjadi rumah di mana kita akan sama-sama menua?
Ketika kamu mulai membungkuk dan aku mulai pelupa.
Kemudian, kita akan sama-sama menertawakan perjalanan panjang kita dulu.

Sebuah petir tiba-tiba datang dan seketika membuatku tersadar.

Semuanya padam.

Kemudian, diam-diam aku berkata. Kenapa, kita?

1 komentar:

Herdudik Dikri mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

 

Template by Best Web Hosting